Connect with us

Sekitar Kita

Masyarakat yang Terapkan Prokes Juga Pahlawan

Published

on

Peringatan Hari Pahlawan tahun 2021 ini bertepatan dengan Hari Raya Galungan. Peringatan di Kota Denpasar dilaksanakan dengan sederhana dan terbatas serta penerapan protokol kesehatan. (cybertokoh/Humas Pemkot Denpasar)

Denpasar (cybertokoh.com) –

Peringatan Hari Pahlawan tahun 2021 di Bali agak berbeda dari tahun sebelumnya. Selain karena pandemi Covid-19, peringatan Hari Pahlawan kali ini bertepatan dengan Hari Raya Galungan.

“Peringatan kami laksanakan dengan sederhana dan terbatas karena penerapan protokol kesehatan, namun tidak mengurangi makna dan semangat para pahlawan yang harus kita getok tularkan kepada generasi muda,” ungkap Plt. Kadis Sosial Kota Denpasar I Nyoman Artayasa, Rabu (10/11).

Dalam amanat Menteri Sosial RI dijelaskan, pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang hingga saat ini diperingati sebagai Hari Pahlawan hendaknya menjadi teladan bagi kita bersama. Hal ini utamanya berkenaan dengan tekad, kegigihan berjuang dan semangat pantang menyerah para pahlawan kita.

Advertisement

Semangat, tekad dan keyakinan para pahlawan hendaknya juga dapat menginspirasi dan menggerakan seluruh elemen bangsa guna mengemban misi bersejarah dalam mengalahkan musuh masa kini. Yakni kemiskinan dan kebodohan dalam arti luas. Hal ini sejalan dengan tema Hari Pahlawan tahun 2021 yakni “Pahlawanku Inspirasiku”.

Sementara itu dalam Siaran Pers Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) – KPCPEN, Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr.Reisa Broto Asmoro menyampaikan, pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa pahlawan masa kini ada di mana saja dan bisa siapa saja. Selain tenaga kesehatan dan relawan yang berjuang merawat pasien, sosok pahlawan juga dapat ditemukan dalam masyarakat yang disiplin protokol kesehatan, melakukan edukasi, mengubah perilaku, juga berkontribusi pada percepatan vaksinasi.

BACA  Badung Siapkan Hotel Berbintang untuk Karantina Pekerja Migran

“Memasuki bulan ke-21 menghadapi wabah Covid-19, inspirasi kepahlawanan dapat ditemukan di berbagai aspek kehidupan, baik pada masa genting dan darurat yang lalu, atau pada kondisi mulai membaik seperti sekarang. Pahlawan pandemi dapat ditemukan pada sosok tenaga kesehatan yang merawat kasus terkonfirmasi sampai lebih dari 90 persen-nya sembuh,” ujar dr. Reisa.

Seluruh masyarakat Indonesia yang turut berjuang mencari solusi, menggaungkan semangat untuk vaksinasi dan terapkan protokol kesehatan (prokes), juga merupakan pahlawan. Kedisiplinan prokes tersebut diantaranya ditunjukkan dalam pemakaian masker.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan RI dr. Siti Nadia Tarmizi menambahkan peringatan hari pahlawan harus menjadi momentum bahwa kita semua adalah pahlawan yang bisa berkontribusi dalam penanganan pandemi.

Advertisement

“Apapun posisi kita, kita harus mampu untuk mengedukasi, mengubah perilaku, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan dan vaksinasi Covid-19, serta memberikan apresiasi kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penanganan Covid-19,” ujarnya.

Terkait dengan peringatan Hari Kesehatan yang jatuh pada 12 November, dikatakannya, bisa dijadikan momentum fokus membangun diri, keluarga, masyarakat dan negara khususnya di bidang pembangunan kesehatan, sejalan dengan tema tahun ini yaitu “Sehat Negeriku, Tumbuh Indonesiaku”.
Terkait upaya pengendalian Covid-19 di tanah air, dr. Nadia mengingatkan walaupun sudah divaksinasi dan situasi pandemi semakin membaik, ia minta masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan agar tidak terjadi lonjakan kasus.

BACA  Telkomsel Pastikan Kesiapan Layanan Sambut Tahun Baru 2017

“Relaksasi berbagai kegiatan saat ini harus disikapi secara bijak. Kita semua harus selektif memilih kegiatan-kegiatan yang prioritas saja dengan mengedepankan protokol kesehatan sehingga tetap bisa sehat dan produktif,” tegasnya. (Ngurah Budi)

Advertisement

Sekitar Kita

Penyandang Disabilitas Masuk Prioritas dalam Vaksinasi Covid-19

Published

on

Vaksinasi untuk penyandang disabilitas di Kota Denpasar (cybertokoh/Humas Pemkot Denpasar)

Denpasar (cybertokoh.com) –

Hari Disabilitas Internasional dapat menjadi momentum percepatan vaksinasi bagi penyandang disabilitas. Pemerintah memasukkan penyandang disabilitas dalam prioritas vaksinasi Covid-19 dalam kategori masyarakat rentan. Kerja sama seluruh pihak sangat diperlukan untuk menyukseskan vaksinasi ini.

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, Reisa Broto Asmoro mengatakan, pemerintah memang menjadikan salah satu fokus penanganan kesehatan bagi penyandang disabilitas. Sosialisasi dan diseminasi informasipun kerap dilakukan dengan menggunakan bahasa isyarat.

Melalui Keterangan Pers yang ditayangkan dari Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) –KPCPEN, Jumat (3/12), dr. Reisa mengutarakan bahwa selama 76 tahun Indonesia merdeka, undang-undang selalu menjamin akses dan kesempatan yang sama bagi penyandang disabilitas, menjunjung prinsip bahwa setiap orang berhak atas akses pelayanan umum dan perlindungan, terutama di masa pandemi Covid-19.

Advertisement

“Pemerintah dari awal tahun ini sudah memasukkan kelompok disabilitas ke dalam prioritas vaksinasi Covid-19 dalam kategori masyarakat rentan. Arti masyarakat rentan adalah mereka yang harus pertama-tama dilindungi karena rentan mengalami komplikasi penyakit berat apabila tertular Covid-19,” lanjutnya.

BACA  Gubernur Bali Tinjau beachwalk Shopping Center

Kementerian Kesehatan, ujarnya, memperkirakan lebih dari setengah juta atau 562.242 penyandang disabilitas di seluruh Indonesia telah masuk sasaran vaksinasi. Pemerintah dikatakannya menjamin penyandang disabilitas dapat dilayani di seluruh fasilitas kesehatan, sentra vaksinasi manapun dan tidak terbatas pada alamat domisili KTP.

Kegiatan vaksinasi pun dikatakan Reisa dapat berjalan salah satunya dengan gotong-royong bersama berbagai komunitas, organisasi, dan pihak swasta untuk memobilisasi penyandang disabilitas dan juga lansia.

Karena pandemi belum usai, ia juga mengingatkan bahwa informasi pencegahan dan perkembangan terkini Covid-19 harus dipastikan sampai ke semua orang di seluruh pelosok Indonesia, termasuk mereka yang merayakan International Day of Disabled Persons pada 3 Desember 2021 ini.

“Pemerintah khususnya KPCPEN dan Satgas Penanganan Covid-19 sejak awal pandemi Covid-19 di awal 2020 lalu selalu memastikan juru bahasa isyarat selalu ada untuk membantu menyampaikan pesan-pesan pemerintah diterima dengan baik oleh semua kelompok masyarakat, termasuk mereka yang berkomunikasi dengan bahasa isyarat,” kata Reisa.

Advertisement

Pada kesempatan ini Reisa juga menyebutkan tentang varian baru Omicron dan betapa banyak yang belum diketahui tentang varian tersebut. Varian baru ini, katanya, masih dipelajari dan makin banyak negara-negara di dunia yang melaporkan adanya varian ini di pasien mereka. Ia tegaskan, pencegahan ketat lebih baik daripada penyesalan kemudian.

BACA  Simpel dan Anggun dengan Tengkuluk Lelunakan

“Yang kita ketahui adalah cara pencegahannya sama. Disiplin protokol kesehatan terutama memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas,” ujarnya.

Mengingat akan datangnya libur Nataru, Reisa juga mengajak masyarakat dukung pemerintah mengatur perjalanan luar negeri, menerapkan karantina yang sesuai, dan patuhi peraturan PPKM selama Nataru. Tak kalah penting, Reisa meminta masyarakat untuk mempercepat vaksinasi.

“Ayo vaksinasi bagi yang belum. Semua vaksin yang ada di Indonesia dijamin aman, bermutu, dan berkhasiat, karena disetujui Badan POM dan WHO. Terutama bagi kelompok disabilitas, partisipasi kita semua dalam program vaksinasi Covid-19 menunjukkan respon pandemi negeri ini inklusif tidak membeda-bedakan,” tegasnya.

Di Bali, perhatian bagi penyandang disabilitas khususnya untuk vaksinasi Covid-19 melibatkan TP. PKK. Ketua TP. PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster bahkan turun langsung ke lapangan untuk memastikan penyandang disabilitas mendapatkan pelayanan vaksinasi. “Kalau penyandang disabilitas tidak bisa datang ke sentra pelayanan vaksinasi, petugas kesehatan yang datang ke rumah penyandang disabilitas. Kita lakukan sistem “jemput bola” agar mereka terlayani,” ujar perempuan yang dikenal sebagai seniman multilatenta ini.

Advertisement

Tak hanya Ketua TP PKK Provinsi yang turun ke lapangan. Para Ketua TP PKK Kabupaten/Kota yang juga istri Bupati/Walikota juga ikut turun langsung bersama tim ke masyarakat. Hal ini merupakan bentuk perhatian terhadap penyandang disabilitas. Selain divaksinasi di rumah, penyandang disabilitas juga diberikan bantuan sembako. Pesan untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan cegah Covid-19 pun terus disampaikan untuk semua kalangan. (Ngurah Budi)

BACA  Galungan, BRI Siapkan Rp 352 Miliar

Continue Reading

Sekitar Kita

Tetap Waspada dan Terapkan Prokes, Solusi Cegah Omicron

Published

on

Selalu memakai masker merupakan cara untuk mencegah penyebaran Covid-19 (cybertokoh/Humas Pemkab Badung)

Denpasar (cybertokoh.com) –

Omicron menjadi trending topic di masyarakat. Belum usai Delta, kini muncul varian baru yang bernama Omicron. Berbagai kalangan pun memperbincangan varian yang disinyalir berkembang di Afrika Selatan ini.

“Saya selalu menonton berita di televisi tentang perkembangan Covid-19. Saat penanganan varian Delta sedang dilakukan, muncul varian Omicron. Ini membuat kita harus meningkatkan kewaspadaan,” ujar S.P. Udiyana, warga Dalung, Badung, Jumat (3/12).

Pensiunan ASN yang juga mantan kepala lingkungan ini menuturkan, perkembangan Covid-19 membuatnya terus meningkatkan kewaspadaan. Penerapan protokol kesehatan di lingkungan keluarga menjadi kewajiban. Memakai masker, menjaga jarak aman, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas merupakan hal wajib yang mereka terapkan. “Menjaga keluarga tetap aman merupakan hal priotitas. Kami sekeluarga juga sudah vaksinasi Covid-19 kecuali cucu karena usianya baru 10 tahun,” ungkap Udiyana.

Advertisement

Omicron juga menjadi topik bahasan Abhi dan Narendra sembari bermain game online. Dua siswa SMP di Denpasar ini mengetahui Omicron dari media sosial. Mereka berharap varian ini tidak sampai di Bali. “Kami sudah rindu bertemu langsung dengan teman-teman. Jangan sampai gara-gara Omicron, kelas online diperpanjang lagi. Kadang bosan juga di rumah terus, tapi mau gimana lagi, masih pandemi Covid-19,” ujar Abhi.

World Health Organization (WHO) telah menetapkan varian baru Covid-19, B.1.1.529 atau Omicron sebagai Variant of Concern (VOC) atau varian yang menjadi perhatian pada 26 November 2021. “Keputusan ini didasarkan pada bukti yang diberikan kepada TAG-VE bahwa Omicron memiliki beberapa mutasi yang mungkin berdampak pada perilakunya, misalnya, seberapa mudah menyebar atau tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya,” demikian penjelasan WHO.

BACA  Sesuaikan Tren Belanja Digital, XL Axiata Lakukan Hal Ini

TAG-VE adalah the advice of WHO’s Technical Advisory Group on Virus Evolution atau Kelompok Penasihat Teknis WHO tentang Evolusi Virus. WHO menjelaskan saat ini saat ini para peneliti di seluruh dunia sedang melakukan penelitian untuk lebih memahami seluk beluk varian Omicron.

WHO mengungkapkan berdasarkan bukti awal menunjukkan adanya kemungkinan terjadinya peningkatan risiko infeksi ulang dengan Omicron, yaitu orang yang sebelumnya terinfeksi Covid-19 dapat terinfeksi lagi dengan lebih mudah dibandingkan dengan varian lainnya. WHO pun bekerja sama dengan pihak terkait untuk mengetahui dampak potensial dari varian Omicron pada tindakan pencegahan yang ada, termasuk vaksinasi. WHO memandang vaksinasi Covid-19 tetap penting dan efektif untuk mengurangi penyakit parah dan kematian, termasuk melawan varian dominan yang beredar, Delta.

WHO mengingatkan untuk mengurangi penyebaran Covid-19 jangan lupa selalu menjaga jarak fisik minimal 1 meter dari orang lain, memakai masker yang pas, membuka jendela untuk meningkatkan ventilasi, menghindari ruang yang berventilasi buruk atau ramai, menjaga tangan agar tetap bersih, batuk atau bersin ke siku atau tisu yang tertekuk dan melakukan vaksinasi.

Advertisement

Pemerintah Indonesia telah mengambil sejumlah langkah untuk mencegah Omicron masuk ke Indonesia. Varian baru dari Afrika Selatan ini terkonfirmasi sudah menyebar di banyak negara dan dinyatakan WHO sebagai variant of concern. Pemerintah mengajak masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap waspada dan memperketat protokol kesehatan serta melakukan vaksinasi.

BACA  Tokoh Edisi 1044

Epidemiolog Masdalina Pane mengatakan WHO telah memasukkan Omicron sebagai variant of concern (VoC). Dengan tambahan varian ini, maka total VoC yang saat ini diketahui di seluruh dunia mencapai lima VoC. Meski kemunculan varian baru Covid-19 Omicron ini membuat masyarakat resah, pemerintah memastikan telah mengambil langkah cepat sebagai antisipasi, salah satunya dengan memperketat perbatasan dan kedatangan dari luar negeri. Kebijakan ini dilakukan sebagai langkah waspada untuk mencegah atau menghambat varian Omicron masuk ke Indonesia.

Epidemiolog mengapresiasi dan menilai baik kebijakan cepat yang diambil pemerintah tersebut. “Memang semua harus dilakukan cepat. Yang telah dilakukan pemerintah saat ini seperti menutup pintu masuk, sudah memadai,” ujar Masdalina.
Pemerintah telah dan akan mengambil langkah guna mencegah masuknya varian Omicron ke Indonesia. Memberlakukan larangan masuk bagi WNA yang memiliki riwayat perjalanan selama 14 hari terakhir ke Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Zimbabwe, Lesotho, Mozambique, Eswatini, Malawi, Angola, Zambia dan Hongkong. Daftar negara-negara bisa bertambah atau berkurang berdasarkan evaluasi berkala oleh Pemerintah.

Memberlakukan karantina 14 hari bagi WNI yang pulang ke Indonesia dan memiliki riwayat perjalanan dari 11 negara di atas. Meningkatkan waktu karantina bagi WNA dan WNI yang dari luar negeri diluar dari 11 negara tersebut menjadi 10 hari. Meningkatkan tindakan genomic sequencing, terutama dari kasus-kasus positif yang dari riwayat perjalanan ke luar negeri untuk mendeteksi varian omicron ini.
Selain kebijakan tersebut, Masdalina menambahkan ada beberapa hal yang juga perlu dilakukan untuk mencegah varian Omicron, di antaranya meningkatkan surveilans di daerah dengan sistem active case finding, mempercepat vaksinasi untuk mengejar target 70% cakupan pada akhir tahun, serta penguatan 3T, termasuk isolasi pasien dan karantina bagi kontak erat.

BACA  Bersepeda Jadi Gaya Hidup, Ini Harapan Ketua Samas

Selain itu, ia mengatakan bahwa semua pihak juga harus meningkatkan kewaspadaan dan penerapan protokol kesehatan dalam penyelenggaraan acara berskala internasional. “Harus ada surveilans khusus dan pembatasan mobilitas peserta hanya di venue acara,” ujarnya.
Apabila Omicron masuk, maka pembatasan tentu harus kembali diberlakukan. Masyarakat harus meningkatkan prokes 3M, dengan pemakaian masker dua atau tiga lapis. Selain itu, perlu menambah kapasitas ICU, juga memastikan akses obat serta oksigen harus tercukupi. (Ngurah Budi)

Advertisement

Continue Reading

Sekitar Kita

Pengendalian Pandemi Covid-19 Perlu Partisipasi Masyarakat

Published

on

Suasana sampling respons vaksin Covid-19 di Desa Mekar Bhuwana, Badung. (tkh/Ngurah Budi)

Badung (cybertokoh.com) –

Kegiatan vaksinasi Covid-19 terus digeber. Masyarakat yang belum vaksinasi terus diingatkan untuk vaksinasi, yang baru dosis I diingatkan tentang jadwal vaksinasi dosis II. Masyarakat yang dosisnya sudah lengkap pun diingatkan untuk tetap disiplin prokes.

Pemantauan terhadap masyarakat yang sudah vaksin juga terus dilakukan. Salah satunya dengan sampling respons terhadap vaksin Covid-19. “Saya sudah vaksin dosis II bulan September 2021. Kemudian masuk sebagai sampling untuk respons terhadap vaksin Covid-19,” ujar Gusti Putu Manik, warga Desa Mekar Bhuwana, Badung, Kamis (4/11).

Sampling darah itu dilakukan untuk menilai respons imun humoral seseorang yaitu antibodi terhadap Covid-19 baik pada penyintas Covid-19 maupun pada individu penerima vaksin. Pada penerapannya, tes serologi kuantitatif ini ada memiliki tiga kegunaan. Pertama, bagi yang telah vaksinasi Covid-19, dapat mengetahui apakah tubuh sudah memiliki imun atau belum memiliki antibodi Covid-19. Kedua, bagi penyintas Covid-19 bisa mengetahui apakah serologinya dapat memproteksi dirinya atau masih bisa terkena kembali. Ketiga, terapi plasma konvaselen, yaitu sebagai pendonor (orang yang sembuh dari Covid-19 dan sudah diuji dengan hasil negatif) bagi penderita/pasien Covid-19.

Advertisement

Manik menambahkan, dalam kegiatan yang berlangsung dengan disiplin prokes, masyarakat diingatkan tentang pandemi Covid-19 yang belum usai. Semua harus disiplin menerapkan prokes. “Semua komponen harus saling mendukung agar kita bisa melalui masa pandemi ini,” ujarnya.

BACA  Telkomsel Pastikan Kesiapan Layanan Sambut Tahun Baru 2017

Dari sisi pemerintah, meski pandemi Covid-19 telah melandai, pemerintah mengingatkan masyarakat untuk tidak abai, karena wabah ini belum betul-betul usai. Pada masa jeda seperti saat ini, selain terus meningkatkan protokol kesehatan, beberapa upaya dapat dilakukan masyarakat seperti percepatan vaksinasi serta peningkatan kesehatan fisik, mental, dan sosial. Selain itu, mengasah kesadaran dan kemampuan deteksi diri sebagai salah satu perilaku adaptasi kebiasaan baru.

Dalam Dialog Produktif Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) – KPCPEN, Anggota Satgas Penanganan COVID-19 Sub Bidang Mitigasi, Falla Adinda menyoroti pentingnya kemampuan setiap individu untuk menilai diri sendiri (self assessment) sebagai upaya melindungi diri dari risiko terpapar virus di masa pandemi.

“Semakin tinggi jam terbang kita dalam pandemi, akan semakin baik pula kemampuan kita menilai situasi sekitar,” kata Falla yang juga seorang dokter ini. Hal ini misalnya menjauhi tempat yang berpotensi adanya penularan atau menilai kapan aman untuk membuka masker.
Selain itu, Falla menegaskan, telah diketahui bahwa salah satu pemicu pertambahan kasus adalah peningkatan mobilitas. Berbekal pengalaman tersebut, ia mengimbau setiap orang untuk membatasi mobilitas, sehingga masyarakat tetap sadar bahwa Indonesia masih dalam situasi pandemi.

BACA  Satu Pasien Dalam Pengawasan Korona Dipulangkan

Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia M. Adib Khumaidi menyatakan, saat ini pandemi di Indonesia tengah berada dalam fase relaksasi. Meski terkesan tengah melandai, masyarakat harus tetap sadar bahwa pandemi belum selesai.
Ia menjelaskan beberapa upaya pengendalian pandemi tetap dapat dilakukan dalam fase relaksasi. Di antaranya, tetap disiplin protokol kesehatan untuk mencegah penularan, percepatan vaksinasi, serta membiasakan diri beradaptasi dengan perilaku baru yang harus diadopsi guna perlindungan kesehatan di masa pandemi.

Advertisement

“Masyarakat harus paham tentang kesadaran dan deteksi diri. Kedua hal tersebut, yakni awareness (kesadaran) dan self assessment (deteksi diri) adalah bagian dari upaya kesehatan sosial, yang berdampingan sama pentingnya dengan kesehatan fisik dan mental. Bila kita ingin menjaga keluarga, maka mulai dari diri kita dulu. Keluarga ikut, maka kita dapat turut melindungi masyarakat,” jelas Adib.

Bila kesadaran sudah muncul, katanya, maka fungsi pengawasan internal sudah tumbuh dalam tiap individu. Di sinilah terjadi perubahan perilaku masyarakat untuk beradaptasi terhadap Covid-19. Adaptasi kebiasaan baru termasuk dengan menghindari hal-hal yang memungkinkan kita terpapar. Agar tidak terjadi lonjakan kasus, menurut Adib ada beberapa hal dapat dilakukan, yakni 3M yang ditingkatkan jadi 5M (Memakai masker, Menjaga jarak, Mencuci tangan, Menjauhi kerumunan, Membatasi mobilitas), memperhatikan ventilasi-durasi-jarak saat beraktivitas untuk mengurangi risiko terpapar, 3T (tracing, testing, treatment), serta vaksinasi.

BACA  Borneo Extravaganza 2019 Pamerkan Keindahan Kalimantan di MBG

Ia menyatakan bahwa kunci penanganan pandemi ada di tangan rakyat. Seluruh upaya pengendalian pandemi tidak akan berhasil tanpa partisipasi masyarakat. Masyarakat harus menjadi garda terdepan, dapat menjalankan fungsi skrining komunitas dan triase komunitas.
“Masyarakat jangan lengah, tetap jaga protokol kesehatan. Jaga kesehatan dan daya tahan tubuh. Sampaikan ke semua pihak, pandemi belum selesai. Bila ada gejala Covid-19, segera lapor,” ujar Adib. (Ngurah Budi)

Advertisement
Continue Reading

Tren