Life Story

Keberhasilan Teman Jadi Motivasi Hadapi Covid-19

Badung (cybertokoh.com) –

Pandemi Covid-19 memberikan pengalaman dan pelajaran berharga. Ketika terjangkit Covid-19, banyak hal yang dialami, namun kita tidak boleh menyerah. Hal ini diungkapkan Dr. I Ketut Sudantra, S.H., M.H., salah satu penyintas Covid-19. Dosen Fakultas Hukum Universitas Udayana ini menceritakan pengalamannya di media sosial dan mengizinkan cybertokoh untuk mengutipnya.

“Saya sampaikan saya terinfeksi Covid-19. Itu sebabnya dalam 2 minggu itu saya tidak angkat telepon atau balas chat WA teman-teman dan saudara. Saya tak ingin membuat semuanya khawatir dan merasa tidak bisa berbuat apa-apa karena memang tidak ada yg bisa dilakukan. Lagi pula, saya sendiri sedang berjuang menghadapi situasi krisis yang serba tak menentu. Saya hanya balas chat WA untuk hal-hal urgen. Untuk itu saya mohon maaf,” ujarnya awal Agustus 2021.

Sudantra menuturkan awalnya  sang anak demam tinggi dan kehilangan daya penciuman. Ia pun menemani anaknya rapid test antigen di klinik Faskes 1. Hasilnya positif dan petugas minta segera ke klinik Covid-19 RSUD Mangusada untuk test PCR dan mendapat penanganan lebih lanjut. Karena saat itu malam, mereka putuskan ke klinik keesokan harinya.

“Setelah melalui serangkaian tes, petugas medis di klinik Covid dengan hati-hati sekali menjelaskan, anak saya ada indikasi mesti dirawat (demam tinggi, saturasi oksigen di bawah batas normal). Tetapi karena kondisi ketersediaan fasilitas perawatan pada waktu itu sangat terbatas disarankan isolasi mandiri di rumah, dengan catatan kalau kondisi memburuk supaya segera ke UGD. Jadilah anak saya isolasi mandiri di rumah dengan paket obat cukup untuk 5 hari,” kenang Doktor Ilmu Hukum lulusan Universitas Brawijaya, Malang ini.

Ternyata, malam harinya Sudantra mulai merasakan kondisi tak nyaman. Ia mulai demam ringan (37,2 Celcius). Bersama sang istri, Wayan Wikarsih, mereka memutuskan rapid test antigen. “Hasilnya, saya positif sedang istri negatif. Segera semua jadwal acara dalam waktu dekat saya batalkan, termasuk janji saya kepada  Komang Darman di IAHN-TP Palangka Raya untuk menjadi salah satu pembicara webinar yang sudah dijadwalkan. Saya sangat menyesal dan minta maaf atas pembatalan mendadak itu,” ungkap dosen yang gemar berkebun ini.

Ia kemudian melakukan swab PCR dan minta solusi terbaik. Setelah melewati serangkaian tes, Sudantra diminta isolasi mandiri (isoman) di rumah karena dianggap bergejala ringan. “Isoman di rumah menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Sembako tidak masalah karen sudah ada teman istri yang ngurus dan beberapa teman yang baik hatinya mengirimi kami paket sembako. Selebihnya kami beli online. Selain tidak adanya pengawasan tenaga medis, tantangan terberatnya adalah memproteksi istri, jangan sampai tertular.  Istri juga ada komorbid dan di bulan Juni lalu 2 kali ke UGD karena sesak. Walau kami berbagi kamar dan kamar mandi masing-masing, tetapi kami hanya punya satu dapur. Terasa sangat aneh, sebagai suami-istri, kami ke dapur bergiliran setelah sebelumnya berkomunikasi melalui HP,” kenang Sudantra.

Reaksi tubuh terhadap virus Covid-19 ternyata berbeda-beda. Anak Sudantra, walau sebelumnya bergejala lebih berat, demamnya sudah reda dan daya penciumannya kembali pulih di hari ke-5. Sedangkan Sudantra masih berjuang menghadapi krisis sampai hari ke-10, demam naik turun, nafas pendek-pendek, tidak bisa tidur, halunisasi dan tidak ada nafsu makan. Daya penciuman baru pulih kembali di hari ke-11 sejak timbulnya gejala.

“Dalam perjuangan melalui masa-masa kritis, saya di tag di FB oleh teman Gabriel Audrey dan M Nur Yasin mengabarkan tiga teman kami seangkatan di S3 FH Universitas Brawijaya berturut-turut dalam dua minggu, telah mendahului kami dipanggil Tuhan. Itu membuat saya sedih tetapi tidak cukup tenaga untuk memberi komen sekadar turut berduka. Di sisi lain, keberhasilan beberapa teman menghadapi serangan Covid-19, seperti Pak Dipo dan istrinya Ratnawati,  membawa motivasi buat saya untuk terus berjuang.  Astungkara, berkat anugrah Hyang Widi, kami masih diberi kekuatan,” ujar Sudantra.

Kini badai telah berlalu. Sudantra sekeluarga bisa melewatinya. “Kami sangat berimakasih atas kebaikan dan doa teman-teman serta saudara-saudara tercinta. Semoga Tuhan membalasnya. Bagaimanapun, kehidupan mesti tetap dilanjutkan,” tegasnya.

Prosedur Isolasi Mandiri

Dalam kesempatan lain, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito meminta masyarakat yang dinyatakan positif Covid-19 tidak bergejala atau bergejala ringan untuk menjalani isolasi mandiri yang baik dan benar. Serta melakukan tindakan sedini mungkin bagi anggota keluarga yang melakukan kontak erat dengan pasien Covid-19.

Isolasi mandiri di rumah hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang tidak bisa mendapatkan lagi fasilitas isolasi terpusat dan kasus positif tanpa gejala atau bergejala ringan. Dalam melakukan isolasi mandiri di rumah, juga perlu memperhatikan prosedur isolasi mandiri yang baik dan benar.

Persiapan isolasi mandiri dilakukan mulai dari menyiapkan stok obat-obatan dasar seperti vitamin C, D, ZN (zinc) atau jenis obat-obatan lain sesuai anjuran dokter. Mempersiapkan alat-alat kesehatan dasar seperti thermometer atau alat pengukur suhu badan dan oxymeter yang mengukur saturasi oksigen. Mempersiapkan masker dan cairan disinfektan yang dapat terbuat dari air dengan sabun atau deterjen maupun cairan disinfektan dalam jumlah yang cukup. Mempersiapkan ruangan terpisah yang tidak terakses oleh anggota keluarga lainnya. Mempersiapkan daftar kontak orang terdekat dan terpercaya maupun hotline penting untuk kebutuhan darurat.

“Saat isolasi mandiri, tenerapkan pola hidup bersih yang sehat dengan berolahraga 3 -5 kali seminggu, makan makanan gizi seimbang, mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas,” ungkap Prof Wiku.

Pengelolaan sampah dan limbah harian harus dilakukan dengan hati-hati oleh pendamping, minimal yang menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Lalu, barang habis pakai setelah digunakan harus disimpan dalam wadah tertutup, sedangkan barang tidak habis pakai harus dibersihkan terpisah dengan barang yang digunakan oleh anggota keluarga lainnya.

Lakukan disinfeksi rutin khususnya kepada alat rumah tangga yang sering disentuh contohnya gagang pintu, kran, toilet, wastafel, saklar, meja atau kursi. Ruangan isolasi mandiri mendapat sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik secara rutin dengan membuka jendela kamar.

Pasien isoman juga harus rutin mencatat perkembangan gejala suhu tubuh, laju nafas maupun saturasi oksigen perharinya dengan alat kesehatan yang dimiliki. Untuk memudahkan proses pencatatanan yang akurat oleh petugas Puskesmas yang mengawasinya. “Pastikan isolasi mandiri 10 hari untuk kasus tanpa gejala dan 10 hari dengan kasus gejala ringan dengan tambahan 3 hari dalam keadaan tanpa gejala. Jika terjadi perburukan kondisi, yang umumnya disertai gejala demam, batuk, sesak nafas cepat, dengan frekuensi lebih dari 30 kali  permenit maka segera hubungi nomor darurat dan layanan dokter atau petugas puskesmas setempat. Pastikan protokol saat memobilisasi pasien ke puskesmas atau rumah sakit diterapkan secara ketat. Menggunakan ambulan milik pemerintah setempat dengan petugas yang memiliki APD lengkap,” pesan Prof Wiku. (Ngurah Budi)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Terkini

To Top