Connect with us

Sehat

Hadapi Gelombang Ketiga Covid, Indonesia Siapkan Molnupiravir

Published

on

Menkes Budi Gunadi Sadikin memberikan keterangan pers usai mengikuti Ratas mengenai Evaluasi PPKM, Senin (15/11/2021) siang, di Istana Merdeka, Jakarta. (Foto: Humas Setkab/Agung)

Jakarta (cybertokoh.com)-

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta agar semua pihak mewaspadai libur Natal dan Tahun Baru 2022. Jangan sampai terjadi terjadi lonjakan kasus. Monitor ketat harus terus-menerus dilakukan. Berdasarkan observasi Kementerian Kesehatan minggu lalu, terdapat 126 Kabupaten/Kota yang mengalami peningkatan kasus. Bahkan ada yang mengalami kenaikan hingga tiga minggu berturut-turut.

Dalam Ratas, Senin (15/11), perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia juga termasuk yang dibahas. “Dalam Ratas, Presiden menyampaikan, alhamdulilah kasus sudah menurun. Tapi, kita harus ekstra waspada terutama menghadapi Nataru,” ujar Budi Sadikin mengutip pernyataan Presiden yang juga meminta dilakukan montor ketat terhadap daerah-daerah yang mengalami kenaikan.

Dalam kesempatan itu, Menteri Budi juga menyinggung tentang obat Molnupiravir yang diharapkan tiba di Indonesia pada akhir tahun ini.
Molnupiravir merupakan salah satu obat antivirus yang semula dikembangkan untuk penyakit influenza, namun kemudian obat ini diperkirakan efektif dalam penanganan Covid-19. Cara kerja obat ini adalah dengan memicu kesalahan dalam proses perbanyakan virus di dalam tubuh.

Advertisement

Mengutip website resmi WHO, Molnupiravir merupakan obat antivirus oral yang berdasarkan hasil penelitian dapat mengurangi risiko rawat inap pada pasien Covid-19 bergejala ringan hingga sedang sebesar 50%. Jika nantinya obat ini disetujui penggunaannya, maka Molnupiravir akan menjadi obat oral pertama untuk pasien Covid ringan dan sedang. Saat ini Molnupiravir sedang menunggu emergency use authorization (EUA) dari FDA (Food and Drug Administration) atau BPOM Amerika Serikat.

BACA  Remaja Perlu Tes HIV

“Mudah-mudahan tidak ada gejolak. Tapi kalau pun ada gelombang baru, kita sudah siap dengan obat-obatannya. Kita sedang menunggu terbitnya EUA yang diharapkan akan keluar diawal Desember ini,” jelas Budi.

Selain Molnupiravir, lanjutnya, Pihak Kemenkes dan BPOM juga terus mengkaji obat-obatan lainnya yang bisa mengurangi risiko untuk masuk rumah sakit bagi orang-orang yang terkena Covid-19.

Vaksinasi Covid-19 dan Prokes
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Budi juga menjelaskan tentang capaian vaksinasi Covid-19. Pihaknya menyambut gembira dengan capaian saat ini yakni sudah 216 juta suntikan yang diberikan kepada 130,6 juta rakyat Indonesia, 84,5 juta sudah mendapat vaksin dosis lengkap.

“Vaksinasi kita terus bertengger antara 1,6 hingga 2 juta suntikan per-hari. Diperkirakan, sampai akhir tahun mungkin bisa mencapai total sekitar 290 juta sampai 300 juta suntikan,” jelasnya.

Advertisement

Secara detail berdasarkan data Kementerian Kesehatan, per 15 November 2021, cakupan vaksinasi dosis pertama telah mencapai 130,62 juta orang (62,72%) dari 208,2 juta orang. Capaian vaksinasi dosis kedua telah mencapai lebih 84,55 juta (40,6%). Dosis ketiga atau booster bagi tenaga kesehatan telah diberikan pada sekitar 1,19 juta orang (81,11%).

BACA  Khasiat di Balik Daun Kelor

Jika melihat target WHO yang menyebut setiap negara untuk memvaksinasi sekurangnya 40% dari populasi pada akhir 2021 dan 70% pada pertengahan tahun 2022 maka Indonesia menjadi salah satu negara yang mencapai target (akhir tahun) lebih cepat. Namun begitu ada hal yang harus diingat bahwa cakupan vaksinasi bukan solusi tunggal untuk menekan kasus Covid. Tanpa dibarengi dengan pelaksanaan Protokol Kesehatan yang ketat, kasus Covid tetap berpotensi meningkat.

Hal tersebut juga disampaikan Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers perkembangan Covid-19 yang digelar WHO akhir pekan lalu. Ia mengingatkan tentang tengah melonjaknya kasus Covid di sejumlah negara, baik itu negara dengan tingkat vaksinasi rendah maupun negara-negara yang cakupan vaksinasi-nya tinggi.

“Ini adalah pengingat, seperti yang telah kami katakan berulang kali, bahwa vaksin tidak menggantikan kebutuhan akan tindakan pencegahan lainnya. Vaksin mengurangi risiko rawat inap, penyakit parah, dan kematian, tetapi tidak sepenuhnya mencegah penularan,” ujarnya.

Beberapa negara di Eropa, paparnya, saat ini memulai lagi dengan pembatasan-pembatasan guna menekan penularan dan mengurangi tekanan pada sistem kesehatan mereka. “Kami terus merekomendasikan penggunaan masker, jaga jarak yang disesuaikan dan proporsional. Juga pencegahan kerumunan, dll. Dan tentunya, mendapatkan vaksinasi bagi yang belum vaksin,” jelasnya.

Advertisement

Setiap negara, tegasnya, harus terus-menerus memonitor perkembangan situasinya dan mengambil langkah-langkah yang disesuaikan dengan keadaannya. Dengan tindakan yang tepat, setiap negara akan bisa menjaga keseimbangan antara menjaga transmisi tetap rendah dan menjaga masyarakat dan ekonomi mereka tetap terbuka.

BACA  Rudraksha untuk Kesehatan

Dr Maria Van Kerkhove, yang merupakan Pimpinan Teknis Covid-19 juga mengingatkan tentang pentingnya disiplin Prokes, bukan hanya vaksin. “Kami melihat di seluruh Eropa, di seluruh dunia, penularan meningkat. Transmisi didorong oleh begitu banyak faktor saat ini. Variannya, peningkatan pergaulan sosial yang dimulai beberapa bulan lalu,” ujarnya.

Pola yang kita lihat terjadi di seluruh Eropa, jelasnya, sama dengan yang terjadi di seluruh dunia. “Jadi, jika Anda mencabut aturan seputar penggunaan masker, menjaga jarak, menghindari keramaian, dll, maka Anda akan melihat virus berkembang dan itulah yang terjadi sekarang,” tegasnya.

Ingat, varian Delta masih ada. Varian ini 100% lebih mudah menular daripada varian sebelumnya. “Ini adalah virus paling menular yang pernah kita lihat sejauh ini,” ujar Maria. (Diana Runtu)

Advertisement

Sehat

Mereka yang Anti Vaksin Covid-19, Kini Berbondong-bondong Mengikuti Vaksinasi

Published

on

Dr. dr. Budiman Bela (kanan), Dubes EI untuk Belgia merangkap Luksemburg dan Uni Eropa Dr. Andri Hadi (tengah) dan moderator Wicky Adrian (kiri). Foto tangkapan layar twitter BNPB

Jakarta (cybertokoh.com)-

Terjadi perkembangan menarik dari program vaksinasi Covid-19. Belakangan orang-orang yang tadinya termakan hoaks sehingga menolak untuk divaksin Covid-19, kini berbondong-bondong minta divaksin.

Kabar gembira ini disampaikan Dr. dr. Budiman Bela Spesialis Mikrobiologi Klinik yang juga Anggota Bidang Penanganan Kesehatan dan Panel Ahli Satgas Penanganan Covid-19 BNPB dalam diskusi virtual ‘Ada Apa Dengan Covid-19 di Eropa’. Diskusi ini juga menghadirkan Dr Andri Hadi, Dubes RI untuk Belgia merangkap Luksemburg dan Uni Eropa sebagai pembicara.

“Ini adalah hal yang sangat positif sekali karena kita ketahui ini (vaksin Covid 19) jelas-jelas bisa menurunkan angka sakit berat dan kematian. Datanya sudah ada ya dari teman-teman di Sub Bidang Tracing Satgas BNPB, mereka sudah mendata dampak dari vaksinasi di lapangan,” kata dr. Budiman Bela.

Advertisement

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 2 Desember 2021, jumlah warga yang telah menerima vaksin Covid 19 dosis pertama sebanyak 140,8 juta, dosis kedua sebanyak 97,3 juta, dan dosis ketiga 1,2 juta orang. Target sasaran vaksinasi sebanyak 208,2 juta orang.
Protokol kesehatan dan vaksinasi, ujar dr Budiman, akan membantu membentengi masyarakat dari Covid-19. Kedua hal penting itu akan memberikan efek positif dalam menghambat kembang-biak virus.

“Jadi sekalipun kita terinfeksi, misalnya, kalau kita patuh memakai masker maka akan mengurangi kemungkinan menjadi sumber penularan buat orang lain. Begitu juga, kalau kita sudah divaksin. Jika pun terinfeksi maka virus tidak akan berlama-lama dalam tubuh kita. Nah menjadi sangat baik jika digabungkan, yakni penerapan Prokes dengan baik dan vaksin, kemungkinan transmisi menjadi jauh lebih rendah,” papar dr Budiman.

BACA  WHO Sarankan “Physical Distancing”. Ini Alasannya

Lebih jauh dipaparkannya, mutasi virus akan cepat muncul pada keadaan dimana virus diberi kesempatan untuk bereplikasi dengan baik dan salah satu yang dapat mengakibatkan virus dapat bereplikasi dengan baik adalah kondisi imunitas yang kurang baik. Namun jika seseorang telah divaksin maka virus tidak mendapat tempat yang baik untuk berkembang biak di dalam tubuh orang.

Karenanya, dr Budiman menyarankan masyarakat segera mendapatkan vaksin Covid-19. Ini bukan saja untuk melindungi diri sendiri tapi juga orang lain, termasuk orang-orang yang disayang.

“Jangan menunda-nunda, tolong segera vaksin. Jangan pilih-pilih vaksin. Semua vaksin yang tersedia adalah baik dan aman. Jadi cepat lah vaksin, karena itu akan menurunkan risiko kita apapun strain yang menginfeksi kita,” tambahnya seraya mengingatkan untuk tetap disiplin menjalankan Prokes meski sudah divaksin dosis lengkap.

Advertisement

Memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, juga membatasi interaksi dan mobilitas akan sangat membantu dalam menekan penularan virus Corona.

Kasus Eropa Pelajaran bagi Indonesia
Melambungnya kasus Covid-19 di sejumlah negara di Eropa bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia. Ketika kondisi kasus Covid-19 di sana sudah melandai, pemerintah melakukan relaksasi termasuk terhadap Protokol Kesehatan yang mengalami pelonggaran. Masyarakat bisa beraktivitas di area public tanpa masker, jaga jarak, dll. Walhasil, kasus Covid pun kembali meningkat tajam.

Dubes RI untuk Belgia merangkap Luksemburg dan Uni Eropa, Andri Hadi yang menjadi pembicara dalam diskusi ini menyebut, ada beberapa faktor kenapa kasus Covid kembali meningkat. Pertama adalah masalah vaksinasi, hal kedua adalah relaksasi yang terlalu cepat dan Protokol Kesehatan yang longgar.

“Saya ke Belanda bulan Mei lalu. Di sana jarang orang memakai masker. Itu sebelum summer. Saya sampai kaget. Karena di Belgia, umumnya, orang masih memakai masker. Tapi itu terjadi sebelum ada pengumunan pemerintah (soal kewajiban masker). Jadi di Belanda waktu itu jarang sekali orang pakai masker. Baik itu di dalam restoran, di mal, dll. Jadi menurut saya terlalu cepat relaksasinya,” papar Andri.
Sedang di Belgia, mulai ‘bebas’ masker dalam artian bukan ‘obligation’ (kewajiban) dimulai Agustus 2021. Masuk mal bisa tanpa masker. Tapi kalau naik transportasi umum wajib bermasker.

BACA  Dupa untuk Ketenangan

Karenanya, kata dia, apa yang terjadi di Indonesia, di mana masyarakat tetap Prokes meskipun kasus Covid tengah melandai, membuatnya bangga. “Kita bangga dengan bangsa kita yang tetap patuh mengikuti imbauan pemerintah untuk tetap memakai masker dalam segala aktivitasnya,” ungkap Andri.

Advertisement

Bicara vaksinasi di Eropa, kata Dubes Andri, memang rata-rata vaksinasi di sana tinggi. Seperti Malta, Portugal, Irlandia, semuanya di atas 80%. Tapi banyak juga yang masih rendah cakupan vaksinasinya, terutama di Eropa timur. Di antaranya; Polandia juga Kroasia. Jadi cakupan vaksinasi tidak merata, ada yang tinggi, ada juga yang rendah.

“Jadi kenapa jumlah kasus di Eropa saat ini tinggi, salah satunya karena vaksinasi yang tidak merata, juga terlalu cepat relaksasi,” jelasnya. Untuk diketahui, sebagian besar orang yang terinfeksi Covid-19 di Eropa adalah mereka yang belum divaksin.

Hal yang juga menjadi tantangan terkait vaksinasi adalah banyaknya kelompok anti-vaksin. Salah satu tertinggi adalah di Prancis. Ada data bahwa hanya 60% warga Prancis yang mau divaksin, selebihnya tidak.
Namun begitu, lanjut Andri, dengan terjadinya Gelombang Keempat Covid di Eropa, mungkin mereka kini berpikir ulang bahwa vaksin adalah kunci. Meski banyak kelompok anti-vaksin, namun sudah di’declare’ bahwa penyebab utama Gelombang Keempat Covid karena banyak orang tidak tervaksin dan itu mendorong orang untuk secepatnya mendapatkan vaksin.

BACA  Belajar dari Pandemi Flu Spanyol Doni Monardo Ajak Para Tokoh Bantu Satgas Covid-19

Selain itu, pemerintah di Eropa sekarang ini melakukan percepatan pemberian vaksin booster. “Yang tadinya rencana baru akan memberi vaksin booster pada 2022 dipercepat menjadi sekarang. Jadi begitu 6 bulan vaksin terakhir, warga sudah bisa mendapatkan booster, khususnya para manula,” ucap Andri.

Untuk diketahui, WHO menyatakan bahwa Eropa menjadi episenter pandemi Corona. Hal ini karena peningkatan kasus di sana yang meningkat drastic. Di Jerman misalnya, tertinggi dalam sehari 67.186 kasus. Juga kematian yang mencapai 446 kasus per-hari. Ini tertinggi yang dialami Jerman sejak awal pandemi.

Advertisement

Kondisi kasus yang melonjak tajam membuat fasilitas kesehatan kewalahan sehingga mengambil keputusan menunda tindakan-tindakan non-darurat dan lebih mengutamakan pasien-pasien positif Corona. Contohnya di Austria dan Belgia.

Di banyak negara di Eropa kini juga mulai melakukan pengetatan-pengetatan termasuk mewajibkan pemakaian masker pada masyarakat. Bahkan di Austria mulai Februari 2022 mewajibkan vaksin bagi seluruh warga negaranya. Austria menjadi negara pertama di Eropa yang akan menerapkan kewajiban vaksin bagi warganya. Di Austria pula, warga yang belum divaksin dilarang beraktivitas di luar rumah, kecuali membeli sembako.

Selain itu, ujar Andri lebih lanjut, Austria juga menerapkan system sertifikasi vaksin. Jadi kemana-mana harus menggunakan sertifikat vaksin, bahkan ada beberapa tempat yang selain menggunakan sertifikat vaksin, juga mengharuskan warga dites antigen. (Diana Runtu)

Advertisement
Continue Reading

Sehat

Jangan Tunda Vaksinasi Covid-19

Published

on

Vaksinasi Covid-19 untuk warga Badung (cybertokoh/Humas Pemkab Badung)

Badung (cybertokoh.com) –

Pengumuman vaksinasi Covid-19 untuk warga yang ber-KTP Badung atau berdomisili di Badung kembali diumumkan di WA Grup Banjar Samu, Desa Mekar Bhuwana. Hal ini untuk memberi kesempatan kepada warga yang belum vaksinasi.

“Vaksinasi dosis II yang dilaksanakan bulan Desember 2021 sudah diinfokan UPTD Puskesmas Abiansemal II yang mewilayahi Jagapati, Angantaka, Sedang, Mekar Bhuwana, dan Mambal. Silakan yang akan vaksinasi dosis II cek jadwalnya. Jangan tunda vaksinasi,” ujar Kelian Dinas Banjar Samu, I Gusti Agung Swadyaya, Kamis (2/12).

Ia berharap vaksinasi dosis II ini bisa berjalan lancar dan semua warga dusunnya mendapat vaksin Covid-19 dosis lengkap. Vaksin yang digunakan buatan AstraZeneca, Sinovac, Corona Vac, dan Biofarma.

Advertisement

Di saat pemerintah sudah memfasilitasi warga untuk vaksinasi, ternyata di beberapa daerah lain masih ada yang merasa tidak perlu vaksinasi. Mereka tidak mau vaksinasi dengan alasan sudah tua dan jarang bepergian atau tidak akan kemana-mana. “Tetangga saya bilang orangtuanya tidak perlu vaksinasi karena komorbid, sudah tua, dan jarang keluar rumah. Yang lansia memang jarang keluar rumah, tetapi ada anak dan cucunya yang tiap hari keluar masuk rumah. Siapa berani menjamin, mereka aman dari virus,” ujar Komang Putra, warga Gianyar.

BACA  JE Paling Sering Serang Anak-anak

Pengalaman Komang Triyanti lain lagi. Ia dan keluarga menunggu vaksin merek tertentu karena sudah mendaftar. Namun, karena vaksin tak kunjung tiba dan Covid-19 merajalela, mereka pun memilih segera vaksin dengan merek yang ada. “Kebetulan waktu itu kami ke mall. Ada vaksinasi Covid-19. Karena berencana liburan ke luar kota, kami ikut saja vaksinasi itu biar saat liburan sudah punya kartu vaksin. Selain itu, lebih baik segera vaksin sebelum Covid-19 menyerang,” ungkapnya.

Pandemi Covid-19 di Indonesia yang melandai menjadi momentum emas mempercepat capaian vaksinasi di berbagai wilayah. Akselerasi vaksinasi juga sangat penting untuk meminimalisasi dampak penyebaran varian baru Covid-19 yang sewaktu-waktu bisa datang ke Indonesia.
Kondisi pandemi yang terkendali saat ini, dianggap menjadikan masyarakat cenderung menunda vaksinasi. Terkait hal ini, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi menyebutkan, di beberapa daerah dalam 2 – 3 minggu ini terjadi penurunan jumlah penyuntikan vaksin per harinya.

“Kondisi penularan yang membaik, membuat masyarakat tidak buru-buru divaksin, mereka menunggu-nunggu dan memilih vaksin merek tertentu,” ujar Nadia dalam Dialog Produktif Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) – KPCPEN.

Nadia menekankan, semua merek vaksin yang beredar di Indonesia aman dan berkhasiat, sehingga masyarakat diminta segera melakukan vaksinasi dengan merek yang tersedia. “Semua vaksin sama baiknya, efek samping itu biasa sebagai reaksi tubuh kita saat dilatih vaksin untuk menstimulasi sistem kekebalan tubuh,” papar Nadia.

Advertisement

Mengenai pengaruh vaksin pada varian baru, Nadia mengemukakan, vaksin bisa mencegah kita sakit parah terhadap varian baru tersebut. Walaupun masih banyak yang harus diteliti terkait efikasi, namun efek proteksi vaksin tetap banyak dan manfaatnya lebih besar.
Selain itu, ujarnya, dengan semakin banyak orang divaksin, benteng kekebalan bersama juga akan terbentuk untuk melindungi kita melawan varian baru tersebut. Saat ini capaian vaksinasi nasional adalah sekitar 67% untuk dosis pertama dan sekitar 46% untuk dosis kedua. Sementara vaksinasi lansia masih perlu terus digenjot, karena baru mencakup sekitar 53% untuk dosis pertama.

BACA  Bali Siapkan Tujuh Ribu Tenaga Vaksinator

Guna percepatan vaksinasi lansia ini, dilakukan upaya mendekatkan vaksinasi kepada masyarakat, seperti sistem door to door dan Posyandu lansia. Selain itu, Nadia menekankan pentingnya terus melakukan sosialisasi dan edukasi agar para lansia bersedia divaksin, dengan menggandeng tokoh masyarakat, agama, media, juga memastikan tenaga kesehatan menyampaikan informasi yang benar. Tak kalah penting adalah perlunya inovasi dan pendekatan spesifik lokal sesuai kebutuhan, yang dapat dijalankan tiap daerah.

Nadia juga meluruskan persepsi keliru, lansia yang memiliki banyak penyakit penyerta maka tubuhnya lemah untuk divaksin. Justru sebaliknya, lansia dikatakannya harus dibantu imunitasnya melalui vaksinasi. Bahkan vaksin Covid-19 justru didesain untuk kaum lansia dan penderita komorbid, sehingga vaksin tersebut akan memberikan perlindungan yang diharapkan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam/Vaksinolog, Dirga Sakti Rambe mengungkapkan, penelitian menunjukkan, saat tingkat penularan di masyarakat rendah, maka efektivitas vaksin pada tingkat optimal. Ini kesempatan baik untuk meningkatkan cakupan vaksinasi karena kasus terkendali.

Mengingat saat ini vaksin Covid-19 dicari banyak negara, Dirga mengatakan, kita harus bersyukur Indonesia dapat memastikan ketersediaan vaksin meski bukan negara produsen vaksin. Maka dari itu, ia mengajak masyarakat segera vaksinasi, jangan pilih-pilih vaksin, sehingga jangan sampai ada stok vaksin yang terbuang.

Advertisement

“Di Indonesia saat ini pandemi terkendali, tapi selalu ada potensi timbulnya lonjakan kasus, terutama terkait mobilitas pada liburan Natal dan Tahun Baru, juga varian-varian baru yang menyebar di berbagai negara. Karena itu, masyarakat harus selalu terapkan prokes, patuhi aturan level PPKM di daerah masing-masing, dan optimalkan proteksi dengan vaksinasi,” tandas Dirga. (Ngurah Budi)

BACA  Kenali Penyakit Psoriasis

Continue Reading

Sehat

Vaksinasi Lindungi Diri, Keluarga, dan Masyarakat

Published

on

Suasana vaksinasi Covid-19 untuk warga Badung (cybertokoh/Humas Pemkab Badung)

Badung (cybertokoh.com) –

Vaksinasi menjadi salah parameter dalam pengendalian Covid-19. Berbagai upaya dilakukan pemerintah dalam menyukseskan vaksinasi. Sinergi dengan TNI/Polri, berbagai organisasi kemasyarakatan, serta instansi swasta pun digencarkan.

“Saya sudah tidak sabar untuk vaksinasi. Setelah proses transfusi darah selesai, barulah bisa vaksinasi Covid-19,” ungkap Iga Ardhini, warga Badung. Ia menuturkan dirinya sangat ingin vaksinasi, namun karena harus menjalani kemoterapi dan transfusi, vaksinasi pun tertunda.

Karena belum vaksinasi, aplikasi PeduliLindungi yang sudah diunduh di ponsel pun belum bisa dimanfaatkan. Jika harus bepergian, pengusaha tanaman hias ini harus membawa surat keterangan dokter.

Advertisement

Tak sabar ingin segera vaksinasi juga diungkapkan Mahendrayana. “Dosis kedua dijadwalkan Desember. Karena dosis belum lengkap kadang ada rasa khawatir. Inginnya cepat-cepat vaksin dosis kedua,” ungkap pria yang gemar bersepeda ini.

Ia pun disiplin menerapkan protokol kesehatan jika harus keluar rumah. Memakai masker medis, membawa hand sanitizer, serta selalu menjaga jarak menjadi standarnya. Ayah satu putra ini juga memilih bersepeda sebagai olahraga untuk menjaga tubuh tetap sehat dan bugar.

BACA  Diplomasi Vaksin, Upaya Kemenlu Mengawal Vaksinasi Covid-19

“Di masa pandemi ini penting bagi kita untuk melindungi diri, melindungi keluarga, dan melindungi masyarakat. Hal paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah disiplin prokes dan ikut vaksinasi yang sudah disediakan pemerintah,” ujarnya Minggu (14/11).

Terkait vaksinasi, Indonesia kedatangan dua tahap sekaligus vaksin guna mendukung
program vaksinasi nasional. Dalam dua hari kedatangan tahap ke-121 dan ke-122 ini, sebanyak 8 juta vaksin Sinovac dalam bentuk jadi tiba di tanah air.

Menurut Juru Bicara Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, vaksin tahap ke-121 tiba pada Jumat, 12 November 2021 dalam jumlah 4 juta dosis dan tahap ke-122 dalam jumlah yang sama tiba di tanah air pada Sabtu, 13 November 2021. “Lancarnya kedatangan vaksin membuat upaya percepatan dan perluasan program vaksinasi jadi lebih optimal,” ujar dr. Nadia.

Advertisement

Dia mengatakan, dengan kedatangan 8 juta vaksin ini ketersediaan vaksin aman. Hal ini sudah menjadi komitmen pemerintah untuk terus mendatangkan vaksin dalam rangka mengamankan ketersediaan vaksin di Indonesia untuk melindungi rakyatnya. Nadia menyebut, jumlah penduduk Indonesia yang telah divaksinasi terus bertambah. Pemerintah menargetkan sampai akhir tahun ini, setidaknya 123 juta penduduk Indonesia telah mendapatkan vaksinasi dosis lengkap.

BACA  Penuhi “Tangki Cinta”

Menurutnya, vaksinasi bukan sekadar upaya melindungi diri, melainkan juga untuk melindungi keluarga dan seluruh masyarakat.
“Segera lakukan vaksinasi untuk melindungi kita dari risiko sakit berat jika terinfeksi Covid-19 dan juga mencegah terjadinya lonjakan kasus,” tegasnya.

Ia mencontohkan, di banyak negara Eropa telah terjadi lonjakan kasus Covid-19. Seperti
yang terjadi Rusia dengan lonjakan lebih dari 35.000 kasus baru terdeteksi dalam 24 jam.
“Belajar dari situ, kita harus disiplin prokes dan segera lakukan vaksinasi. Ketersediaan vaksin aman. Pemerintah telah dan terus berupaya keras untuk memenuhi ketersediaan vaksin untuk seluruh sasaran,” ujarnya.

Selain itu, dr. Nadia mengajak seluruh pimpinan daerah harus bergerak lebih aktif dalam memantau setiap parameter penanganan pandemi secara berkala agar bisa mengambil langkah cepat untuk mengantisipasi lonjakan kasus. Parameter yang dimaksud seperti jumlah kasus aktif, positivity rate, dan Bed Occupancy Ratio (BOR). Pemda juga harus memperkuat cakupan vaksinasinya, 3T (testing, tracing,dan treatment), dan penggunaan PeduliLindungi di berbagai tempat, seperti mal, kafe, pasar, dantempat wisata. “Semua pihak harus berperan dalam penegakan protokol kesehatan sebagai bentuk antisipasi penularan Covid-19,” tegas dr. Nadia. (Ngurah Budi)

BACA  Mengenal Gangguan Bipolar

Advertisement
Continue Reading

Tren