Sekitar Kita

Kelola Stres Saat PPKM, Ini Kuncinya

Denpasar (cybertokoh) –

Presiden Jokowi memutuskan perpanjangan PPKM Level 4 di Jawa dan Bali hingga 2 Agustus 2021. Kebijakan ini diambil pemerintah untuk terus menekan pertambahan kasus Covid-19. Di sisi lain, masyarakat mengalami dampak dari penerapan kebijakan ini, mulai dari penyekatan jalan, razia kartu vaksin, work from home, hingga pengaturan buka-tutup tempat usaha. Ini rentan menimbulkan stres jika kita tidak bisa mengelola situasi. Bagaimana menghindari stres saat pandemi Covid-19 dan penerapan PPKM?

Situasi saat ini memang tidak mudah, mulai dari awal pandemi Covid-19 hingga PPKM level 4. Di jeda tersebut memang sempat agak longgar, sehingga orang-orang bisa bertemu teman, mengobati kerinduan. Namun kini ketat lagi, masyarakat harus kembali membatasi aktivitas ataupun rutinitasnya yang dapat memicu terjadinya stres.

“Seseorang dapat mengalami stres karena adanya stressor, yaitu situasi yang menekan dalam hal ini pembatasan aktivitas, rutinitas atau kebiasaan. Misalnya, tidak bisa makan di resto favorit, ada agenda yang sudah direncanakan akhirnya harus ditunda karena ada pembatasan, kegiatan dibatasi. Kondisi seperti ini menyebabkan stres ketika individu tidak siap dan sulit menerima situasi yang ada atau kurang fleksibel terhadap situasi yang ada,” ungkap Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi, M.Psi, Psikolog.

Padma menjelaskan beberapa individu bisa saja tidak mudah stres dan mampu mengelola stresnya. Hal ini didukung dengan psychological flexibility atau lebih bisa menyikapi sesuatu yang tidak pasti secara fleksibel. “Kesediaan seseorang untuk menerima situasi dan belajar dari pengalaman juga menjadikan mereka bisa mengelola stres. Jadi lebih bisa mengantisipasi dan siap akan setiap kemungkinan yang terjadi. Kemampuan lainnya adalah resiliensi, daya lenting baik. Kemampuan ini menjadikan individu dapat memaknai situasi secara positif dan mampu bangkit dari pengalaman buruk yang dialami sebelumnya. Lebih bisa legowo,” ungkap psikolog di Klinik Utama Bunga Emas, Denpasar ini.

Orang yang open minded juga akan terbuka dengan setiap kemungkinan yang terjadinya pada dirinya, keluarga dan orang lain. Tipe orang seperti ini fokus kepada solusi, bukan kepada masalah.

“Meminimalkan stres saat pandemi, akan berbeda pada masing-masing individu karena sudut pandang dan jenis tekanan yang dialami berbeda-beda pula. Ada tekanan dari sisi keluarga, pekerjaan, sisi pendidikan, bahkan semua sisi. Pendekatan manajemen stres tiap individu pun akan beda. Secara umum, yang bisa dilakukan adalah menyadari dan menerima bahwa semua sedang dalam situasi pembatasan yang serupa. Memahami bahwa kita melakukan hal ini untuk kebaikan bersama,” ujar lulusan Magister Psikologi Profesi UGM Yogyakarta ini.

Padma mengingatkan, kuncinya bukan menghindari stres, karena stressor pasti tetap ada atau datang. Hal terpenting adalah bagaimana kita bisa mengelolanya. Kita tetap sehat dan fit. Beri jarak terhadap terhadap sumber stres. Misalnya, stres karena pekerjaan, mundurlah sebentar dari sumber stres. Kalau sudah lebih tenang boleh hadapi lagi pekerjaan itu.

“Menghibur diri dengan tertawa dan humor juga strategi untuk kelola stres. Bisa juga lakukan hobi. Pengalaman pribadi saya, latihan napas penting juga. Breath in dan breath out untuk melegakan dan memberikan ruang bagi udara ke seluruh tubuh. Belajar untuk fokus disini dan saat ini agar kita bisa membatasi informasi dan suasana hati. Fokus pada apa yang bisa dilakukan saat ini dan disini. Saat situasi pandemi, sempatkan berada di udara bebas sekalian berjemur,” ujar dosen Psikologi di Universitas Udayana.

Tidak mudah untuk tetap semangat di saat pandemi ini. Tetapi coba untuk mengenali diri, apa yang dapat membuat kita bahagia. Tiap individu punya perbedaan. Ada yang bahagia dengan masak, berkebun, bernyanyi, main games, dan kegiatan positif lainnya. Jadi berkenalanlah dengan diri kita.

Happy saja tidaklah cukup, cobalah stay positive. Maksudnya, bukan menolak situasi yang ada, merasa baik-baik saja, dan aman lalu bisa lalai. Tetap positif artinya lebih bisa melihat hal-hal positif dari pengalaman dan lebih menerima. Misalnya sudah terkonfirmasi positif, bisa menerima keadaan, bisa melindungi orang sekitar, tidak menularkan ke yang lain. Jadikan pembelajaran ketika sudah terpapar. Apa yang kita pelajari dan perbaiki. Misalnya kehilangan pekerjaan atau prestasi menurun apa yang bisa dimaknai” ujar ibu satu putri ini.

Di masa pandemi Covid-19, imunitas kuat harus dibarengi dengan tetap istirahat yang cukup. Ini menjadi pembelajaran juga bagi Padma. Ia pun mengingatkan dalam situasi ini, asupan nutrisi harus baik. Makan makanan yang sehat dan gizi seimbang sangat dibutuhkan. Olahraga juga perlu, minimal 30 menit sehari. “Kita punya 24 jam sehari, luangkan waktu 30 menit olahraga akan buat imun lebih baik. Hasil riset, hormon kebahagiaan pun meningkat. Pendekatan spiritual juga penting dengan berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Perilaku menolong juga dapat meningkatkan rasa keberhargaan kita dan kebahagiaan kita yang berkaitan dengan kekebalan tubuh,” tegasnya. (Ngurah Budi)

To Top