Indonesia

Ketatkan Pengawasan, Pembukaan Pariwisata Jangan Sampai Sebabkan Lonjakan Kasus

Jakarta (cybertokoh.com) –

Hampir semua negara mempunyai permasalahan yang sama dalam penanganan kasus Covid-19, utamanya di masa terjadinya pelandaian kasus. Terjadi pelemahan dalam pelaksanaan protokol kesehatan juga pengawasannya.

Euforia karena keberhasilan negara dalam menurunkan kasus Covid-19 membuat semua pihak lengah. Masyarakat merasa kondisi sudah aman sehingga beraktivitas tanpa penerapan prokes. Sementara vaksinasi Covid-19 yang seharusnya terus digencarkan, justru menurun. Walhasil kasus melejit kembali.

Seperti India, ujar Prof Wiku Adisasmito dalam keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19, Kamis (7/10), kenaikan kasus Covid-19 terjadi karena euforia keberhasilan negaranya dalam menurunkan kasus pada gelombang pertama.

“Masyarakat cenderung merasa aman dan kembali beraktivitas tanpa penerapan protokol kesehatan, utamanya pada kegiatan keagamaan dan politik,” ungkap Prof Wiku seraya menambahkan, euforia tersebut juga menyebabkan laju vaksinasi Covid-19 cenderung menurun dibanding saat terjadi lonjakan kasus pertama.

Kemudian, lanjut Wiku, India mengambil kebijakan penanganan dengan kembali meningkatkan testing juga memperketat penerapan wajib masker. Juga, kembali menggencarkan vaksinasi serta menerapkan lockdown. Dengan semua langkah itu, akhirnya kasus Covid-19 di India kembali turun hingga sekarang.
Jepang mengalami lonjakan kasus atau dikenal dengan gelombang ke-3 pasca pelaksanaan Olimpiade Tokyo yang berlangsung 23 Juli hingga 8 Oktober 2021.

Sebenarnya, pelaksanaan event olahraga akbar tersebut sangat ketat dalam penerapan protokol kesehatan. Namun tetap saja kasus Covid meningkat. Itu lantaran perhelatan Olimpiade telah mengubah kebiasaan masyarakat. Yakni, mereka menjadi lebih sering berkumpul, berpesta maupun nonton bareng pertandingan Olimpiade di restoran, kedai maupun bar.

Cakupan vaksinasi Covid juga masih terbilang rendah.
Jepang baru berhasil menurunkan kasusnya setelah menerapkan emergency lockdown tingkat nasional dan meningkatkan cakupan vaksin dan testing.

Lonjakan kasus Covid-19 di Vietnam, kata Prof Wiku lebih lanjut, salah satunya juga disebabkan euforia di tengah masyarakat yang berasumsi bahwa negaranya telah berhasil mengeradikasi (memusnahkan) Covid-19. “Aktivitas masyarakat kembali normal, itu mempercepat penularan varian Delta di Vietnam,” ucap Wiku.

Akibatnya, kluster-kluster bermunculan, salah satunya dari kegiatan keagamaan. Selain itu, euforia juga menyebabkan cakupan vaksinasi Covid di negara itu menjadi rendah, ketika itu baru sebesar 1,9%.

Untuk menghadapi lonjakan kasus ini, Vietnam melakukan upaya lockdown ketat. Pelaksanaan testing massal dan pengerahan tentara nasional dalam mengawasi pelaksanaan lockdown.

Turki sedikit berbeda. Peningkatan kasus di negara tersebut terjadi karena tradisi keagamaan, mengunjungi keluarga juga kumpul-kumpul. Hal tersebut membuat potensi penularan varian Delta di tengah masyarakat menjadi meningkat.
Ditambah lagi, Turki membuka akses untuk turis internasional yang sayangnya tidak dibarengi dengan skrining tetap pada pelaku perjalanan, kewajiban karantina dan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Langkah yang diambil pemerintah Turki dalam menekan lonjakan kasus adalah antara lain dengan melakukan imbauan massif pelaksanaan prokes dan meningkatkan cakupan vaksinasi. “Tapi di sana tidak memberlakukan lockdown. Kegiatan masyarakat berlangsung seperti biasanya,” tutur pakar bidang Kebijakan Kesehatan dan Penanggulangan Penyakit Infeksi, ini.

Bagaimana dengan Indonesia?
Menurut Wiku, lonjakan kasus di Indonesia terjadi pasca liburan Indul Fitri dimana mobilisasi yang meningkat, kegiatan berkumpul dan mengunjungi keluarga memberi ruang penyebaran varian Delta di tengah masyarakat.
Menghadapi permasalahan ini, lanjut Wiku, Indonesia bergerak cepat dengan menerapkan kebijakan berlapis yang meliputi pembatasan pelaksanaan kegiatan yang disesuaikan dengan kondisi hingga tingkat kabupaten/kota.

Selain itu, Indonesia juga melakukan pembatasan perjalanan dalam dan luar negeri, melakukan penguatan fasilitas pelayanan kesehatan dengan respon cepat, menyediakan obat-obatan dan alat kesehatan serta menyediakan tempat Isolasi Terpusat di beberapa daerah dengan kasus tinggi.

Juga, melakukan pengawasan ketat terhadap pelaksanaan prokes dengan memberdayakan masyarakat melalui Satgas, Posko-Posko di daerah serta upaya penguatan infrastruktur digita; kesehatan dan meningkatkan cakupan vaksinasi.

“Penerapan kebijakan berlapis ini menjadi kunci keunggulan Indonesia dibandingkan negara lain. Merupakan tugas kita bersama untuk terus mempertahankan penurunan kasus yang saat ini sedang terjadi,” tegas Wiku yang juga Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19.

Dari paparan tersebut, kata Wiku lebih jauh, ada beberapa pelajaran penting yang bisa dipetik dari kejadian di negara lain, yakni, turunnya kasus Covid-19 tidak menjadi euforia sehingga menyebabkan masyarakat lengah. Sebaliknya, di masa sekarang disiplin Prokes harus tetap diperketat mengingat kegiatan masyarakat sudah mulai berjalan normal.

Perlu pengawasan ketat pada pelaksanaan prokes di setiap aktivitas masyarakat, utamanya kegiatan-kegiatan yang berpotensi meningkatkan penularan, seperti kegiatan keagamaan, wisata, kegiatan sosial dan ekonomi.
“Pembukaan kegiatan pariwisata utamanya pada turis asing, perlu dilakukan dengan prinsip kehati-hatian. Persiapan pembukaan pintu masuk negara memerlukan persiapan matang. Di mulai dari proses skrening ketat pelaku perjalanan dan memastikan Prokes diterapkan dengan ketat mulai dari transportasi, penginapan hingga objek pariwisata, baik oleh turis maupun masyarakat lokal,” ujar Wiku panjang-lebar.

Ia berpesan, Pemda wajib mengendalikan dan mengawasi. Jangan sampai pembukaan sektor pariwisata menyebabkan terjadinya lonjakan kasus. (Diana Runtu)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Terkini

To Top