Sekitar Kita

Ini 9 Varian Covid-19 yang Jadi Sorotan WHO

Jakarta (cybertokoh.com)-

Terdapat 9 varian Covid-19 yang saat ini menjadi sorotan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Empat Varian of Concern (VOC) dan lima Varian of Interest (VOI). Varian yang masuk golongan VOC adalah Alfa, Beta, Delta, Gamma. Sedang yang masuk golongan VOI adalah Eta, Iota, Kappa, Lambda dan Mu.

“Setiap varian memiliki karakteristik yang khas,” jelas Prof Wiku Adisasmito dalam keterangan pers terkait Perkembangan Penanganan Covid-19 di Indonesia di Graha BNPB, yang disiarkan via kanal youtube BNPB Indonesia, Jumat sore (10/9).

Sambil menunjukkan ilustrasi yang terpampang di layar, Wiku menjelaskan karakteristik 4 varian VOC. Varian Alfa, jelasnya, bersifat lebih menular dan lebih berpeluang menyebabkan keparahan gejala. Varian Beta dan Gamma bersifat lebih menular serta meningkatkan risiko kebutuhan perawatan di rumah sakit, dan varian Delta bersifat lebih menular bahkan bagi orang yang telah tervaksin sekalipun serta meningkatkan risiko kebutuhan perawatan di rumah sakit.

“Respon yang tepat dalam menghadapi keberadaan VOC ini adalah memperketat kebijakan mobilitas dengan skrining berlapis, khususnya bagi pelaku perjalanan asal negara di mana varian tersebut ditemukan,” tegas Prof Wiku.

Selain itu perlu dilakukan peningkatan kewaspadaan terhadap potensi tertular dengan meningkatkan kedisiplian protokol kesehatan dimana pun kapan pun kita berada.

Saat ini, lanjut Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan Covid, ini, WHO melaporkan per-hari ini (Jumat, 10/9), terdapat 5 jenis varian yang menjadi perhatian atau tergolongkan VOI. Yaitu, Eta, Iota, Kappa, Lambda dan Mu.

“Varian-varian yang masuk dalam kategori VOI diperediksi dapat mempengaruhi karakteristik virus, dilihat dari perubahan genetiknya maupun karena pengaruhnya terhadap transmisi di komunitas termasuk memunculkan klaster kasus di beberapa negara. Sehingga respon yang tepat dalam menghadapi keberadaan varian VOC ini ialah terus memantau perkembangan informasi dari WHO,” tambahnya.

Menurut Wiku, terdapat dua kemungkinan yang dapat terjadi seiring dengan studi lanjutan yang dilakukan, yaitu, berubahnya status VOI menjadi VOC sebagaimana yang dialami varian Delta, atau statusnya berubah menjadi dorman atau tidak aktif di suatu wilayah.

“Untuk itu, jangan terlalu panik! Tetap waspada dengan terus meningkatkan kedisiplinan menjalan prokes,” tegasnya.
Selain dua kategori utama yaitu VOC dan VOI, WHO juga memperhatikan varian yang memiliki perubahan pada materi genetikanya namun pengaruhnya pada angka kasus di masyarakat masih belum jelas sehingga masih diperlukan studi lebih lanjut.

Kategori tambahan ini disebut sebagai alert for further monitoring (waspada untuk pemantauan lebih lanjut). Salah satunya adalah varian yang berasal dari Indonesia yaitu B 14662 yang ditetapkan dalam kategori tersebut pada 28 April 2021.

Sebagaimanan disampaikan pada beberapa kesempatan lalu, kata Prof Wiku, bahwa memang diakui adanya pengaruh negative varian, khususnya VOC terhadap efektivitas vaksin maupun alat diagnostic. Namun dalam masa kedaruratan seperti ini, dinamika seperti ini perlu ditanggapi dengan cermat. Yaitu dengan meningkatkan kewapadaan. Tanpa terlalu takut berlebihan dan melakukan pembelajaran dan perbaikan tiada henti.

Pembelajaran dari hasil monitoring dan evaluasi di lapangan, tambahnya, seharusnya menjadi atmosfir keilmuan dan perkembangan teknologi semakin pesat di kalangan peneliti dan pakar di Indonesia.
Juga, mendorong segera mempercepat memenuhi kebutuhan vaksinasi bahkan melampaui standar minimal cakupan vaksinasi di komunitas karena efektivitas vaksin yang masih di atas ambang minimal yaitu lebih dari 50%, dan, terus berupaya menekan laju penularan di segala lini kehidupan masyarakat.

Ke depannya, kata Wiku, seiring dengan proses hidup bersama Covid, pemerintah berkomitmen meningkatkan surveilans atau pencatatan kasus Covid 19, meningkatakan kapasitas sekuensing, menyampaikan info sebaran varian di indoensia secara transparan serta lebih antisipatid mendeteksi kasus yang tidak biasa di lapangan .

Edukasi terkait data sekuensing kepada publik dan pemerintah daerah, ujar Wiku lebih jauh, merupakan tanggung jawab pusat. Karenanya, komunikasi edukasi ini harus disampaikan dengan jelas. Harapannya, agar pemerintah daerah dapat sesegera mungkin mengakses dan menavigasi data tersebut sehingga dapat melakukan antisipasi maksimal apabila ditemukan varian baru.
“Kerja sama yang baik antara pusat dan daerah merupakan salah satu kunci untuk menangani Covid di Indonesia,” tegas Prof Wiku. (Diana Runtu)

To Top