Bunda & Ananda

Orangtua Hati-hati! Jumlah Anak Terpapar Covid Capai 12,5%

Jakarta (cybertokoh.com) –

Para orangtua agar berhati-hati menjaga anak-anaknya. Karena saat ini jumlah anak yang terpapar Covid 19 semakin meningkat. Data Satuan Penanganan Covid 19 menyebutkan, jumlah anak usia 0-18 tahun yang terkonfirmasi Covid 19 telah mencapai 12,5%.

Diduga, terpaparnya Covid 19 pada anak-anak salah satunya adalah karena kelalaian orangtua. Dalam masa pandemi Covid seperti sekarang, seharusnya orangtua semakin membatasi anak-anak dalam beraktivitas di luar rumah.

“Harusnya anak-anak di rumah saja, tapi malah diajak jalan-jalan ke luar, ke mal. Orangtua menempatkan anak pada risiko tertular Covid 19,” ujar Siti Nadia Tarmizi, Juru Bicara Kemenkes yang juga Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes.

Selain itu, tertularnya anak-anak juga banyak disebabkan oleh orangtua yang lalai menerapkan protokol kesehatan, terutama ketika beraktivitas di luar rumah. Akibat ketidakdisplinan para orangtua ini, mereka terpapar Covid 19, dan membawa pulang virus itu ke rumah dan menularannya kepada anak.

Di Jakarta misalnya, dari 5582 kasus pada Minggu 20 Juni 2021, 879 di antaranya adalah usia anak. 655 kasus anak usia 6-18 tahun, dan 224 kasus anak usia 0-5 tahun.

Di RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, juga menyebutkan terjadinya kenaikan pasien Covid anak-anak. Dari 6000 lebih pasien Covid RSD Wisma Atlet Kemayoran, 10% nya adalah anak-anak.

Melihat perkembangan kasus Covid yang terus meningkat dan tren kenaikan anak-anak terpapar Covid juga meningkat, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta agar pemerintah pusat maupun daerah menunda pembukaan sekolah pada tahun ajaran baru 2021/2022 yang dimulai pada 12 Juli 2021 mendatang.

“Kasus saat ini sangat tinggi. Banyak daerah yang positivity rate-nya di atas 5%, bahkan ada yang mencapai 17%,” ujar Retno Listyarti, Komisioner KPAI bidang Pendidikan, Selasa (22/6), seraya meminta agar PTM (pembelajaran tatap muka) tidak digelar di daerah yang positivity rate di atas 5%.

KPAI, tegas Retno, mendorong agar kebijakan buka sekolah tatap muka di Indonesia tidak diseragamkan. Misalnya, untuk daerah-daerah dengan positivity ratenya di bawah 5%, KPAI mendorong sekolah tatap muka bisa dibuka dengan pemberlakuan prokes/SOP yang ketat.

“Di wilayah-wilayah kepulauan kecil yang sulit sinyal, justru kami sarankan dibuka dengan ketentuan yang sama sebagaimana disebutkan Presiden Jokowi, PTM hanya 2 jam, siswa yang hadir hanya 25% dan hanya 1-2 kali seminggu”, tegasnya.

KPAI, lanjut Retno, mendorong pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sesuai Konvensi Hak Anak mengutamakan hak hidup nomor 1, hak sehat nomor 2 dan hak pendidikan nomor 3.

“Kalau anaknya masih sehat dan hidup maka ketertinggalan materi pelajaran masih bisa dikejar. Kalau anaknya sudah dipinterin terus sakit dan meninggal, kan sia-sia. Apalagi angka anak Indonesia yang meninggal karena Covid-19, menurut data IDAI, tertinggi di dunia,” ucap mantan Kepala Sekolah SMAN III Jakarta, itu.

Selain itu tambahnya, KPAI mendorong pemerintah pusat maupun pemerintah daerah menyediakan fasilitas ruang NICU dan ICU khusus Covid untuk pasien usia anak. Ketiadaan ruang ICU dan NICU di berbagai daerah di Indonesia mengakibatkan pasien usia anak yang positif Covid-19 sulit diselamatkan ketika kondisinya kritis. (Diana Runtu)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Terkini

To Top