Edukasi

“Self Healing” Asah Kemampuan Hadapi Masalah

Denpasar (cybertokoh.com) –

Pandemi Covid-19 menimbulkan efek yang beragam. Hampir semua aspek kehidupan terdampak. Dimensi kesehatan, baik fisik maupun mental menjadi bagian yang juga mengalami dampak. Ada yang terjangkit Covid-19, ada yang bisa sembuh, bahkan ada yang meninggal dunia. Semuanya meninggalkan “bekas” di memori seseorang maupun keluarga. Bagaimana cara mengatasinya?

Mantan Presiden SBY sempat viral setelah unggahan lukisannya di media sosial. SBY mengatakan melukis sebagai self healing untuk melupakan kepergian istrinya. Melukis menjadi bagian dari self healing dan bisa menjalani hari-hari selanjutnya.

Kehilangan itu menyedihkan tetapi kita tidak boleh menyerah. Apalagi saat pandemi Covid-19 ini banyak orang yang kehilangan keluarga, sahabat, dan tetangga karena terjangkit Covid-19. Sebagai orang yang ditinggalkan, tentu ada kesedihan mendalam, namun jangan sampai ini menyebabkan pikiran ikut sakit.

Ni Ketut Jeni Adhi, M.Psi, Psikolog mengatakan self healing adalah suatu proses penyembuhan sendiri luka batin atau mental yang dilakukan secara mandiri. “Luka batin dapat disebabkan banyak hal, seperti trauma masa lalu, kegagalan yang mengecewakan, perasaan cemas, kesedihan yang picu terjadinya stres dan depresi,” ujar dosen Psikologi di Universitas Dhyanapura ini.

Ia menjelaskan ada dua hal yang perlu dilakukan sebelum melakukan self healing. Pertama, mengenali masalah. Manusia terdiri dari ranah pikiran, perkataan, perbuatan yang mungkin bisa menyebabkan terjadinya masalah. “Penting untuk kenali sumber masalah, apakah dari pikiran, perkataan, atau perbuatan atau gabungan semua,” ungkap owner Konsultan Psikologi Tema Insani ini.

Kedua, mengenali konflik yang terjadi, apakah terjadi dalam diri sendiri apa dengan orang lain. Kalau konflik dalam diri sendiri misalnya badan terasa tidak enak, tapi harus melakukan sesuatu. Contoh konflik dengan orang lain itu misalnya ada perselisihan pendapat. Semua harus dijabarkan satu persatu konflik tersebut sehingga kita tahu mana yang sedang kita alami.

Jeni yang aktif di kegiatan pemberdayaan perempuan dan anak serta parenting serta sedang proses menulis buku Antologi “Perempuan dan Impian”ini menambahkan metode self healing secara umum ada enam.
Pertama, menerima keadaan. Saat luka, orang cenderung sulit melupakan. Karena itu perlu berdamai dengan keadaan, karena ini adalah proses. Kedua, me time. Luangkan waktu untuk diri sendiri untuk menghibur diri seperti melukis, main musik, memasak, dan yang lain. “Saya termasuk orang yang menghibur diri dengan memasak. Tiap minggu, ada saja menu baru yang saya coba,” ujar ibu dua putri ini.

Ketiga, berdialog dengan diri sendiri. Tanyakan apa yang kita inginkan, jujur pada diri sendiri. Caranya bisa dengan meditasi. Keempat, mindfulness. Berpikir dengan penuh kesadaran, sehingga membawa aktivitas pada kondisi sadar. Misal saat kita sedang menulis, harus fokus menulis, penuh kesadaran, dan pikiran tidak kemana-mana. Kelima, self compassion, kemampuan memahami dan merespons emosi dalam diri. Kita harus kenali emosi diri, apakah emosi positif apa emosi negatif, agar kita mampu mengontrol dan tidak berlebihan dalam memberi respons. Keenam, tempatkan masa lalu pada tempatnya sebagai segala sesuatu yang dapat dijadikan pelajaran.

Orang memilih melakukan self healing tergantung personalnya. “Kadang ada yang tidak menyadari, dia bisa atasi masalah sendiri, tanpa melibatkan orang lain. Ini akan menjadi suatu penilaian dalam diri, saya mampu. Secara ekonomis, ini lebih hemat dan tidak keluar banyak biaya. Self healing juga sebagai proses belajar dan tumbuh dewasa,” tegas Jeni.

Ketika orang mampu melakukan self healing, akan makin terasah kemampuannya dalam belajar menghadapi masalah. Selain itu, makin peka terhadap diri akan menciptakan self love dan bisa atasi masalah sendiri.

Kekurangannya, sering terjadi keraguan dalam diri, bisa atau tidak lakukan self healing karena semua proses dilakukan sendiri. Keyakinan seringkali teruji. Karena itu, sebelum melakukan self healing, perlu ada mentor atau panduan. Terkadang tidak punya motivasi tinggi dalam diri saat melakukan self healing. Karena ketidakkonsistenan dalam berproses, penyembuhan menjadi tidak tuntas.

Dalam situasi pandemi Covid-19 ini, Jeni memberi kiat bagi yang ingin melakukan self healing. Pertama, akui ketidaknyamanan yang dirasakan, jangan ditolak. Kedua, pahami akan terjadi hal menyakitkan dalam hidup, kita tidak bisa memilih selalu dalam posisi baik saja. Ketiga, tidak menghindari hal yang membuat trauma dan harus berdamai dengan keadaan. Misalnya, jika terjangkit Covid-19, istirahatlah dan konsumsi obat sesuai anjuran medis. Keempat, sadari ada kejadian di luar kendali, karena itu terapkan protokol kesehatan jaga imunitas tubuh, dan pola hidup sehat agar tidak mudah terpapar Covid-19. Kelima, kalau ada kesulitan terapkan self healing, cari mentor. Mentor bertugas memberi motivasi dari luar diri untuk menghindari inkonsistensi saat melakukan self healing. (Ngurah Budi)

To Top