Connect with us

Life Story

Kisah Rina Berjuang di ‘Zona Hitam’ Kudus

Published

on

Jakarta (cybertokoh.com) –

Masih ingat kasus Kudus? Kabupaten yang berada di Jawa Tengah. Daerah yang dikenal tenang dan damai ini, tiba-tiba menjadi perbincangan masyarakat seantero negeri lantaran lonjakan kasus Covid-19 yang menggila pasca Idul Fitri 2021.

Tiap hari berita-berita seputar Covid-19 di Kudus menghiasi media massa. Antrean warga yang positif Covid untuk bisa segera mendapat perawatan menjadi pemandangan yang menyedihkan. Masyarakat membludak bukan hanya di ruang tunggu tapi hingga ke pekarangan rumah sakit.

Mobil-mobil warga yang membawa pasien pun ikut mengantre. Bahkan dalam tayangan televisi tampak warga yang sakit dibawa dengan mobil pick-up berada di bak belakang dalam kondisi memprihatinkan. Sungguh luar biasa kejadian kala itu. Sekitar akhir Mei-Juni 2021.

Advertisement

‘Kota Santri’ yang tadinya ‘adem ayem’ berubah menjadi zona merah, bahkan beberapa wilayahnya sudah masuk ‘zona hitam’ lantaran tingginya kasus Covid di sana.
Saking banyaknya pasien, sempat muncul kabar kalau rumah-rumah sakit, fasilitas kesehatan sempat ‘goyang’. Pasalnya, bukan hanya warga yang terpapar tapi juga ratusan tenaga kesehatan.

Prof. Wiku Adisasmito, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, kala itu menyebut lonjakan kasus di Kudus berlipat-lipat. Dari sebelumnya 26 kasus naik hingga 929 kasus hanya dalam sepekan. Kasus aktifnya mencapai 21,48%. Persentase yang cukup besar jika dibanding kasus aktif nasional yang hanya 5,47%.

Nah di saat situasi yang menggila itulah Rina Ginting, wartawan senior yang kini aktif di bidang pelayanan rohani masyarakat gereja, memasuki Kudus. Tidak ada rasa takut, tidak ada keraguan.

“Ini pelayanan. Saya adalah ketua tim program pelayanan di bawah bendera Pura Berbagi Kasih yang berbasis di Kudus. Karena itu, tidak bisa tidak, harus tetap datang meski situasi kota ini tengah melonjak kasus Covid-nya,” ungkap Rina Ginting, warga Depok Jawa Barat, kepada Tokoh.

BACA  Ruben Onsu dan Keluarganya Diteror Makhluk Halus

Menurut Rina, dia memulai pelayanan di Kudus sejak Januari 2021 lalu. Saat itu situasi masih terkendali. Dalam artian, kasus Covid ada tapi tidak banyak. Mungkin karena rendah itu pula, penerapan Prokes oleh masyarakat menjadi rendah pula. Masyarakat merasa aman-aman saja.

Advertisement

Awal Bencana di Kudus
Di kampung-kampung masyarakat masih bebas kumpul-kumpul tanpa memakai masker. Juga berbicara antar tetangga tanpa masker dan jaga jarak. Aktivitas seperti biasa saja. Tapi, kondisi menjadi lain setelah Idul Fitri.
Kudus yang juga dikenal sebagai ‘Kota Para Wali’, banyak dikunjungi wisatawan luar daerah. Mereka melakukan wisata religi, mengunjungi tempat-tempat religious yang memang banyak bertebaran di kota itu. Datang berbus-bus atau dengan kendaraan pribadi juga transportasi umum.

Bisa jadi itulah awal bencana bagi Kudus. Masyarakat yang rendah pelaksanaan Prokes dan masuknya kunjungan orang dari luar daerah untuk berwisata. Virus Covid pun dengan cepat menyebar. Penularan virus yang sangat cepat itu, akibat varian Delta (B.1.617.2).
Varian Delta memiliki karakteriteristik penularan yang lebih cepat dibanding virus Covid aslinya. Sebuah penelitian menyebutkan, penularan Varian Delta 10-15 detik saat individu berapasan dengan orang lain tanpa memakai masker. Sementara Covid sebelumnya membutuhkan waktu 10-20 menit untuk menular ke manusia.

Maka tak heran kalau lonjakan Covid di Kudus demikian dahsyatnya. Bukan hanya Kudus, sebenarnya, lonjakan dahsyat akibat Delta juga melanda banyak daerah lain di Indonesia. Dan itu membuat angka positif Covid Indonesia melonjak tajam, begitu juga kasus kematian.

BACA  Sudah Vaksin Lengkap tapi Masih Terpapar Covid

“Sebenarnya, saat Kudus melonjak, saya sempat pulang ke rumah (Depok, Jawa Barat). Pihak Pura juga menyampaikan kondisi di sana (Kudus). Mereka tidak meminta saya untuk meneruskan pelayanan dalam situasi seperti itu. Sementara keluarga saya juga mengingatkan tentang situasi ‘tidak kondusif’ di sana. Tapi saya memutuskan tetap berangkat. Keputusan ini saya ambil dengan penuh kesadaran, panggilan, juga rasa tanggung jawab sebagai ketua tim pelayanan,” tuturnya.

Tidak ada sedikit pun rasa takut atau ragu. Meski, kalau mau diingat pengalaman dirinya beberapa bulan lalu yang sempat divonis terpapar Covid. Padahal kala itu dia berobat ke rumah sakit karena maag.

Advertisement

“Saya sempat divonis Covid padahal datang ke rumah sakit karena masalah lambung. Saya dikasih obat-obatan Covid juga aneka vitamin. Tapi karena merasa tidak sakit Covid, obat itu tidak saya minum. Saya hanya minum vitamin saja. Keluar dari rumah sakit, saya lanjut isoman di rumah selama dua pekan. Setelahnya saya swab lagi, hasilnya negative,” tutur Rina panjang-lebar.

Namanya pernah divonis Covid, sungguh tidak enak. Tapi itu tidak membuat dirinya gentar untuk melakukan pelayanan ke umat yang sakit dan tidak mampu yang berada di Kudus.
“Jadi kami melakukan perkunjungan ke rumah-rumah warga gereja yang sakit non-Covid dan mereka yang terdampak pandemi. Juga kunjungan ke para lansia. Karena situasi tidak memungkinkan berlama-lama, kami berkunjung hanya sebentar, sekitar 15 menit. Melakukan doa bersama dan membagikan sembako. Itu saja. Tapi sebelumnya kami bagikan masker,” kata Rina yang saat dihubungi masih bertugas di Kudus.

Selain kegiatan perkunjungan, kata Rina, organisasinya juga beberapa kali menggelar vaksinasi massal serta bagi-bagi sembako untuk warga setempat. Harapannya semakin banyak warga yang tervaksin sehingga bisa melindungi dari serangan Covid.

BACA  Bangsa Maju Literasi Kuat

Prokes Ketat Tanpa Lengah
Melakukan perkunjungan kepada umat dalam situasi Covid yang sedang parah-parahnya, menjadi pengalaman yang luar biasa bagi Rina dan timnya. Yang namanya Protokol Kesehatan harus benar-benar diterapkan. Memakai masker, rajin mencuci tangan baik dengan sabun atau hand sanitizer, menjaga jarak, itu wajib dilaksanakan. “Sepekan sekali kami diswab,” katanya.

Untuk menjaga tubuh tetap fit, asupan makanan bergizi menjadi menu harian. Vitamin-vitamin penunjang kesehatan tubuh juga tersedia di mess. “Istirahat yang cukup dan menyempatkan olahraga ringan kala waktu memungkinkan,” ujarnya.

Advertisement

Pulang bertugas, lanjut Rina, masuk ke rumah dengan Prokes ketat pula. Semua barang ditaruh di luar rumah, langsung mandi. Baju yang sudah terpakai seharian langsung ditaruh di tempat khusus untuk dibersihkan. Pokoknya semua protokol dijalankan dengan disiplin. Puji Tuhan kami semua sehat sampai sekarang. Semoga begitu seterusnya,” kata Rina yang juga menjadi dosen maka kuliah Komunikasi di Sekolah Tinggi Teologi Magelang.

Sejauh ini Rina dan tim-nya sudah melayani 600 lebih jemaat yang tersebar di Kudus juga beberapa wilayah terdekat seperti Rembang, Pati, Demak juga Magelang. “Tapi yang terbanyak di Kudus,” tambahnya.

Puji Tuhan, kata Rina, dia dan timnya juga sudah divaksin dosis lengkap, ditambah dengan melaksanakan Prokes ketat maka bisa menjalankan tugas pelayanan dengan baik.
“Vaksin dosis lengkap, Prokes, itu satu paket untuk menjaga keamanan kita dari penularan Covid. Dan, tentu saja, doa kepada Tuhan,” ujarnya. (Diana Runtu)

 

Advertisement

Life Story

Kisah Driver Ojol yang Hidupnya “Babak-belur” Dihantam Pandemi Covid

Published

on

Sandres, driver ojol (cybertokoh/Diana Runtu)

Jakarta (cybertokoh.com)-

Sandres tak mengira kalau pandemi Covid-19 akan berlangsung begitu lama. Sudah hampir dua tahun, namun belum mereda juga. Penularan masih terjadi dimana-mana. Jumlah kasus baru masih bertambah. Tidak pernah nol.

“Waktu pertama dengar Covid ada di Indonesia, saya biasa saja. Saya pikir, ah, paling hanya 3-4 bulan. Eh, ternyata lama dan parah. Sudah hampir dua tahun, Covid masih ada. Pandemi belum selesai. Nggak tahu kapan berakhir. Yang kena Covid masih ada di mana-mana. Saya tidak pernah membayangkan bakal separah ini,” ungkap Sandres, driver ojek online (onjol), saat bercakap-cakap dengan Tokoh soal dampak pandemi Covid-19 pada kehidupan para driver ojol.

Ibu satu anak ini mengaku hidupnya “babak-belur” dihantam pandemi Covid. Ia kesulitan mencari nafkah. Sehari-hari pekerjaannya hanya sebagai driver ojol. Tidak ada yang lain. Penghasilan dari ngojek itu lah untuk menghidupi dirinya juga anaknya yang baru berusia 4 tahun.

Advertisement

Sudah 2,5 tahun lebih ia menjalani pekerjaannya itu. Sempat menikmati masa kejayaan sebagai driver ojol dengan penghasilan rata-rata Rp 300.000 per-hari. Itu sebelum pandemi.

“Mulai kerja jam 8 pagi sampai jam 10 malam. Sehari rata-rata dapat 21 orderan. Kadang lebih. Sering dapat orderan jarak jauh yang tarifnya lumayan. Pendapatan saya lumayan sekali waktu itu. Bisa makan, nabung, beli macam-macam untuk anak,” ungkap wanita 47 tahun itu.

Namun kondisi berubah drastis sejak pandemi Covid-19. Pemerintah menetapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang ketat untuk menekan penularan Covid-19. Ojol pun terkena dampaknya. Kala itu ada aturan ojol tidak boleh membawa penumpang. Hanya bisa membawa dan mengantar barang. “Susahnya setengah mati!” Kata Sandres dengan mimik sedih.

BACA  Pengendalian Pandemi Covid-19 Perlu Partisipasi Masyarakat

Betapa tidak, pihak aplikator merespon aturan tersebut dengan menutup fitur orderan penumpang. “Hanya bisa antaran barang,” jelas Sandres yang mengaku kala itu dia belum menjadi driver untuk antaran barang. “Waktu itu saya hanya khusus antar penumpang saja,” tambahnya.

Namun, Sandres tidak patah semangat. Pikirnya, mencari dan mendapatkan penumpang toh bukan hanya lewat aplikasi. Bisa dengan cara manual, seperti sebelum marak ojek online. Maka jadilah dia driver “ojek pangkalan” (opang).
Nyatanya tak semudah dibayangkan. Mengira, jika ojek online tutup (jasa mengantar penumpang), ojek pangkalan akan berjaya. Ternyata tidak benar. Kala itu, banyak aturan yang membatasi kegiatan masyarakat di luar rumah. Walhasil, masyarakat yang beraktivitas di luar rumah pun menyusut drastis. Mal-mal, juga banyak perkantoran tutup. Para pekerja banyak yang melakukan WFH (work from home). “Sepi sewa”. Begitu bahasa para pengojek untuk menggambarkan ‘menyusutnya’ jumlah penumpang.
Belum lagi, ujar Sandres, dia harus bersaing dengan para pengojek lainnya dalam menggaet penumpang yang tak banyak jumlahnya. “Saya sempat berinisiatif muter-muter mencari penumpang. Siapa tahu ada orang yang membutuhkan jasa ojek. Ternyata susah,” tuturnya dengan suara bergetar.

Advertisement

Hatinya sangat sedih. Teringat anak semata wayang di rumah. “Dari pagi sampai malam hanya dapat Rp 15.000-20.000. Padahal keperluan harian bukan hanya makan tapi ada yang lainnya. Malah di awal-awal PSBB sempat tidak dapat uang sama sekali. Benar-benar “nol”,” katanya.

BACA  Sri Hartati, Pasien Covid yang Jadi "Relawan" Dadakan

Hasil yang sangat minim itu hanya untuk makan dia dan anaknya. Itu pun sudah dengan sangat mengirit. Tak mampu beli token. Akhirnya sehari-hari penerangan malam hanya pakai lilin. Untuk charging Hp numpang ke teman atau tetangga. Kadang dapat bantuan uang atau makanan dari teman juga tetangga. “Tapi kan bantuan tidak bisa diharap terus-menerus. Juga, malu,” ujarnya.

Tak kuat menanggung beban biaya hidup, akhirnya ia pun memutuskan ‘mengirim’ anaknya ke kampung di Kuningan, Jawa Barat, Desember 2020 lalu. Di sana ada keluarga suami yang bersedia memelihara. “Ada ibu dari suami yang juga turut merawat. Jadi saya tenang. Soal makan dan sekolah, mereka yang urus,” lanjut Sandres yang sejak Desember tahun lalu hingga kini belum bertemu lagi dengan anaknya.

Atas saran temannya, dia pun mendaftar untuk antaran barang. Barulah bisa sedikit bernapas lega. Apalagi kemudian larangan ojol tidak boleh membawa penumpang, dicabut. Meski, tambahnya, jika mau dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi, penghasilan yang didapat masih tergolong minim.

Sekarang, lanjutnya, kondisi sudah jauh lebih baik. Seiring dengan menurunnya kasus Covid-19, pemerintah juga melakukan penyesuaian-penyesuaian aturan sesuai kondisi daerah. Meski belum 100% normal, namun pergerakan sosial-ekonomi sudah jauh meningkat dan itu berdampak pada penghasil Sandres sebagai driver ojol.

Advertisement

Sekarang, ucapnya, sehari bisa dapat Rp100.000-an, bersih. Kalau sedang mujur bisa lebih. “Sehari bisa dapat 6-7 orderan barang. Di luar itu bisa antar penumpang,” ucapnya.

Disadarinya pekerjaan ngojek di saat pandemi memiliki risiko besar tertular Covid-19. Tapi apa mau dikata. Dia tidak memiliki ketrampilan lain. Semisal memasak atau pekerjaan rumah tangga lainnya. Karenanya, meski memiliki risiko besar, dia tak terpikir untuk meninggalkan pekerjaan sebagai pengojek. Ibaratnya, antara ‘maut’ dan ‘perut’.

BACA  Masyarakat Diminta Tenang

“Kalau dibilang takut, ya takut. Siapa sih orang yang tidak takut terkena Covid. Tapi mau bagaimana? Kan harus makan. ‘Dapur’ harus ngebul. Saya nggak bisa pekerjaan yang lain, cuma bisa ngojek doang,” kata Sandres yang pertengahan bulan ini akan menerima vaksin Covid dosis kedua.

Menghadapi Covid, ujarnya, senjatanya hanya vaksin dan disiplin protokol kesehatan. Baginya itu wajib. “Saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk disiplin prokes. Pakai masker double, cuci tangan dan jaga jarak. Jadi sekalipun di pangkalan, saya tetap berupaya menjaga jarak dengan teman. Termasuk saat ngobrol. Masker tak pernah lepas,” tambahnya.

Sudah menjadi ‘protap’ nya untuk langsung mandi begitu sampai di rumah. Pakaian yang dipakai pun ditaruh di luar rumah, di tempat khusus. “Kadang bukan hanya mandi, keramas, habis itu saya masih menyemprotkan diri dengan disinfektan. Supaya benar-benar bersih,” jelasnya.

Advertisement

Puji Tuhan, dengan vaksin dan prokes ketat, dirinya tetap sehat dan bisa bekerja dengan baik. Dia berharap pandemi Covid-19 bisa segera berakhir dan kondisi perekonomian Indonesia bisa segera pulih.

“Jika pandemi berakhir, perekonomian kita pulih, otomatis ekonomi rakyat ikut terangkat. Mudah-mudahan tahun depan kondisi bisa normal lagi. Saya rindu anak,” ucapnya mengakhiri obrolan. (Diana Runtu)

Continue Reading

Life Story

Sudah Vaksin Lengkap tapi Masih Terpapar Covid

Published

on

Jakarta (cybertokoh.com) –

Sudah menerima vaksin Covid-19 dosis lengkap namun masih juga terpapar Covid-19. Penyebabnya, jika Anda masyarakat umum (bukan nakes), kemungkinan besar karena lengah protokol kesehatan, juga imun tubuh yang turun.
Namun jika terpapar setelah mendapat vaksin Covid-19 dosis lengkap, umumnya gejala yang diderita ringan hingga sedang. Atau, tidak separah jika belum menerima vaksin.

Pengalaman itu juga yang dirasakan Roso Daras, wartawan senior, ketika dia terpapar Covid baru-baru ini. Dia sudah divaksin dosis lengkap bahkan sudah melakukan tes serologi antibodi kuantitatif Covid-19, sekitar Mei lalu.

Serologi adalah tes guna mendeteksi tanda atau riwayat adanya virus SARS-CoV-2 dengan mengetahui kandungan antibodi yang dibentuk tubuh. Pengujian ini menggunakan sampel darah.
Tapi ternyata masih juga terpapar Covid-19. Untungnya, kata Roso, gejala yang dirasakan tidak lah terlalu parah. Dia menduga, hal itu terjadi berkat vaksin Covid yang telah dua kali diterimanya.

Advertisement

“Saya merasa sungguh bersyukur sudah divaksin bahkan dosis lengkap. Karena itu gejala yang saya dapat tidak seberat kalau tidak divaksin. Jika belum, aduh, saya tidak berani membayangkan bagaimana jadinya saya. Alhamdulilah sudah vaksin,” kata Roso yang saat dihubungi tengah bersiap-siap kembali ke rumah karena dia dan istrinya sudah dinyatakan negatif Covid, setelah dua pekan di rumah sakit.

Keberuntungan lainnya, tutur Roso, Covid-19 menyerangnya saat Indonesia tengah mengalami pelandaian kasus. Rumah-rumah sakit rujukan yang saat puncak gelombang ke-2 pada Juli 2021 lalu, penuh sesak bahkan banyak pasien antre di ruang tunggu hingga di luar rumah sakit untuk bisa mendapat pelayanan, tidak dialaminya.

BACA  Perjuangan Mencari Tirta Sungai Gangga

“Entah bagaimana jadinya kalau saya terkena saat Covid menggila di Tanah Air. Pasti susah cari rumah sakit. Saya masuk rumah sakit (RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta) pada 3 September 2021. Situasi bisa dibilang lengang. Hanya ada dua pasien yang berada di IGD,” ungkap Roso yang sempat bergabung di Satgas Penanganan Covid Pusat, sejak awal organisasi ini terbentuk 2020 lalu.

Teringat ia pada kenangan pahit beberapa bulan lalu. Kakaknya meninggal karena Covid. Saat itu, Juli, lonjakan kasus Covid di Indonesia sungguh luar biasa. Keluarga berusaha mencari rumah sakit untuk perawatan namun beberapa kali ditolak karena penuh. Padahal kondisi sang kakak kala itu cukup berat.

Akhirnya, tutur Roso, kakak berhasil mendapat perawatan RS namun beberapa hari kemudian meninggal. “Waktu masuk rumah sakit, saturasi oksigen-nya rendah. Sempat membaik sedikit namun down lagi dan akhirnya meninggal,” ujarnya.

Advertisement

Nah, pengalaman seperti sang kakak berjuang mendapatkan perawatan rumah sakit, tidak dialaminya. Namun tetap saja, ujarnya, yang namanya sakit sangat tidak nyaman.

“Saya sendiri awalnya ingin isoman (isolasi mandiri) saja. Tapi karena keluarga heboh ingin saya mendapat perawatan rumah sakit, akhirnya ya saya nurut. Kehebohan keluarga bisa dimaklumi karena kami baru saja kehilangan kakak gara-gara Covid. Kenangan pahit itu membuat keluarga trauma dan ngotot agar saya segera dirawat,” kata Roso yang istrinya juga ikut tertular Covid-19. “Istri tertular karena merawat saya di awal sakit,” tambahnya.

Dia mengaku sampai sekarang masih bingung asal virus Covid yang menjangkitinya. Ini sungguh misteri, ucapnya. Terus terang, jelasnya, dirinya memang dalam sepekan terakhir bertemu sejumlah orang terkait pekerjaan. Bahkan sempat begadang di gallery dengan beberapa di antaranya. Namun orang-orang yang ditemuinya, baik-baik saja.
“Saat dinyatakan positif Covid, saya langsung menghubungi teman-teman itu untuk menyampaikan kondisi saya. Namun, alhamdulilah, mereka semua sehat. Bahkan di awal saya sakit (belum dinyatakan positif-red) saya sempat bertemu beberapa orang. Tapi mereka pun menyatakan dirinya sehat. Alhamdulilah sekali,” ujarnya.

BACA  Kemungkinan, Covid tak akan Benar-benar Hilang

Lalu dari mana virus Covid-19 itu datangnya? Itulah yang membuatnya bingung. “Apakah karena membeli rokok di jalan atau saat cuci mobil. Who knows!” Kelalaian dalam menerapkan protokol kesehatan, adalah yang paling mungkin. Namanya manusia, meski merasa dirinya biasa berdisiplin dalam menjalankan prokes, namun ada saatnya lengah.

“Rasanya, kemungkinan besar karena lengah prokes dan saat itu kondisi tubuh sedang kurang baik. Mungkin, saya memegang barang tanpa mencuci tangan setelahnya. Atau memakai masker dengan tidak benar. Entah lah!” Kata penulis buku ‘Total Bung Karno’ ini.

Advertisement

Gejala awal yang dialami, tutur Roso, pusing dan demam juga batuk kering. Mirip dengan penyakit yang biasa menghampirinya. Karena itu tak terpikir sama sekali bahwa itu adalah gejala Covid. Pun sampai beberapa hari, sakitnya tidak sembuh-sembuh meski sudah mengonsumsi obat-obatan dan vitamin, tak juga terpikir bahwa Covid sudah menjangkitinya.

“Mungkin karena merasa saya sudah divaksin, juga lumayan disiplin prokes. Jadi tidak terpikir kalau yang saya alami adalah gejala Covid. Apalagi gejala itu biasa saja. Maksudnya, saya sering mengalami seperti itu. Kayak orang masuk angin. Pusing, demam, batuk. Itu kan biasa. Makanya saya tidak terpikir soal Covid,” paparnya.

BACA  Selama Covid-19 Masih Ada, PPKM Tetap Diberlakukan

Untuk mengatasi gejala, dirinya mengkonsumsi paracetamol juga vitamin. “Demam berkurang. Tapi pusing dan batuk masih terus. Saya konsultasi dokter via daring. Menurut dokter saya harus periksa ke dokter penyakit dalam. Utamanya terkait batuk yang terus menerus, bisa jadi karena infeksi paru. Tapi tetap harus diagnosis dokter penyakit dalam untuk kepastiannya,” tuturnya.

Lalu diapun mengontak teman-temannya di tim medis penanganan Covid-19. “Mereka datang ke rumah untuk melakukan PCR, saya dan istri. Besoknya didapat hasil. Saya dan istri positif. Dan begitulah, akhirnya saya dan istri dirawat di RSD Wisma Atlet Kemayoran,” ucapnya.

Saat dinyatakan positif Covid, tambahnya, dirinya tidak merasa panik, tegang atau apapun. “Saya pasrah saja dan berusaha menjalani semuanya dengan tenang,” tambah Roso yang sudah dinyatakan clear atau negatif Covid setelah delapan hari perawatan.
“Tapi saya masih di rumah sakit karena istri masih positif. Jadi saya menemani supaya istri lebih tenang, tidak stress sendirian,” ujarnya.

Advertisement

Dari kejadian yang menimpanya itu, Roso hendak berpesan kepada masyarakat, khususnya yang belum vaksin Covid-19 agar segera melakukannya, jangan menunda-nunda.

Vaksin Covid-19 sangat penting untuk membentengi diri dari serangan Covid. Atau setidaknya, kalaupun terkena, gejala yang dialami tidaklah menjadi berat. Dan yang juga sangat penting adalah disiplin prokes.
Ini penting sekali. Vaksin Covid-19 dan disiplin prokes adalah ‘satu paket’ atau ‘pasangan’. Tidak bisa hanya salah satu.

Vaksin Covid penting tapi tetap harus ‘dilapisi’ (dilindungi) dengan prokes ketat. Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, membatasi mobilitas dan interaksi. (Diana Runtu)

Advertisement
Continue Reading

Life Story

Sri Hartati, Pasien Covid yang Jadi “Relawan” Dadakan

Published

on

Jakarta (cybertokoh.com) –

Belum sempat divaksin, akhirnya penyakit yang menakutkan semua orang itu datang pada Sri Hartati. Entah bagaimana bisa tertular, Sri pun bingung. Hanya bisa menduga-duga. “Kok bisa ya?” Katanya heran. Tapi akhirnya dia pun menyadari, sebagai manusia ada saatnya dirinya teledor. Sri mengaku rajin pakai masker, patuh menjaga jarak. Tapi mungkin teledor mencuci tangan.

“Belakangan memang agak malas mencuci tangan. Habis pegang sesuatu di luar atau belanja di warung, pulang ke rumah tidak cuci tangan dengan benar. Mungkin itu penyebabnya. Tidak tahu lah. Cuma bisa menduga-duga,” ungkap Sri.

Sebelumnya, lanjut Sri masih menduga-duga, dia sempat bepergian, bertemu dan ngobrol dengan adik. Apakah mungkin tertular dari adik? Karena sepulang bepergian dan bertemu adik, dirinya langsung demam tinggi. “Tapi faktanya adik aku nggak apa-apa, kok. Dia sehat-sehat saja,” lanjut Sri yang masih bingung asal-usul Covid-19 menjangkitinya.

Advertisement

Awalnya, Sri mengaku tidak sadar kalau dirinya terpapar Covid. Dia sempat berpikir penyakit lambungnya kambuh. Merasa tidak tahan, dia pun minta anaknya mengantar ke klinik 24 jam untuk mendapat pengobatan. “Aku dapat obat penurun panas juga obat lambung,” tambahnya. Nyatanya kondisi tidak berubah malah makin parah. Sri baru tersadar kemungkinan terkena Covid setelah penciumannya hilang. Tidak bisa membaui apapun.

“Aku langsung panik. Waduh, jangan-jangan Covid nih,” tutur Sri mengingat kejadian saat itu. Dan benar saja, setelah melakukan tes, dirinya dinyatakan postif Covid-19. Paniknya luar biasa, tambah Sri lagi. Berbagai macam pikiran ‘mengerikan’ terlintas. “Bagaimana kalau aku tidak selamat? Mungkin begitu ya kalau orang pertama kali kena Covid, pikirannya negative semua. Apalagi memang waktu itu aku demam tinggi, badan lemas,” ucapnya.

BACA  Rezeki Melebihi Ekspektasi

Saat itu adalah pertengahan bulan Juni 2021. Kasus Covid-19 mulai meningkat di Jabodetabek. BOR (bed occupancy rate) di rumah sakit rujukan Covid-19 juga meningkat sehingga tak mudah mendapatkan perawatan. Sri pun mengalaminya.
“Rumah Sakit UI, Rumah Sakit Pasar Minggu semuanya penuh. Masyarakat yang terkena Covid membludak di ruang tunggu. Mereka tidak bisa masuk UGD karena penuh. Kasihan sekali. Padahal banyak yang terlihat parah. Aku sendiri pun sempat ditolak karena penuh. Akhirnya, atas upaya adik, bisa mendapat perawatan di rumah sakit Depok,” ungkap Sri lagi.

Dapat Ruangan di Samping Toilet
Mungkin beruntung. Ruang perawatan UGD sebenarnya sudah penuh. Tapi berkat usaha adiknya, entah bagaimana caranya, Sri akhirnya bisa mendapat tempat tidur tambahan yang dipasang di samping dinding toilet. Ruangan itu yang sebenarnya merupakan ruangan kosong tempat orang mondar-mandir ke toilet.

“Aku nggak peduli lagi, yang penting bisa segera dapat perawatan sambil menunggu tempat tidur di ruang perawatan. Sungguh bersyukur kepada Tuhan,” kata Sri yang tak berapa lama kemudian mendapat tempat tidur di ruang perawatan.
Selama tiga-empat hari Sri merasa kondisinya sangat parah. Lemas, mual, pusing dan aneka rasa tak enak dialaminya. Meski begitu, dia berusaha menjaga pikirannya agar tetap positif dan tidak stress. Karena sadar, jika stress, penyakitnya akan memburuk.

Advertisement

Hari kelima kondisinya semakin membaik. “Alhamdulilah!” Ucapnya. Menurut penggemar tanaman hias ini, selama masa perawatan dia mengonsumsi aneka obat-obatan yang kebanyakan adalah vitamin. “Tapi yang paling bikin stress adalah mengonsumsi antibiotik yang dimasukkan lewat infus. Perihnya luar biasa. Itu pagi-sore, selama delapan hari,” jelasnya.
Di luar obat-obatan yang diberikan rumah sakit, dia mengonsumsi herbal yang dibawa sendiri dari rumah. Utamanya adalah ‘lianhua qingwen’. Selain itu, dia juga mengonsumsi kurma dan madu.

BACA  Jangan Terbuai Kasus Turun, Masih Ada Provinsi dengan Pertambahan Kasus di Atas 1000

Menurut Sri, ‘lianhua’ adalah herbal yang sangat mujarab dan membantunya recovery dengan cepat. “Keluarga aku biasa minum ‘lianhua’ ketika badan tidak enak atau demam,” tambahnya. Ada hal menarik yang dilakukan Sri saat masih menjalani perawatan di rumah sakit yakni menjadi ‘relawan dadakan’. Ini terjadi selain karena dirinya relatif pulih dengan cepat, juga karena tidak tega melihat penderitaan para pasien yang berada satu ruangan dengannya.

Sri pun bertutur, pada saat itu jumlah nakes (tenaga kesehatan) di rumah sakit di mana dia dirawat sangat lah terbatas. Tidak sebanding dengan jumlah pasien Covid yang membludak. Mereka (nakes) berjuang siang-malam untuk merawat pasien.
“Aku sungguh kasihan melihat mereka. Memakai APD sepanjang hari, belum lagi harus terus berkeliling melakukan ini-itu. Jadi nggak heran kalau sampai ke ruangan kami, tampang mereka sudah cape banget. Mereka bilang, jumlahnya terbatas karena banyak temannya yang terpapar Covid. Sementara jumlah pasien sangat banyak,” tutur Sri.

Nah, karena merasa kondisinya jauh lebih baik, Sri pun berinisiatif membantu pasien lain yang berada satu ruangan dengannya. Itu sebenarnya pekerjaan para perawat. Namun kala itu situasi benar-benar sulit dan penuh keterbatasan, sehingga ia pun dengan sukarela membantu. Misalnya saja, pasien yang sesak nafas dan minta tempat tidurnya dinaikan. Sri pun dengan sigap membantu. Atau oksigen salah seorang pasien tidak berfungsi benar, maka dia juga tak segan turun tangan membantu. “Jadi ada CCTV di ruangan kami yang dimonitor oleh nakes. Aku dipandu oleh mereka untuk melakukan hal-hal yang perlu,” tambah perempuan baik hati ini.

BACA  Pengendalian Pandemi Covid-19 Perlu Partisipasi Masyarakat

Awalnya, kata Sri, aksinya membantu pasien mendapat teguran dari perawat. Namun ketika Sri menjelaskan maksudnya, ditambah kondisi kesehatannya yang membaik, perawat pun mengizinkan dia ikut membantu. Tentunya, sebelum melakukan tindakan, dia harus melaporkan permasalah kepada perawat. “Jadi aku dipandu oleh mereka (perawat). Misalnya soal oksigen, aku harus menambah air. Atau memperbaiki infus, dll,” ujarnya.

Advertisement

Bukan hanya itu saja, tutur Sri. Tak jarang, dia juga ikut membantu mengganti pampers pasien atau membuatkan teh hangat untuk pasien yang membutuhkan. Sri mengaku melakukan semuanya dengan sukacita, ikhlas. Kesibukan-kesibukan itu, sadar atau tidak, bisa jadi membuat dirinya semakin cepat sembuh.

“Mungkin karena sibuk jadi aku merasa enjoy, tidak bosan. Karena enjoy, imun aku naik, jadi cepat sembuh,” ujar Sri yang mendapat limpahan perhatian dan kasih sayang dari keluarganya selama menjalani perawatan di RS. Walau begitu, kata Sri lagi, tetap saja menjadi sehat adalah yang terbaik. Karena itu, pesannya, jangan abai pada protokol kesehatan. Sekalipun kadang kita merasa malas dan bosan, tetap saja paksakan diri untuk tetap mentaati prokes. “Aku adalah contoh dari orang yang sempat lengah pada prokes. Jangan sampai mengalami seperti aku, sungguh tidak enak,” tegas wanita yang gemar bergurau ini. (Diana Runtu)

Continue Reading

Tren