Sekitar Kita

Hidup Berdampingan dengan Covid-19? Begini Solusinya

Badung (cybertokoh.com) –

Pandemi Covid-19 belum menunjukkan kapan akan berakhir. Namun kita tidak boleh menyerah begitu saja. Berbagai upaya harus dilakukan semua elemen mulai dari masyarakat hingga pemerintah. Apa solusinya?

“Akhirnya selesai juga vaksin dosis kedua. Ada tambahan semangat setelah vaksin Covid-19. Walaupun bukan jaminan bisa bebas dari paparan Covid-19, namun tubuh sudah punya perlindungan,” ungkap Ngurah Ana Semaya usai mengikuti vaksinasi di Balai Banjar Samu, Mekar Bhuwana, Badung, Sabtu (4/9).

Ia menuturkan selama pandemi Covid-19 dirinya sempat diliputi kecemasan karena penyakit ini bisa menyerang siapa saja. Selain berdampak terhadap kesehatan, pandemi juga merambah ke sektor perekonomian.

“Paling terasa di jalanan di daerah pariwisata, suasana sepi dan banyak toko atau kios tutup. Ini mulai sejak pertengahan tahun 2020. Tetapi, belakangan sudah mulai lagi ada geliat kehidupan, jalan-jalan agak ramai. Ini jadi indikasi, perekonomian bangkit,” ujar pengusaha furnitur ini.

Ia pun berharap kebangkitan ekonomi ini sejalan dengan penerapan disiplin protokol kesehatan. Pesan yang terus digaungkan pemerintah, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, dan menjaga jarak wajib dilaksanakan.

Sementara itu Kelian Dinas Banjar Samu, Desa Mekar Bhuwana, Badung I Gusti Agung Swadyaya tak henti-hentinya mengingatkan masyarakat untuk menerapkan prokes pencegahan penyebaran Covid-19. Grup WhatsApp Banjar Samu menjadi media informasi tentang sosialiasi dan edukasi prokes.

“Vaksinasi Covid-19 sebagai program pemerintah pun sudah kami laksanakan. Warga yang tercecer saat vaksinasi di balai banjar, kami arahkan ke puskesmas atau ke lokasi lain. Semua harus dapat dosis lengkap. Ini bagian dari mewujudkan program pemerintah untuk membentuk herd immunity,” tegasnya.

PATUHI PROTOKOL KESEHATAN

Pemerintah kini sedang menyusun strategi jangka panjang menyikapi kemungkinan pandemi Covid-19 akan tetap ada dalam waktu lama. Pilihan terbaik bagi masyarakat saat ini adalah tetap menegakkan disiplin prokes sebagai jalan menuju tatanan kehidupan baru. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah mengingatkan agar negara-negara termasuk Indonesia, mempersiapkan diri mengambil langkah-langkah.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Maxi
Rein Rondonuwu, mengatakan sejak awal Agustus 2021 pemerintah telah menyusun kajian dan strategi hidup berdampingan dengan virus Corona. “Tampaknya virus Corona penyebab Covid-19 akan hidup cukup lama bersama dengan kita, bisa tahunan. Strateginya adalah bagaimana menjalani hidup normal dengan mematuhi protokol kesehatan sembari menjalankan aktivitas perekonomian dengan aman,” ujar Maxi Rein dalam dialog virtual Semangat Selasa Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) – KPCPEN, Selasa (7/9)

Untuk itu, pemerintah melakukan upaya persuasif agar masyarakat melakukan prokes ketika berada di ruang publik. “Misalnya masuk dan keluar melalui pintu berbeda, memindai barcode PeduliLindungi, pakai masker, cuci tangan, dan menjaga jarak,” ujar Maxi.

Ia menambahkan, prokes merupakan dasar tatanan hidup baru bagi masyarakat. “Tidak ada pilihan lain selain disiplin menjalankan protokol kesehatan sebagai salah satu kebiasaan baru,” tegasnya.

Pemerintah saat ini menyiapkan peta jalan hidup bersama Covid-19 melalui asesmen terkait kebiasaan baru di level tertentu. Asesmen ini disesuaikan dengan status wilayah, misal level 1 dan 2 agak longgar dibandingkan dengan level 3 dan 4. Pemerintah juga menguatkan strategi tracing, testing, treatment (3T), serta percepatan vaksinasi. Saat ini, rata-rata kasus harian Covid-19 di Indonesia sudah menurun.

“Semua itu tak lepas dari partisipasi masyarakat sehingga membuat kasus harian Covid-19 Indonesia menurun. Indikator BOR (Bed Occupancy Rate) juga membaik, saat ini di bawah 20%. Demikian juga indikator kematian harian di bawah 500 per hari,” ungkap Maxi.

VAKSINASI ON THE TRACK

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) juga mampu menekan angka mobilitas masyarakat. PPKM menekan mobilitas 20-30% sehingga dapat menurunkan laju penularan. Namun penurunan ini jangan membuat euforia dan lengah sehingga abai prokes, misalnya tidak memakai masker. Abai prokes bisa membuat kasus COVID-19 kembali naik.

Maxi menekankan, dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam, mobilitas masyarakat Indonesia relatif rendah. “Filipina berhasil menekan mobilitas bisa sampai 25-30% namun kasus naik. Sedangkan Vietnam mobilitas masih tinggi 60-70% sehingga kasusnya naik,” ujarnya.

Kasus Covid-19 berbanding lurus dengan kesadaran masyarakat dalam mematuhi prokes. Namun diakui mengubah perilaku masyarakat tidaklah mudah sehingga harus selalu diingatkan agar kasusnya yang menurun tidak naik lagi.

Maxi menambahkan, menurunnya kasus positif Covid-19 juga terkait dengan upaya percepatan vaksinasi yang dilakukan pemerintah untuk mencapai target herd immunity 208 juta penduduk yang mendapatkan dosis vaksin lengkap. Dalam hal ini dibutuhkan sekitar 400 juta dosis vaksin.

Hingga akhir Agustus, sekitar 100 juta dosis vaksin Covid-19 sudah disuntikkan. “Program vaksinasi on the track. Percepatan vaksinasi berjalan seiring dengan ketersediaan vaksin. Mulai Agustus, stok vaksin di Indonesia mulai banyak sehingga bisa dilakukan vaksinasi 1,5 juta – 2 juta vaksinasi per hari. Untuk September ditargetkan bisa tersedia vaksin 80 juta, dengan demikian bisa dilakukan vaksinasi 2,3 juta – 2,5 juta vaksin per hari agar tercapai herd immunity hingga akhir tahun. Tapi yang terpenting adalah dilakukan vaksinasi sebanyak-banyaknya,” tutur Maxi.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan tenaga kesehatan, TNI/Polri, swasta, dan masyarakat dalam mendukung vaksinasi.

Sementara itu, Guru Besar FK UI dan anggota Komite Penasihat Ahli Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), Prof. DR. dr. Soedjatmiko, SpA (K), MSi., mengatakan vaksinasi Covid-19 Indonesia berada di posisi enam besar dunia.

“Kita bersyukur pemerintah bekerja keras bisa mendapatkan vaksin dengan cepat, dan masyarakat juga sadar menjaga prokes serta mau divaksinasi sehingga kasus Covid-19 menurun. Yang penting adalah menjaga agar tidak terjadi gelombang ketiga,” ujarnya.

Prof Miko menegaskan, agar bisa hidup berdampingan dengan virus corona, harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga agar jangan sampai kemasukan virus. “Agar tidak sakit, virusnya tidak bisa bermutasi, maka harus taat prokes. Kalau virus masuk ke dalam tubuh, maka bisa bermutasi dan berubah sifat, misalnya lebih cepat menular dan tidak mempan vaksin,” ujarnya.

Ia menekankan, vaksin bukanlah perlindungan utama. Yang utama adalah virus jangan masuk ke tubuh melalui hidung, mata dan mulut. Caranya patuhi prokes, pakai masker dengan benar, jangan longgar, jangan melorot, harus menutup hidung mulut dan dagu, cuci tangan dan jaga jarak.
Dengan memakai masker yang benar, maka kita akan terlindung dari virus varian apapun, khususnya saat berada di fasilitas umum.

Dokter yang juga influencer, dr Nadia Alaydrus menekankan, dengan PPKM yang dilonggarkan bukan berarti tidak patuhi prokes. Dari 5M tidak bisa hanya pakai masker saja, namun juga harus
cuci tangan, jaga jarak, jauhi kerumunan, dan kurangi mobilitas. Jika tidak mau ada mutasi virus dan gelombang penularan baru. Ia berharap agar semua orang menahan diri untuk tidak kumpul-kumpul dulu.

Nadia menambahkan selain patuh prokes dan vaksinasi, hal yang tak kalah penting adalah menjaga daya tahan tubuh dan menjalankan pola makan sehat.

Sebagai penutup, Maxi Rein menekankan, hidup berdampingan dengan Covid-19 berarti masyarakat harus siap dan bersedia menerapkan prokes, bersedia dilakukan tracing dan testing, serta vaksinasi. Bagi yang belum vaksin, datanglah untuk mendapatkan vaksin untuk lindungi diri sendiri dan orang lain. (Ngurah Budi)

To Top