Indonesia

Ini Hasil Penelitian Efektivitas Vaksin Covid Melawan Varian Baru

Jakarta (cybertokoh.com) –

Bagi yang belum percaya bahwa vaksin-vaksin Covid 19 yang saat ini digunakan untuk memvaksinasi masyarakat Indonesia, sebaiknya membaca sejumlah hasil penelitian ini. Salah satunya dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (BPPK Kemenkes).

Hasil penelitian BPPK Kemenkes menyebutkan, vaksin Sinovac efektif mencegah kematian. Vaksinasi dosis lengkap secara signifikan dapat menurunkan sekitar 96% risiko perawatan dan 98% kematian karena Covid-19.
Demikian dipaparkan Reisa Kartikasari Broto Asmoro, Juru Bicara Pemerintah untuk Covid 19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, kepada wartawan di Jakarta.

Dalam studi yang dilakukan pada 13 Januari sampai 18 Maret 2021 lalu dan melibatkan lebih dari 128 ribu orang tersebut, menunjukkan vaksinasi menurunkan risiko perawatan dan kematian. “Berdasarkan analisis, ditemukan bahwa vaksinasi Sinovac dosis lengkap bisa menurunkan atau bisa mengurangi risiko Covid-19,” ujarnya.

Perlindungan ini juga termasuk dalam menghadapi varian Covid baru, baik itu varian asal Inggris, Afrika Selatan maupun varian terbaru yakni Delta (b.1.617.2) asal India. Sejumlah penelitian ilmiah, jelasnya, telah menunjukkan bahwa vaksin-vaksin Covid efektif memberi perlindungan dari varian baru.

Bukan hanya Sinovac tapi juga vaksin AstraZeneca. Data terbaru dari Public Health England (PHE) menyatakan, dua dosis vaksin Covid-19 AstraZeneca 92% efektif mencegah rawat inap yang disebabkan varian Delta dan tidak menunjukkan adanya kematian di antara mereka yang divaksinasi.

Vaksin juga menunjukkan tingkat efektivitas yang tinggi terhadap Varian Alpha atau b.1.1.7 yang sebelumnya disebut varian ‘kent’ Inggris dengan menurunkan 86% rawat inap dan tidak ada kematian yang dilaporkan.

dr Reisa mengatakan, efikasi yang lebih tinggi terhadap penyakit parah dan rawat inap akibat Covid-19 didukung oleh data terbaru yang menunjukkan bahwa respon ‘Sel t’ yang kuat terhadap pemberian vaksin Covid-19 Astrazeneca, diduga memiliki korelasi terhadap perlindungan yang tinggi dan bertahan lama.

Laporan tersebut dibuat berdasarkan analisis terhadap 14.019 kasus Varian Delta. Varian Delta adalah kontributor utama gelombang infeksi yang saat ini terjadi di India dan sekitarnya.

“Baru-baru ini (Varian Delta) menggantikan Varian Alpha sebagai strain dominan di Skotlandia dan telah menyebabkan peningkatan kasus yang signifikan di Inggris,” tambah Reisa. Dia menegaskan, kajian tersebut sangat jelas menunjukkan pemberian vaksinasi lengkap 2 dosis bisa menurunkan risiko terinfeksi Covid dan mencegah kematian.

Studi-studi itu juga menunjukkan bahwa vaksinasi lengkap sangat disarankan karena vaksinasi pemberian dosis pertama itu belum cukup melindungi. “Apabila masyarakat sudah menerima vaksinasi penuh atau lengkap, akan jauh lebih efektif dalam menurunkan risiko Covid-19 baik perawatan maupun kematian,” ucapnya.

Lalu bagaimana dengan vaksin Sinopharm yang digunakan dalam kegiatan vaksinasi gotong-royong? Masih menurut dr Reisa, komite penasihat ahli dalam WHO atau yang disebut SAGE, tetap merekomendasikan penggunaan semua vaksin yang telah disetujui atau masuk dalam daftar Emergency Use Listing (EUL) WHO termasuk Sinopharm karena dianggap masih dapat melindungi masyarakat dari risiko komplikasi yang disebabkan Covid-19.

“Uji klinis fase 3 Sinopharm menyatakan pemberian dua dosis vaksin ini dapat melindungi 79% orang yang menjadi peserta uji klinis, lebih dari standar yang ditetapkan WHO,” pungkasnya. (Diana Runtu)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Terkini

To Top