Bunda & Ananda

KPAI Minta Pemerintah Beri Bantuan pada Anak yang Kehilangan Orangtua Akibat Covid-19

Jakarta (cybertokoh.com) –

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sepakat dengan pernyataan Ketua DPR Puan Maharani bahwa anak-anak yang kehilangan orangtua akibat Covid-19, perlu mendapat bantuan dan itu bisa dianggarkan melalui APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara). Demikian disampaikan Retno Listyarti, Komisioner KPAI bidang Pendidikan, di Jakarta, Selasa (27/7).

Pemerintah daerah dan pemerintah pusat, ujar Retno, perlu segera memilah data dan mengumumkan anak-anak di bawah umur yang kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya.

“Pemetaan wilayah di mana anak-anak itu tinggal juga penting, agar intervensi negara bisa dilakukan melalui dinas-dinas terkait di daerah maupun Kementerian Sosial dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA),” ucapnya.

Hal lainnya, lanjut Retno, setelah data diperoleh maka Pemerintah harus berfokus untuk segera menyediakan dukungan psikososial dan ekonomi pada anak-anak yang kehilangan orangtua dan pengasuh mereka akibat pandemi. Karena, anak-anak yang kehilangan pengasuh dalam waktu singkat lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental, penyakit kronis serta penyalahgunaan zat terlarang saat dewasa.

“Pemerintah juga perlu membangun komunikasi dengan masyarakat tentang perlunya keluarga mempersiapkan mitigasi risiko. Di dalam mitigasi risiko, ketika ayah atau ibu terpapar Covid-19 dan sedang menjalani isolasi mandiri, mereka perlu sesegera mungkin berbicara dengan anggota keluarga besar tentang siapakah yang selanjutnya akan merawat dan membesarkan anak-anak mereka jika hal yang terburuk terjadi. Mitigasi ini perlu terutama jika anak yang ditinggalkan masih balita atau masih di bawah umur,” ungkap Retno panjang lebar.

Ditambahkan Retno, KPAI setuju dengan apa yang diungkap Ketua DPR Puan Maharani beberapa waktu lalu tentang dampak pandemic Covid terhadap anak-anak Indonesia.

Kala itu Puan mengatakan, anggaran negara untuk penanganan Covid-19, memang penting untuk digunakan penanggulangan masalah kesehatan dan ekonomi rakyat terdampak pandemi. Namun, belanja untuk perlindungan anak juga hal yang tak kalah penting.
Puan menyebut anak-anak Indonesia hari ini adalah bicara nasib bangsa ke depan. Jika anak-anak Indonesia hari ini banyak yang putus sekolah dan depresi karena pandemi dan menjadi yatim piatu, bangsa ini yang akan menerima dampaknya dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan.

“KPAI sepakat dengan pernyataan Ketua DPR RI dan berharap bantuan untuk ribuan anak Indonesia yang kehilangan salah satu atau kedua orangtuanya akibat Covid dapat dianggarkan melalui APBN,” ujar Retno Listyarti.

KISAH PILU
Ada banyak kisah sedih yang dialami anak karena pandemic, kata Retno. Salah satunya dari Kalimantan Timur. “Kepiluan ini dialami oleh dua bocah laki-laki di dua daerah berbeda, Alviano Dava Raharjo di Kutai Barat dan Arga di Kutai Kartanegara (Kukar), harus kehilangan ayah dan ibu kandungnya karena Covid-19,” tutur Retno.

Vino, begitu nama panggilan Alviano, berusia 10 tahun, harus hidup seorang diri setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Ayah dan ibu Vino meninggal tepat pada hari raya Idul Adha, 20 Juli karena terpapar Covid-19. Vino sendiri sempat menjalani isolasi mandiri ditemani keluarga ayahnya.

Duka mendalam juga dirasakan oleh Arga. Bocah laki-laki berusia 13 tahun itu juga ditinggal ayah dan ibu kandungnya karena Covid-19. Arga terlihat menghadiri pemakaman ibunya bahkan mengadzankan, Deasy Setiawati (40) di permakaman Muslimin Kelambu Kuning Tenggarong, Kukar. Dua hari sebelumnya, Arga ditinggal sang ayah, Alihusni (45).
Arga juga masih menunggu kondisi dua saudaranya, yakni Arya (17) dan Abai (10) membaik. Kakak dan adik Arga itu, saat ini masih menjalani isolasi di Wisma Atlet Tenggarong Seberang. Sedangkan saudaranya yang paling kecil, Dilla (4), menjalani isolasi mandiri di rumah kerabatnya.

Kisah lain datang dari Solo, Jawa Tengah, pada awal Juli 2021, Sarjono positif terpapar Covid-19. Setelah itu, tiga anak Sarjono juga dinyatakan positif terjangkit virus Corona. Alhasil, ketiga anak dengan inisial N, D, dan R harus menjalani isolasi mandiri di rumah mereka.

Namun, pada 17 Juli 2021 Sarjono meninggal dunia. Anak-anak mendadak menjadi yatim piatu karena ibu mereka sudah meninggal dunia tahun 2020.
Bahkan saat ayahnya dikebumikan, ketiga bersaudara tersebut tidak bisa melihat prosesi pemakaman ayahnya karena menggunakan protokol kesehatan yang ketat.

Ketiga anak Sarjono masing-masing berusia 17 tahun, 14 tahun dan 12 tahun. Untuk sementara ketiga anak di bawah pengasuhan adik Sarjono, namun sang adik juga kesulitan mengurus karena yang bersangkutan juga memiliki 3 anak kandung.

Lebih lanjut Retno Listyarti memaparkan data-data yang dimilikinya terkait dampak pandemi Covid-19 pada anak. Menurutnya, berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebanyak 4 juta kematian akibat Covid-19 di seluruh dunia dan secara spesifik, setidaknya 2 juta anak mesti kehilangan orangtua maupun kakek-neneknya.

“Fenomena anak-anak kehilangan orangtua serentak secara global pernah juga terjadi saat serangan Ebola dan HIV. Namun, pandemi Covid-19 benar-benar memberi duka mendalam bagi anak di seluruh dunia karena angka kematiannya cukup tinggi,” tuturnya.

Kondisi tersebut menimbulkan masalah global baru, yaitu anak yang menjadi yatim piatu akibat pandemi. Studi yang dilaporkan di laman Scientific American menunjukkan bahwa setidaknya 1 dari 100 anak di Peru, 4 dari 1.000 anak di Afrika Selatan, dan 1 dari 1.000 anak di Amerika Serikat kehilangan kedua orangtuanya selama pandemi Covid-19 berlangsung sejak 2020 awal.
Studi yang dilakukan Lancet di 21 negara yang mencakup hampir 80% kematian akibat covid-19 di seluruh dunia tersebut, juga menyebutkan jumlah keseluruhannya anak-anak yang ditinggal kedua orangtuanya atau pengasuhnya, hingga awal Juli 2021, setidaknya 1,5 juta anak kehilangan orangtua. Angkanya menjadi 2 juta jika ditambah dengan kehilangan kakek-nenek ataupun pengasuh mereka yang tinggal bersama dalam satu rumah. (Diana Runtu)

To Top