Life Story

Sudah Vaksin Lengkap tapi Masih Terpapar Covid

Jakarta (cybertokoh.com) –

Sudah menerima vaksin Covid-19 dosis lengkap namun masih juga terpapar Covid-19. Penyebabnya, jika Anda masyarakat umum (bukan nakes), kemungkinan besar karena lengah protokol kesehatan, juga imun tubuh yang turun.
Namun jika terpapar setelah mendapat vaksin Covid-19 dosis lengkap, umumnya gejala yang diderita ringan hingga sedang. Atau, tidak separah jika belum menerima vaksin.

Pengalaman itu juga yang dirasakan Roso Daras, wartawan senior, ketika dia terpapar Covid baru-baru ini. Dia sudah divaksin dosis lengkap bahkan sudah melakukan tes serologi antibodi kuantitatif Covid-19, sekitar Mei lalu.

Serologi adalah tes guna mendeteksi tanda atau riwayat adanya virus SARS-CoV-2 dengan mengetahui kandungan antibodi yang dibentuk tubuh. Pengujian ini menggunakan sampel darah.
Tapi ternyata masih juga terpapar Covid-19. Untungnya, kata Roso, gejala yang dirasakan tidak lah terlalu parah. Dia menduga, hal itu terjadi berkat vaksin Covid yang telah dua kali diterimanya.

“Saya merasa sungguh bersyukur sudah divaksin bahkan dosis lengkap. Karena itu gejala yang saya dapat tidak seberat kalau tidak divaksin. Jika belum, aduh, saya tidak berani membayangkan bagaimana jadinya saya. Alhamdulilah sudah vaksin,” kata Roso yang saat dihubungi tengah bersiap-siap kembali ke rumah karena dia dan istrinya sudah dinyatakan negatif Covid, setelah dua pekan di rumah sakit.

Keberuntungan lainnya, tutur Roso, Covid-19 menyerangnya saat Indonesia tengah mengalami pelandaian kasus. Rumah-rumah sakit rujukan yang saat puncak gelombang ke-2 pada Juli 2021 lalu, penuh sesak bahkan banyak pasien antre di ruang tunggu hingga di luar rumah sakit untuk bisa mendapat pelayanan, tidak dialaminya.

“Entah bagaimana jadinya kalau saya terkena saat Covid menggila di Tanah Air. Pasti susah cari rumah sakit. Saya masuk rumah sakit (RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta) pada 3 September 2021. Situasi bisa dibilang lengang. Hanya ada dua pasien yang berada di IGD,” ungkap Roso yang sempat bergabung di Satgas Penanganan Covid Pusat, sejak awal organisasi ini terbentuk 2020 lalu.

Teringat ia pada kenangan pahit beberapa bulan lalu. Kakaknya meninggal karena Covid. Saat itu, Juli, lonjakan kasus Covid di Indonesia sungguh luar biasa. Keluarga berusaha mencari rumah sakit untuk perawatan namun beberapa kali ditolak karena penuh. Padahal kondisi sang kakak kala itu cukup berat.

Akhirnya, tutur Roso, kakak berhasil mendapat perawatan RS namun beberapa hari kemudian meninggal. “Waktu masuk rumah sakit, saturasi oksigen-nya rendah. Sempat membaik sedikit namun down lagi dan akhirnya meninggal,” ujarnya.

Nah, pengalaman seperti sang kakak berjuang mendapatkan perawatan rumah sakit, tidak dialaminya. Namun tetap saja, ujarnya, yang namanya sakit sangat tidak nyaman.

“Saya sendiri awalnya ingin isoman (isolasi mandiri) saja. Tapi karena keluarga heboh ingin saya mendapat perawatan rumah sakit, akhirnya ya saya nurut. Kehebohan keluarga bisa dimaklumi karena kami baru saja kehilangan kakak gara-gara Covid. Kenangan pahit itu membuat keluarga trauma dan ngotot agar saya segera dirawat,” kata Roso yang istrinya juga ikut tertular Covid-19. “Istri tertular karena merawat saya di awal sakit,” tambahnya.

Dia mengaku sampai sekarang masih bingung asal virus Covid yang menjangkitinya. Ini sungguh misteri, ucapnya. Terus terang, jelasnya, dirinya memang dalam sepekan terakhir bertemu sejumlah orang terkait pekerjaan. Bahkan sempat begadang di gallery dengan beberapa di antaranya. Namun orang-orang yang ditemuinya, baik-baik saja.
“Saat dinyatakan positif Covid, saya langsung menghubungi teman-teman itu untuk menyampaikan kondisi saya. Namun, alhamdulilah, mereka semua sehat. Bahkan di awal saya sakit (belum dinyatakan positif-red) saya sempat bertemu beberapa orang. Tapi mereka pun menyatakan dirinya sehat. Alhamdulilah sekali,” ujarnya.

Lalu dari mana virus Covid-19 itu datangnya? Itulah yang membuatnya bingung. “Apakah karena membeli rokok di jalan atau saat cuci mobil. Who knows!” Kelalaian dalam menerapkan protokol kesehatan, adalah yang paling mungkin. Namanya manusia, meski merasa dirinya biasa berdisiplin dalam menjalankan prokes, namun ada saatnya lengah.

“Rasanya, kemungkinan besar karena lengah prokes dan saat itu kondisi tubuh sedang kurang baik. Mungkin, saya memegang barang tanpa mencuci tangan setelahnya. Atau memakai masker dengan tidak benar. Entah lah!” Kata penulis buku ‘Total Bung Karno’ ini.

Gejala awal yang dialami, tutur Roso, pusing dan demam juga batuk kering. Mirip dengan penyakit yang biasa menghampirinya. Karena itu tak terpikir sama sekali bahwa itu adalah gejala Covid. Pun sampai beberapa hari, sakitnya tidak sembuh-sembuh meski sudah mengonsumsi obat-obatan dan vitamin, tak juga terpikir bahwa Covid sudah menjangkitinya.

“Mungkin karena merasa saya sudah divaksin, juga lumayan disiplin prokes. Jadi tidak terpikir kalau yang saya alami adalah gejala Covid. Apalagi gejala itu biasa saja. Maksudnya, saya sering mengalami seperti itu. Kayak orang masuk angin. Pusing, demam, batuk. Itu kan biasa. Makanya saya tidak terpikir soal Covid,” paparnya.

Untuk mengatasi gejala, dirinya mengkonsumsi paracetamol juga vitamin. “Demam berkurang. Tapi pusing dan batuk masih terus. Saya konsultasi dokter via daring. Menurut dokter saya harus periksa ke dokter penyakit dalam. Utamanya terkait batuk yang terus menerus, bisa jadi karena infeksi paru. Tapi tetap harus diagnosis dokter penyakit dalam untuk kepastiannya,” tuturnya.

Lalu diapun mengontak teman-temannya di tim medis penanganan Covid-19. “Mereka datang ke rumah untuk melakukan PCR, saya dan istri. Besoknya didapat hasil. Saya dan istri positif. Dan begitulah, akhirnya saya dan istri dirawat di RSD Wisma Atlet Kemayoran,” ucapnya.

Saat dinyatakan positif Covid, tambahnya, dirinya tidak merasa panik, tegang atau apapun. “Saya pasrah saja dan berusaha menjalani semuanya dengan tenang,” tambah Roso yang sudah dinyatakan clear atau negatif Covid setelah delapan hari perawatan.
“Tapi saya masih di rumah sakit karena istri masih positif. Jadi saya menemani supaya istri lebih tenang, tidak stress sendirian,” ujarnya.

Dari kejadian yang menimpanya itu, Roso hendak berpesan kepada masyarakat, khususnya yang belum vaksin Covid-19 agar segera melakukannya, jangan menunda-nunda.

Vaksin Covid-19 sangat penting untuk membentengi diri dari serangan Covid. Atau setidaknya, kalaupun terkena, gejala yang dialami tidaklah menjadi berat. Dan yang juga sangat penting adalah disiplin prokes.
Ini penting sekali. Vaksin Covid-19 dan disiplin prokes adalah ‘satu paket’ atau ‘pasangan’. Tidak bisa hanya salah satu.

Vaksin Covid penting tapi tetap harus ‘dilapisi’ (dilindungi) dengan prokes ketat. Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, membatasi mobilitas dan interaksi. (Diana Runtu)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Terkini

To Top