Indonesia

Perkembangan Covid-19 di Berbagai Negara dan Keunikan Indonesia

Jakarta (cybertokoh.com) –

Indonesia memiliki keunikan tersendiri dalam perkembangan kasus Covid-19. Ketika negara lain mengalami puncak ke-2 pada April 2021, Indonesia justru mengalami pelandaian kasus. Ketika Indonesia mengalami puncak ke-2 pada Juli lalu, justru negara lainnya tidak mengalami kenaikan. Ketika negara lain mengalami uncak ke-3, Indonesia justru mengalami pelandaian kasus dan bertahan hingga sekarang.

Hanya pada periode puncak pertama, Indonesia sama dengan negara lainnya. Seperti Amerika Serikat, Malaysia dan Jepang, Indonesia juga mengalami puncak pertama pada Januari 2021. Namun selanjutnya, perkembangan Indonesia berbeda dari lainnya.

Seperti diketahui, Indonesia baru saja melewati atau puncak kedua pada Juli lalu. Sementara dunia saat ini tengah mengalami puncak ke-3 dan sekarang kurvanya sudah mulai melandai perlahan.
“Tiga puncak itu masing-masing terjadi pada Januari 2021 puncak pertama, puncak ke-2 pada April 2021, dan puncak ke-3 pada Agustus-September,” kata Prof Wiku Adisasmito saat menjelaskan tren perkembangan kasus Covid dunia, (14/9/2021), di Graha BNPB yang disiarkan via kanal youtube BNPB Indonesia.

Amerika Serikat, lanjut Prof Wiku, saat juga mengalami puncak ke-3 namun kurvanya sudah terlihat melandai. Pola kenaikan kasus di AS mirip dengan pola kenaikan kasus dunia terutama pada kenaikan kasus bulan Januari 2021 dan September 2021.

“Namun terdapat sedikit perbedaan, pada bulan April 2021, kasus Covid dunia mengalami lonjakan, sedangkan Amerika Serikat mengalami penurunan,” tambahnya. Sedangkan Malaysia dan Jepang, tuturnya, kedua negara ini memiliki pola kasus yang serupa dengan dunia, di mana terjadi 3 kali lonjakan kasus pada bulan Januari 2021, April 2021 dan Agustus-September 2021.
Saat ini, Jepang sudah mulai menunjukkan penurunan, namun Malaysia masih berada di puncak kasus ke-3.

Perkembangan yang paling berbeda dari negara lainnya, kata Wiku, adalah India. India mengalami lonjakan kasus pertama pada September 2020 di mana negara lain belum mencapai puncak kasus pertama. Namun, ketika negara lain mulai mengalami lonjakan kasus di Januari 2021, India malah mengalami penurunana kasus.
Kasus di sana kembali melonjak dan sangat signifikan pada bulan April 2021. Itu menyumbangkan kasus tertinggi pada periode tersebut.

Puncak ke-2 tersebut, paparnya, kembali mengalami penurunan dan hingga kini tren kasus di India menunjukkan kurva mendatar selama 2,5 bulan berturut-turut, di saat negara lain mengalami kenaikan kasus.

September ini, kata Prof Wiku, Indonesia masih mengalami pelandaian kasus. Sementara negara lain mengalami third wave atau gelombang ke-3. “Lonjakan ke 2 di Indonesia pada bulan Juli lalu yang tidak diikuti dengan lonjakan kasus dunia menunjukkan bahwa meskipun Indonesia mengalami kenaikan kasus yang signifikan, namun tidak cukup signifikan untuk berkontribusi pada kenaikan kasus dunia,” jelasnya.

“Lonjakan kasus di Indonesia segera dapat ditangani sehingga kurva menunjukkan pelandaian hingga saat ini,” tambahnya.
Perkembangan yang baik ini, kata Wiku, harus diapresiasi karena menunjukkan ketahanan bangsa dalam menangani pandemic Covid-19. Pihaknya, sangat berterima kasih kepada seluruh masyarakat juga tenaga kesehatan yang tidak kenal lelah menangani pasien, serta kerja sama yang baik seluruh kepala daerah di Indonesia.

Indonesia, tandasnya, memiliki jumlah penduduk yang mirip dengan Amerika, namun ternyata jumlah positif harian di Indonesia jauh lebih kecil dan jumlah kasus per-1 juta penduduk. Bahkan, jumlah tersebut juga masih lebih kecil dibanding negara tetangga yang jumlah penduduknya jauh lebih sedikit daripada Indonesia.

Tugas besar saat ini, kata Prof Wiku, adalah mempertahankan yang telah melandai ini. Ada dua pelajaran utama yang harus menjadi catatan, yakni; pertama, kunci mempertahankan penurunan kasus adalah dengan sungguh-sungguh menjaga prokes seiring dengan pembukaan aktivitas sosial ekonomi masyarakat.

Varian mutasi seperti Delta memang terbukti lebih cepat menular. Akan tetapi, kasus di India di mana varian Delta muncul sejak Oktober 2020, namun kasus melonjak di bulan April 2021. di Indonesia di mana varian Delta ditemukan sejak Januari namun kasus melonjak di bulan Juli.

“Jelas terlihat bahwa lonjakan kasus terjadi bukan semata mata akibat dari varian Delta tapi akibat aktivitas sosial ekonomi masyarakat yang tidak diimbangi dengan pelaksanaan prokes yang tepat,” ungkapnya.

Apabila kita mampu membatasi aktivitas sosial ekonomi, tegas Prof Wiku, dampak dari mutasi varian tidak akan menyebabkan lonjakan kasus yang terlalu signifikan.

Hal kedua yang harus diingat, melihat pola lonjakan di Indonesia berselang 3 bulan dari lonjakan di dunia serta India, Malaysia, Jepang, maka kata Prof. Wiku mengingatkan, kewaspadaan dan kedisiplinan Prokes harus diperkuat agar tidak terjadi third wave atau gelombang ke-3 pada beberapa bulan ke depan.

“Kita dapat belajar dari India mengingat kasus di negara ini telah mendatar selama 2,5 bulan terakhir, meski sempat mengalami kenaikan signifikan,” tandasnya.

Peran Indonesia Secara Global
Dalam kesempatan itu, Prof Wiku juga memaparkan tentang peran yang dapat Indonesia berikan terhadap penanganan Covid secara global. Indonesia, ucap Wiku, adalah bangsa yang besar. Hal ini terukur dari jumlah penduduk serta luas wilayahnya. Sebesar 3,5% penduduk dunia merupakan penduduk yang menetap di Indonesia.

“Sebagai negara kepulauan terluas, luas Indonesia melebihi wilayah Eropa Barat. Karakteristik demografis dan geografis inilah yang menjadi sebuah tantangan, sekaligus keistimewaan bagi Indonesia dalam pengendalian Covid,” kata Prof Wiku yang ahli dalam bidang kebijakan kesehatan dan penanggulangan penyakit infeksi.

Tantangannya adalah, Indonesia berisiko berkontribusi cukup besar terhadap kasus dunia mengingat kepadatan populasi dan banyaknya pintu masuk pendatang ke Indonesia. Namun jika Indonesia mampu mengendalikan Covid dengan baik maka akan memberi pengaruh besar dalam pengendalian Covid secara global. (Diana Runtu)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Terkini

To Top