Indonesia

Keegoisan Sedikit Orang Datangkan Bencana bagi Banyak Orang

Jakarta (cybertokoh.com) –

Dilarang berkerumun, tapi tetap berkerumun. Dilarang mudik, tapi tetap mudik. Bahkan nekat menerobos penyekatan polisi.

Tidak mau mengerti kenapa pemerintah mengeluarkan larangan mudik. Tidak mau tahu bahwa meski sekarang kasus Covid melandai bukan berarti aman. Meski sudah divaksin bukan berarti tidak bakal tertular dan menularkan. “Ah pandemi pandemian,” begitu kata seorang pemuda 20 tahunan dengan enteng.

Tahukah Anda bahwa sikap-sikap egois sedikit orang dari masyarakat Indonesia ini, justru bisa berdampak besar. Coba banyangkan. Karena keegoisannya, pada akhirnya mereka tertular atau menularkan Covid kepada orang lain, dimulai dari lingkungan terdekatnya. Orangtuanya, keluarganya, tetangga dan teman-temannya.
Ujung-ujungnya adalah kematian. Orangtua mati, keluarga mati atau sekarat karena Covid. Barulah menyesal. Percuma!

Teringat video viral Bintang Emon, komika kondang, yang beredar di awal pandemi Covid tahun lalu. Video yang menyentil sikap sebagian masyarakat tentang Covid 19. Bintang Emon mengungkapkan dengan bahasa sederhana.
Dalam video itu, Bintang mengajak masyarakat mematuhi Prorokol Kesehatan, mematuhi imbauan pemerintah. Tapi temannya membantah. “Tang, mati hidup di tangan Tuhan!” Bintang pun menjawab,“Iya benar! Silakan jongkok di tengah jalan tol sambil bilang nyawa kita di tangan Tuhan. Paling elu ‘dicium’ Innova (mobil)”.
Memang benar, nyawa kita di tangan Tuhan. Namun Tuhan memberi manusia akal budi sehingga bisa berpikir, menganalisa. Menentukan baik dan buruk. Itulah yang Tuhan mau, berpikir. Tuhan juga mengajak orang berempati. Memikirkan kebaikan orang lain bukan hanya dirinya sendiri.

Terkait larangan mudik Lebaran. Ini bukan hal baru karena tahun lalu pun dilakukan. Kala itu itu masyarakat nekat. Dengan berbagai cara mereka berupaya mudik, mulai dari menelusuri jalan tikus, anak tikus (untuk jalan lebih kecil lagi), dll. Kucing-kucingan dengan petugas. Cukup banyak yang lolos.

Hasilnya dua pekan pasca Lebaran 2020, kasus Covid meningkat tajam. Data Satgas Penanganan Covid 19 menyebut libur Lebaran menyebabkan kenaikan kasus antara 70-90 persen. Peningkatan akumulatif kasus mingguan Covid 19 sebanyak 69-93 persen.

Bukan hanya libur Idul Fitri, kasus Covid selalu naik seusai libur panjang. Itu sebabnya pemerintah untuk tahun ini mengurangi banyak hari libur. Tujuannya agar tidak terjadi mobilitas tinggi di tengah masyarakat ataupun pulang kampung.

Kondisi sekarang pun kembali menjadi was-was pemerintah. Akankah kasus Covid naik lagi, melonjak lagi? Akankah menjadi lebih parah dari tahun lalu? Sungguh ngeri membayangkannya.
Kejengkelan—kalau tidak bisa dibilang kemarahan— juga dirasakan oleh masyarakat yang telah berusaha patuh untuk tidak mudik, untuk tidak berkerumunan. Berkorban untuk tidak bersilaturahmi fisik dengan keluarga ataupun teman.

Mematuhi Prokotol Kesehatan.

Pasalnya, mereka jadi ikut terdampak dengan prilaku mereka yang egois itu. Bahkan tak menutup kemungkinan pada akhirnya malah ikut terpapar Covid yang menggila.

Untuk menghalau Covid tidak bisa hanya dilakukan oleh sebagian masyarakat. Tapi harus semua. Pemerintah tidak akan berdaya kalau masyarakat membandel atau menolak mendukung upaya pemerintah. Utamanya adalah kesadaran masyarakat untuk sama sama bekerja keras menghalau Covid.

Tidak susah kok. Hanya patuhi Protokol Kesehatan dan berbagai aturan pemerintah. Itu saja.
Pasca Lebaran ini, semua pihak, harap-harap cemas. Berdoa agar kasus Covid 19 tidak naik signifikan. Tidak menggila. Apalagi sampai seperti di India. Amit-amit!

“Kenaikan kasus Covid 19 tidak bisa dilihat serta-merta. Misalnya, habis Lebaran 1-2 hari atau 3 hari, kasus langsung naik. Tidak. Tapi tunggu sampai 10-12 hari. Dampak mudik Lebaran atau libur panjang terlihat minimal 3 pekan,” kata Dewi Nur Aisyah, Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan Covid 19.

Kalau dibilang ada kenaikan, pastilah naik. Karena sejak sepekan sebelum Lebaran kenaikan sudah terlihat. Menariknya kenaikan signifikan terlihat di daerah-daerah di luar Pulau Jawa, Sumatera misalnya mengalami kenaikan kasus mencapai 27,22 persen di bulan Mei, dibanding Januari 2021. Di antara yang naik kasusnya adalah Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Bangka Belitung, Sumatera Selatan.

Karenanya jelang Lebaran kemarin Satgas juga Kementerian terkait dan Kepala-kepala Daerah melakukan Rakor terkait kewaspadaan dan antisipasi kenaikan kasus.

Jadi sekarang tinggal menunggu saja 10-12 hari ke depan, apa yang terjadi. Semoga masih terkendali! (Diana Runtu)

To Top