Connect with us

Indonesia

Pelajaran Penting! Penularan Covid di Jakarta, Jabar dan Jateng Makin Menggila

Published

on

Jakarta (cybertokoh.com) –

Peran masyarakat untuk menurunkan penularan Covid 19 sangat penting. Saat ini pertambahan kasus nasional sudah menembus 12.624 kasus per 17 Juni 2021. Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah berkontribusi 8.696 kasus di antaranya. Dan Jakarta menjadi yang tertinggi dengan tambahan 4.144 kasus.

Inilah buah dari kenekatan sebagian masyarakat saat libur panjang Lebaran. Bukan hanya nekat melanggar larangan mudik Lebaran, tapi juga melakukan berbagai acara selama liburan, mulai dari pernikahan, acara-acara ritual, dll, juga berkerumun di tempat wisata tanpa peduli protokol kesehatan.

Harus diakui, sejak kasus Covid melandai di negeri ini, khususnya beberapa bulan terakhir, masyarakat menjadi lengah dalam melaksanakan protokol kesehatan.
Di Jakarta, yang tadinya 70% warganya disiplin melaksanakan prokes, turun hingga tinggal 20-25% saja warga Jakarta yang masih setia dengan prokes.

Advertisement

Hal ini juga diakui oleh Kepala Dinas Kesehatan Jakarta, Widyastuti.”Jadi sempat kita di posisi sekitar 70% tapi dalam era-era sekarang sekitar 20-25% yang pakai masker. Pemakai maskernya turun jadi 25%,” kata Widyastuti di Graha BNPB, Kamis (17/6).

BACA  Bergelut dengan Kawat dan Besi

Kejenuhan masyarakat yang menjalani pandemi selama 1 tahun lebih, dituding sebagai penyebabnya. Masyarakat merasa bosan, karena selama pandemi banyak batasan. Karenanya ketika kasus mulai melandai, mereka pun ikut melonggarkan prokes.

Ada yang berpikir pandemi hampir selesai ketika kasus Covid menurun. Tapi nyatanya tidak. Kenapa? Karena banyak larangan diterabas oleh masyarakat. Yang paling jelas adalah larangan mudik, larangan kumpul-kumpul atau berkerumun.

Hasilnya? Seperti diprediksi, pada minggu ketiga pasca libur Lebaran, kasus Covid pun melejit drastis.
Di sisi lain, sesungguhnya kebosanan itu bukan hanya melanda masyarakat tapi juga aparat, sebut saja Satpol PP yang bertugas menegakkan prokes di lapangan tidak lagi ‘segalak’ dulu. Bahkan terkesan membiarkan pelanggaran prokes yang dilakukan masyarakat.

Kondisi ini terjadi di Jakarta. Tak heran kalau angka kasus Covid di Ibukota terus menggila. Hari ini capai 4.144 kasus, tertinggi kedua setelah Februari 2021 lalu.
Dalam kondisi demikian, kalau semua pihak, masyarakat khususnya, tidak bergerak menegakkan prokes maka apapun usaha pemerintah akan sia-sia. Seperti yang diucapkan para pakar epidemiologi, jika masyarakat tidak mengetatkan prokes, negara akan kolaps.

Advertisement

Peringatan ini juga ditujukan untuk daerah yang saat ini melandai kasus Covid-nya. Termasuk Bali yang saat ini berhasil menurunkan kasus Covidnya. Jangan sampai lengah terapkan prokes.

BACA  MDA Ingatkan Penerapan Prokes saat Kegiatan Keagamaan

Apa yang terjadi di Jakarta maupun beberapa daerah lainnya yang sekarang tengah berjuang menurunkan kasus Covid, hendaknya menjadi pelajaran berharga. Disiplin prokes, 5 M. Itu saja! (Diana Runtu)

Indonesia

Jika Prokes Turun, Pasca Libur Nataru Kasus Covid Diperkirakan Naik 430%

Published

on

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Dr. Sonny Harry B Harmandi (foto tangkapan layar Katadata)

Jakarta (cybertokoh.com)-

Bukan menakut-nakuti. Tapi kalau masyarakat tidak patuh protokol kesehatan (prokes) serta pengawasan terhadap pelaksanaan aturan termasuk prokes tidak berjalan baik serta vaksinasi melambat maka diramalkan kasus Covid-19 di Indonesia akan meningkat tajam hingga 430% pasca libur Natal dan Tahun Baru 2022.

Peringatan yang disampaikan Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Dr. Sonny Harry B Harmandi bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti. Namun untuk kewaspadaan semua, baik pemerintah maupun masyarakat. Bukan hanya prokes, yang juga harus diperkuat adalah cakupan vaksinasi Covid-19 serta testing dan tracing.

“Sekarang jangan ‘halu’ dulu. Terus patuhi peraturan kesehatan, pandemi belum berlalu,” tegas Sonny dalam acara webinar Katadata x Google News Initiative ‘Jangan Halu, Pandemi Belum Berlalu’, Senin (22/11/2021).

Advertisement

Pada libur Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 lalu, lanjutnya, selama 13 minggu terjadi kenaikan kasus sebanyak 398%. Pasca Idul Fitri kenaikan kasus hampir 900%.

“Nah perkiraan terburuk, kasus akan naik sekitar 430% sampai 1 Maret 2022 jika kita tidak melakukan upaya-upaya pengetatan. Jika protokol kesehatan masyarakat lemah, cakupan vaksinasi tidak mencapai target serta testing dan tracing menurun maka kasus akan melonjak. Jadi peran serta dan dukungan masyarakat sangat kita perlukan,” ungkapnya.

Bersyukur saat ini Indonesia masih dapat mempertahankan kasus rendah. Per 21 November jumlah kasus aktif sekitar 8.000-an atau turun hampir 99% dari puncak kasus aktif pada Juli 2021. Kasus terkonfirmasi positif di angka 314. “Artinya terus mengalami penurunan,” tambahnya.

BACA  Selama Covid-19 Masih Ada, PPKM Tetap Diberlakukan

Dalam kondisi demikian kita bersyukur namun tetap tidak boleh lengah. Sebagian masyarakat mungkin berpikir pandemi sudah berlalu, padahal belum. Justru keadaan sekarang harus disikapi dengan semakin waspada, memperketat prokes. “Kita minta tetap disiplin prokes. Pakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, harus terus menerus dilaksanakan,” ucapnya.

Mobilitas dan Pengetatan Prokes
Saat ini seiring dengan penurunan kasus, banyak pelonggaran diberikan sehingga mobilitas masyarakat pun meningkat, terutama mereka yang pergi ke grosir dan farmasi. Mobilitas di stasiun transit juga sudah meningkat meski masih rendah dibanding situasi normal. Begitu pula retail dan rekreasi yang meningkat bahkan sudah mendekati normal. Begitu juga di tempat kerja.

Advertisement

Kondisi inilah yang harus disikapi secara hati-hati oleh semua pihak. Masyarakat misalnya, ketika beraktivitas harus memastikan bahwa prokes dilaksanakan dengan baik. Kepatuhan masyarakat melaksanakan prokes, ujar Sonny yang juga seorang demographer, meningkat terus sejak Juli hingga Oktober.

Namun di bulan November, secara perlahan terjadi penurunan prokes di masyarakat. Ini tantangan buat semua. Penurunan prokes mungkin karena sebagian masyarakat berpikir pandemic sudah berlalu.

“Seminggu lalu sempat terjadi penurunan sehingga kita berupaya mendorong kepatuhan prokes melalui berbagai cara. Hari ini, 22 November, kepatuhan masyarakat melaksanakan prokes sudah sedikit naik dibanding minggu lalu,” tuturnya.

Kepatuhan melaksanakan prokes, adalah salah satu hal yang sangat penting dilakukan, khususnya dalam menghadapi kemungkinan lonjakan kasus. Saat ini sejumlah negara sedang berhadapan dengan Gelombang Empat dan Lima. Hal ini terlihat dari peningkatan kasus harian yang naik secara dratis, begitu juga kasus aktif.

BACA  Ranu Gumbolo: Wisata Alam Kawasan Tulungagung

Data dalam seminggu terakhir kasus di dunia bertambah sekitar 3,3 juta kasus, 2,1 juta di antaranya berasal dari negara-negara di Eropa. Swiss, misalnya. Negara kecil yang berpenduduk jauh lebih sedikit dari Indonesia, kasus hariannya mencapai 6.000 an dengan kasus aktif sekitar 70.000.

Advertisement

Jerman, bahkan sempat menyentuh 56.000 kasus harian. Bahkan Singapura yang penduduknya hanya sekitar 1,5% dari pendududk Indonesia, jumlah kasus aktif-nya sekitar 15.000.
Indonesia juga pernah mengalami lonjakan seperti itu. Bayangkan, kasus harian mencapai 56.000 lebih, kemudian kasus aktif mencapai puncaknya yakni 574.000 lebih.

“Jangan sampai terjadi lagi. Ini tantangan kita bersama. Bayangkan, ketika Gelombang Kedua, 2,2 juta orang terkonfirmasi positif hanya dalam waktu singkat. Sebanyak 82 ribu orang meninggal dalam waktu singkat,” tegas Sonny.

Bersyukur, Indonesia bisa menurunkan kasus dengan cukup cepat yakni 2,5 bulan dan kondisi rendah kasus bisa dipertahankan hingga sekarang. Kondisi baik saat ini adalah hasil kerja keras semua pihak. Indonesia belajar dari kejadian di negara lain.

Karenanya, PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) tetap diterapkan secara disiplin dan konsisten. Sekalipun pelonggaran aktivitas sudah dilakukan, namun seiring dengan itu prokes diperketat. Bahkan menambah prokes digital melalui aplikasi PeduliLindungi. Orang tetap diwajibkan memakai masker, menjaga jarak serta melarang kerumunan. Di berbagai tempat juga disediakan tempat-tempat mencuci tangan.

“Kita belajar dari negara lain yang ketika lonjakan kasus berhasil dikendalikan, kasus melandai, ada pelonggaran aktivitas yang diikuti pelonggaran prokes. Akibatnya terjadilah pelonjakan kasus. Belajar dari sana, pengetatan prokes sangat penting dalam situasi rendah kasus seperti sekarang,” jelas Sonny seraya menambahkan, bidang Perubahan Perilaku Satgas Covid terus membangun kesadaran masyarakat akan prokes lewat berbagai cara.

Advertisement

Upaya lain yang dilakukan adalah tetap meningkatkan testing dan tracking. Saat kondisi melandai, testing terus ditingkatkan agar bisa menemukan secepatnya orang yang terkonfirmasi positif guna menghindari penularan.

BACA  MDA Ingatkan Penerapan Prokes saat Kegiatan Keagamaan

Sementara beberapa negara yang kini kembali mengalami lonjakan kasus, justru testing dan tracking-nya ikut turun ketika kasus-nya melandai. Akibatnya kasus Covid-19 di negaranya melonjak kembali.

Hal yang tak kalah penting dalam menjaga kondisi tetap terkendali seperti sekarang adalah cakupan vaksinasi yang semakin luas. Sekarang ini sudah lebih 134 juta orang menerima vaksinasi Covid-19 dosis pertama. Itu setara dengan sekitar 49% penduduk Indonesia. Atau 64% dari target vaksinasi 208 juta orang.

Menghadapi liburan Natal dan Tahun Baru yang segera tiba, Sonny mengingatkan lagi agar masyarakat waspada dan tetap taat prokes. Peran serta masyarakat untuk bersama menjaga kondisi tetap baik, sangat lah diperlukan.

“Kondisi Juli 2021 ekstrem sekali, memang. Kita berharap hal ini tidak terjadi lagi. Kita tahu bahwa saat ini ada sub varian Delta AY.4.2 yang kabarnya sudah di Singapura dan Malaysia. Itu tentunya berisiko kalau tidak dikendalikan,” ujarnya. (Diana Runtu)

Advertisement

Continue Reading

Indonesia

Ancaman Gelombang Ketiga: Mobilitas Tinggi, Prokes Rendah

Published

on

Ilustrasi (Uriel Mont/pexels.com)

Jakarta (cybertokoh.com) –

Ancaman gelombang ketiga Covid-19 sudah di depan mata seiring dengan makin dekatnya libur Natal dan Tahun Baru 2022. Jika Pemda maupun masyarakat tidak berhati-hati maka ancaman itu akan menjadi kenyataan, Indonesia akan kembali diterpa lonjakan kasus Covid.

Saat ini mobilitas penduduk terus mengalami peningkatan dibanding saat lonjakan gelombang kedua Covid pada Juli 2021 lalu. Peningkatan tersebut terjadi setidaknya di lima titik yakni pusat perbelanjaan, ritel dan rekreasi, ruang terbuka publik atau taman, perkantoran dan lokasi transit.

“Peningkatan mobilitas saat ini hampir sama dengan peningkatan yang terjadi pada periode libur Idul Fitri 2021 lalu yang menjadi kenaikan mobilitas masyarakat tertinggi sepanjang pandemi,” papar Prof Wiku Adisasmito, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 dalam keterangan pers perkembangan Covid-19 di Indonesia, Kamis (18/11).

Advertisement

Peningkatan mobilitas ini perlu diwaspadai mengingat pengalaman periode libur Idul Fitri 2021 lalu, mobilitas tinggi menjadi salah satu pemicu lonjakan kasus kedua (gelombang kedua). Hal ini, tegas Prof Wiku, harus dikendalikan agar tidak memicu kenaikan kasus ke depannya.
Masyarakat diminta berhati-hati dalam berkegiatan di luar rumah. Tetap patuhi protokol kesehatan (prokes) yakni memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan juga mengurangi mobilitas yang tidak perlu. Di sisi lain, kondisi mobilitas tinggi juga harus dibarengi dengan peningkatan screening Covid dengan memasifkan testing.

BACA  Diplomasi Vaksin, Upaya Kemenlu Mengawal Vaksinasi Covid-19

Yang memprihatinkan, saat ini ada empat provinsi yang ternyata lebih dari 40% kabupaten/kota melaporkan kepatuhan prokes-nya rendah, yakni, memakai masker dan menjaga jarak. Empat provinsi tersebut adalah Riau, Lampung, Sulawesi Tenggara dan Maluku.

“Empat provinsi ini termasuk dalam 22 provinsi yang memiliki persentase cakupan vaksinasi dosis lengkap yang lebih rendah dari angka nasional yaitu 40,42%. Cakupan vaksinasi yang rendah terlebih tidak didukung dengan Prokes maka dapat meningkatkan potensi penularan Covid-19 di tengah masyarakat,” ujar Prof Wiku.

Karenanya Satgas meminta agar gubernur, bupati, walikota dari empat provinsi tersebut—Riau, Lampung, Sulawesi Tenggara, Maluku—agar segera berkoordinasi untuk meningkatkan cakupan vaksinasi juga kepatuhan prokes di wilayahnya. Juga, dibentuk posko-posko Satgas di tingkat desa atau kelurahan maupun di tempat fasilitas umum guna memantau pelaksanaan prokes.

Menurut Wiku, jika semua pihak—Pemda dan masyarakat- bahu-membahu dalam menjaga mobilitas penduduk, meningkatkan cakupan vaksin dosis kedua serta melaksanakan protokol kesehatan dengan baik, bukan tidak mungkin potensi kenaikan kasus pada periode libur Natal dan Tahun Baru dapat ditekan.

Advertisement

Hal yang sama juga disampaikan Suryopratomo, Duta Besar Indonesia untuk Singapura dalam webinar yang bertemakan ‘Libur Nataru dan Varian Baru Strategi Cegah Gelombang ke-3 Pandemi Covid-19 yang digelar Kementerian Kesehatan, (16/11).

“Pelajaran paling berharga bagi kita sebagai bangsa tentunya adalah kasus di bulan Juli 2021. Penularan kasus per-hari begitu tinggi, bagaimana nakes kerepotan melakukan upaya penyelamatan, oksigen susah didapat, begitu juga kamar perawatan yang susah didapat,” ujar Suryopratomo.

BACA  Pedasnya Hidup Pengusaha Sambal

Kondisi yang begitu menakutkan jangan sampai terulang kembali. Untuk itu, katanya, peran serta masyarakat menjadi sangat penting. Bagaimana kita menjaga kesehatan dengan berolahraga yang lebih teratur, mengonsumsi makanan yang lebih sehat, juga yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana perilaku keseharian kita yang disesuaikan dengan kondisi pandemi Covid-19.

Prokes, tegas Suryopratomo, harus melekat pada diri kita. “Ibaratnya, kalau kita keluar rumah tidak memakai masker, itu sama dengan kita tidak membawa ponsel. Seperti ada sesuatu yang hilang. Itu yang dimaksud dengan kata ‘melekat’. Kalau tidak perlu membuka masker, ya jangan dibuka. Makan dan minum misalnya, kita perlu membuka masker. Tapi setelahnya, memakai kembali. Juga menjaga jarak serta memakai handsanitizer. Prokes harus nomor satu untuk diri kita, keluarga juga lingkungan kita,” papar Suryopratomo yang mantan wartawan ini.

Jika semua orang melaksanakan prokes dengan ketat, maka dirinya yakin penularan kasus dapat ditekan. Apalagi pemerintah sudah menyiapkan berbagai peraturan untuk mengantisipasi lonjakan ketiga.

Advertisement

“Jadi upaya preventif yang dilakukan pemerintah harus didukung dengan kedisiplinan kita menerapkan prokes. Kalau kita bisa melakukannya, insyaalah kita bisa melewati Tahun Baru dengan aman. Dan kita pantas bersiap bahwa perekonomian kita akan jauh lebih baik karena masyarakat sudah tahu bagaimana cara menghindari agar tidak terinfeksi Covid-19,” tutupnya.

BACA  Selama Covid-19 Masih Ada, PPKM Tetap Diberlakukan

Strategi Kebijakan Pengendalian Covid
Mengantisipasi lonjakan kasus di akhir tahun dan di awal 2022, pemerintah mengambil sejumlah kebijakan. Di antaranya adalah larangan cuti atau libur bagi ASN, TNI/Polri, Karyawan BUMN maupun swasta selama libur akhir tahun. Juga, peniadaan cuti bersama pada 24 Desember dan larangan pengambilan jatah cuti akhir tahun.
Hal ini, tegas Wiku, semata-mata untuk meminimalisir pergerakan masyarakat yang tidak mendesak. “Juga ada pengaturan pembatasan pergerakan masyarakat dari satu tempat ke tempat lain. Nantinya, penyesuaian cara berpergian akan diatur dalam Surat Edaran Satgas maupun Kementerian Perhubungan terbaru. Strategi ini ditetapkan untuk menjamin orang yang berpergian adalah orang yang benar-benar sehat dan terproteksi serta mencegah importasi kasus,” papar Wiku yang juga Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19.

Strategi lainnya adalah pengetatan penerapan Prokes pada kegiatan masyarakat di seluruh fasilitas public melalui penyetaraan PPKM level 3 secara nasional dan intensifikasi pembentukan Satgas Prokes 3 M di fasilitas publik.

Penetapan ini, tambahnya, guna menjamin peningkatan kegiatan sosial-ekonomi masyarakat di berbagai sektor dapat tetap terkendali dan aman seiring kecenderungan peningkatan mobilitas. (Diana Runtu)

Advertisement
Continue Reading

Indonesia

Jumlah Pasien Covid-19 Meningkat, Masyarakat Diminta Hati-hati

Published

on

RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta (cybertokoh/Kementerian PUPR)

Jakarta (cybertokoh.com)-

Satgas Penanganan Covid-19 kembali menggugah kesadaran seluruh Pemda dan masyarakat untuk memperkuat kewaspadaan mengingat kenaikan kasus Covid-19 mulai terjadi di sejumlah daerah. Seiring dengan itu pasien yang dirawat mengalami peningkatan hingga 34%.

Menurut Prof Wiku Adisasmito, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, urutan terbanyak kenaikan orang yang dirawat sama dengan kenaikan kasus yaitu, Jawa Tengah tertinggi dengan 14 kabupaten/kota, Jawa Timur dengan 13 kabupaten/kota dan Jawa Barat 8 kabupaten/kota.

Selain pada tingkat kabupaten/kota, lanjut Prof Wiku, peningkatan orang yang dirawat juga terlihat dari di RS Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. “Selama seminggu terakhir, jumlah orang yang dirawat meningkat secara konsisten pada rentang 248 hingga 273,” jelasnya dalam keterangan pers perkembangan Covid-19 di Indonesia, Selasa (16/11).

Advertisement

“Padahal, sebelumnya keterisian tempat tidur di Wisma Atlet telah berhasil ditekan hingga 209,” tambahnya. Satgas berharap permasalahan ini menjadi perhatian semua dan segera diantisipasi agar jumlah kenaikan kasus tidak bertambah banyak.

“Saya mengingatkan masyarakat, bukan berarti kasus yang terkendali akan tetap lestari selamanya jika kita sendiri tidak berusaha mempertahankannya. Yaitu, konsisten melakukan pengendalian,” kata Prof Wiku yang juga Ketua Tim Pakar Satgas Covid-19 seraya meminta agar masyarakat tetap waspada dan taat melaksanakan protokol kesehatan.

BACA  Ranu Gumbolo: Wisata Alam Kawasan Tulungagung

“Bayangkan jika kita menambah proteksi lainnya seperti menjaga jarak, menghindari kerumunan dan melakukan kegiatan esensial dengan terkendali serta menunda kegiatan di luar ruang yang tidak mendesak. Maka kita dapat berpartisipasi dalam menurunkan reproduction number sehingga laju infeksi menurun, begitu juga angka kasus dan kematian,” ujarnya.

Vaksinasi Menurun
Dibagian lain Wiku juga menyinggung masalah laju vaksinasi yang menurun. Di saat kasus Covid-19 mengalami peningkatan dan semakin banyak orang dirawat, laju vaksinasi mengalami penurunan selama tujuh minggu terakhir.

Penurunan tersebut utamanya terjadi pada vaksin merk Sinovac yang ternyata juga tidak dibarengi dengan peningkatan vaksinasi pada vaksin merek lainnya. Yaitu, Pfizer, Moderna, AstraZeneca dan Sinopharm. Atas hal ini, Satgas meminta agar semua daerah untuk segera meningkatkan cakupan vaksinasi di daerahnya.
Cakupan vaksinasi penting sebagai modal untuk menghadapi lonjakan kasus yang mulai terjadi dan harus diupayakan tercapai sebelum terjadinya lonjakan ketiga.

Advertisement

“Saya minta masyarakat tidak memilih-milih merek vaksin yang digunakan. Semua jenis vaksin yang masuk dan beredar di Indonesia sudah dipastikan keamanan, kualitas dan efektivitasnya berdasarkan uji yang dilaksanakan oleh Badan POM dan pemantauan instansi serta organisasi profesi terkait,” jelasnya.

BACA  Bukti Penularan Rendah: Jumlah Testing 1 Juta Lebih, hanya 0,71% yang Positif Covid-19

Dalam kesempatan itu Prof Wiku juga menyoroti lonjakan kasus yang terjadi di sejumlah negara. Saat ini, katanya, jumlah negara yang mengalami lonjakan kasus lebih banyak dibanding periode akhir tahun 2020. Jika tahun lalu setidaknya ada 8 negara yang pada bulan Oktober-November mengalami lonjakan kasus, maka tahun ini naik menjadi 9 negara. Yakni; Hongaria, Inggris, Singapura, Ukraina, Jerman, Rusia, Italia, Finlandia dan Australia.

Meskipun Indonesia saat ini mengalami penurunan kasus, namun adanya lonjakan kasus di beberapa negara ini, harus menjadi perhatian semua pihak, jangan lengah. “Penting bagi kita untuk terus menerapkan prinsip kehati-hatian agar tidak ikut mengalami lonjakan kasus seperti di negeri-negera tersebut,” katanya. (Diana Runtu)

Advertisement
Continue Reading

Tren