Indonesia

Memutuskan Penularan Covid-19, Testing dan Tracing harus Ditingkatkan

Jakarta (cybertokoh.com) –

Setelah ramai menjadi sorotan terkait rendahnya testing dan tracing, kini kembali terlihat peningkatannya. Hal itu terlihat dari pemeriksaan specimen Covid-19 per 22 Juli 2021 yang mencapai 294.470.

Penurunan jumlah specimen yang diperiksa memang sempat terjadi dalam tiga hari kemarin yakni 160.686 (19/7), 179.275 (20/7), dan 153.330 (21/7). Padahal di masa sekarang ini, justru diperlukan peningkatan pesat pada testing dan tracing guna memutus penularan Covid-19.

Diharapkan masyarakat yang keluarganya terpapar Covid-19 agar segera melaporkannya ke petugas sehingga bisa segera dilakukan testing maupun tracing pada anggota keluarga lainnya maupun kontak erat pasien Covid. Langka ini bisa membantu mempercepat pemutusan mata rantai penularan.

Sempat turunnya testing juga diakui Jubir Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi M.Epid.

“Sebenarnya, secara nasional jumlah testing nasional meningkat. Namun khusus capaian terhadap target testing dan tracing di daerah PPKM level 4, masih rendah, terutama 3 hari terakhir mengalami penurunan. Begitu juga angka positivity rate terlihat masih di atas 5% dan di beberapa propinsi angka positif ini terlihat peningkatan,” jelas Nadia.

Hal ini menunjukkan adanya penularan luas di masyarakat dan perlunya penambahan testing untuk segera mengidentifikasi kasus yang sakit dengan populasi yang sehat sehingga bisa memutuskan penularan Covid-19.
“Untuk kabupaten/kota PPKM level 4, testing perlu ditingkatkan terutama saat akhir pekan dan hari libur,” tegas Nadia.

Sementara, lanjutnya, untuk memaksimalkan penemuan kasus serta menurunkan positivity rate, testing terhadap suspek dan kontak erat perlu terus ditingkatkan. “Untuk dapat segera menurunkan laju penularan selain mengurangi mobilitas perlu diidentifikasi kontak erat dengan cepat,” tambahnya.

Melihat situasi sampai hari ini seluruh provinsi dan kabupaten/kota harus meningkatkan upaya pemeriksaan kontak erat karena rasio kontak erat dengan jumlah penduduk masih rendah yaitu <5 kontak erat per minggu, sementara target yang diharapkan adalah >9 kontak erat per minggu.

“Oleh karena itu, diharapkan pemerintah daerah meningkatkan kapasitas tracing dengan melibatkan kader, mahasiswa, bidan desa, atau babinsa dan babinkamtibmas, yang mana kementerian kesehatan telah mendukung operasionalnya melalui BOK (Bantuan Biaya Operasional Kesehatan, red) Puskesmas,” ujarnya. (Diana Runtu)

To Top