Indonesia

Mengerikan! Mobilitas Masyarakat Meningkat Tajam, Bahkan Menyamai Sebelum Pandemi

Jakarta (cybertokoh.com) –

Seiring dengan semakin membaiknya kondisi Indonesia yang dibuktikan dengan terjadinya penurunan jumlah kasus positif Covid-19 secara signifikan, mobilitas masyarakat pun meningkat tajam. Khususnya di Jawa dan Bali. Bahkan disebut, peningkatan mobilitas saat ini sudah menyamai kondisi sebelum pandemi.

“Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sejak tanggal 2 Agustus 2021 telah terjadi peningkatan mobilitas masyarakat di Indonesia. Bahkan, saat ini mobilitas masyarakat, khususnya di Jawa dan Bali, telah meningkat secara signifikan,” ungkap Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate, Rabu (22/9).

Data Kemenkes tersebut juga sejalan dengan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) yang melaporkan mobilitas masyarakat Indonesia khususnya di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Banten, mengalami kenaikan yang signifikan.

“Peningkatan mobilitas saat ini bahkan sudah menyamai kondisi sebelum pandemi. Ini harus menjadi perhatian bersama. Kita semua harus selalu waspada dan tidak lengah dalam menerapkan protokol kesehatan agar peningkatan mobilitas masyarakat bisa terus sejalan dengan upaya penanganan pandemi Covid-19,” tegas Menteri Johnny.

Potensi gelombang baru Covid-19, ucapnya, bukan hanya dapat dipicu oleh kehadiran varian baru tapi juga karena peningkatan masyarakat yang mengabaikan protokol kesehatan.

“Kita perlu sama-sama mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19 yang bisa dipicu oleh peningkatan mobilitas masyarakat. Penerapan protokol kesehatan harus selalu diterapkan untuk menghindari risiko lonjakan kasus,” tegasnya.

Peringatan senada juga disampaikan Prof Wiku Adisasmito, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19. Menurut Prof Wiku, jangan dilupakan bahwa kenaikan kasus Covid-19 sangat lekat kaitannya dengan interaksi antar manusia. Terjadinya gelombang ke-2 di Indonesia, tambah Wiku, tidak semata-mata karena kekuatan infeksius. Namun juga akibat kepatuhan prokes yang menurun.

“Kasus-kasus yang ada di hulu menyebar cepat akibat interaksi antar manusia  yang meningkat pada periode libur panjang dan kegiatan sosial ekonomi masyarakat,” ujar Prof Wiku yang juga Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19.

“Mudahnya interaksi manusia dapat digambarkan melalui tingkat mobilitas. Adanya jeda antara kemunculan varian yang masuk ke suatu daerah dan kenaikan kasus yang menjadi gelombang baru, bisa terjadi karena butuh waktu untuk virus menular dari satu orang ke orang lain dan akhirnya terakumulasi menjadi kumpulan kasus dengan varian  yang sama,” papar Wiku panjang lebar.

Sebuah studi yang dilakukan pada 2021 menyebutkan, pembatasan perjalanan dan aktivitas  masyarakat secara spesifik dapat menunda lonjakan kasus akibat importasi kasus dengan varian baru dengan catatan, upaya antisipatif dilakukan dengan segera.

“Kita harus mengetahui bahwa dalam mencegah lonjakan kasus, berbagai upaya pengendalian harus dilakukan sebagai bentuk penerapan kebijakan berlapis. Dalam konteks mencegah varian baru yang masuk, misalnya Mu dan Lambda, tidak hanya mobilitas internasional yang perlu menjadi perhatian, namun juga mobilitas domestik di dalam negeri,” ucapnya.

Temuan oleh Linka et al tahun 2020 yang mengunakan data dari 10 negara di Eropa  menyatakan, mobilitas  lokal atau domestic secara khusus berpengaruh terhadap perkembangan kasus atau reproduction number suatu daerah, dan secara spesifik membantu mengindentifikasi peluang suatu kegiatan atau acara, menjadi kluster baru atau hot spot penularan baru.

Untuk itu, lanjut Wiku, mengingat semakin lama semakin banyak sector sosial masyarakat yang dibuka secara bertahap dan akan ada beberapa event internasional seperti pertemuan diplomatik dan perhelatan olahraga, maka ke depannya perlu pemantauan dan intervensi khusus terhadap aktivitas tersebut.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah pemerintah daerah agar membantu memastikan target kepatuhan prokes yang ditetapkan pemerintah pusat dapat dijalankan dengan baik dengan membentuk Satgas Khusus dalam pelaksanaan acara besar maupun di fasilitas publik yang hendak dilakukan pembukaan bertahap atau uji coba.

“Hal ini nantinya akan memberikan dampak positif kepada sektor kesehatan sekaligus ekonomi masyarakat,” tegas Wiku. (Diana Runtu)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Terkini

To Top