Edukasi

Penyesuaian dengan Pembelajaran Tatap Muka yang Baru, Ini yang Perlu Diperhatikan

Denpasar (cybertokoh.com) –

Pandemi Covid-19 yang terjadi dalam waktu setahun terakhir memberikan kesempatan bagi banyak orang untuk membiasakan sebuah kebiasaan baru. Sebelumnya proses sosialisasi yang dilakukan dengan tatap muka langsung, kemudian harus berganti ke dalam jaringan. Bukan suatu yang mudah untuk melakukan aktivitas baru, namun pada akhirnya semuanya akan belajar. Hal ini juga berlaku pada sektor pendidikan.

Sebagian besar siswa, guru dan orangtua juga mencoba menjalani kebiasaan baru seperti menggunakan gawai dalam proses belajar, mengenal aplikasi-aplikasi video conference, perubahan jadwal belajar, hingga penggabungan peran orangtua dan guru. “Respons terhadap kondisi tersebut juga beragam, misalnya sulit memahami materi yang disampaikan, kebosanan karena minimnya interaksi kelas dalam jaringan dan kelelahan karena banyaknya tugas yang harus dikumpulkan,” ungkap Made Padma Dewi Bajirani, M.Psi., Psikolog. Selain itu di sisi yang berbeda ada pula yang menunjukkan minat yang tinggi terhadap proses belajar dalam jaringan dengan memanfaatkan teknologi.

Beberapa waktu terakhir wacana tentang kembalinya proses belajar mengajar secara tatap muka atau luar jaringan menjadi perbincangan di sekitar kita. Sekian banyak tantangan yang dihadapi selama proses belajar dalam jaringan memunculkan tanggapan dari pelaku pendidikan khususnya siswa. Seperti halnya banyak siswa yang merasa antusias untuk kembali ke sekolah karena kejenuhan selama pembelajaran jarak jauh atau dalam jaringan.

“Momen bertemu dengan teman-teman dan aktivitas bersosialisasi lainnya menjadi bagian yang dirindukan. Interaksi membahas permasalahan atau kesulitan belajar secara langsung adalah hal yang dianggap paling ideal terlebih pada tingkat sekolah dasar,” ungkap Padma.

Situasi belajar yang berubah-ubah tentunya membutuhkan kemampuan adaptasi dari siswa apalagi dengan kondisi pandemi saat ini. Misalnya saja seperti menjaga jarak antara siswa satu dan yang lainnya, menggunakan masker dan face shield, menerapkan kebiasaan cuci tangan dan menjaga kebersihan yang lebih intens setelah melakukan kegiatan, membatasi bentuk sosialisasi seperti bermain berdekatan, berbagi makanan, meminjamkan alat tulis atau yang lainnya.

Jika pada akhirnya siswa harus kembali belajar ke sekolah dalam situasi pandemi ini, apa yang bisa dilakukan? Tentunya siswa perlu melakukan penyesuaian yang meliputi aspek fisik, psikologis, akademik, dan sosial. “Dalam proses penyesuaian dibutuhkan peran orangtua dan guru yang cukup besar ketika berhadapan dengan siswa,” imbuh lulusan Magister Psikologi UGM Yogyakarta ini.

Secara lebih rinci hal yang dapat dilakukan pertama-tama memberikan informasi kepada siswa tentang proses belajar tatap muka yang baru, sehingga siswa paham proses yang akan dijalaninya, kelebihan, serta risiko yang mungkin akan terjadi. Kedua, latih siswa untuk asertif. Asertif adalah kemampuan individu untuk mengomunikasikan hal yang dirasakan atau dipikirkannya secara jujur dan tegas dengan tetap menghargai perasaan orang lain.

Ketiga, menjaga pola komunikasi antara siswa, orangtua dan guru. Orangtua juga perlu memperbaharui informasi tentang anak selama di sekolah. Keempat, lakukan penyesuaian secara bertahap dengan menggunakan jadwal rutinitas pada siswa. Kelima, dukungan dari orangtua, guru, dan teman sebaya sangatlah penting. Pahami bahwa mungkin beberapa siswa membutuhkan waktu yang lebih panjang dalam menyesuaikan diri.

Terakhir, dalam proses penyesuaiannya siswa dapat menunjukkan gejala stres dan kecemasan. Bangun relasi yang hangat antara siswa, orangtua dan guru sehingga dapat memantau perkembangan penyesuaian siswa. “Jika bentuk kecemasan yang muncul cukup intens dan mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya untuk menghubungi profesional di bidangnya,” ujar Psikolog Klinik Utama Bunga Emas ini. (Ngurah Budi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

To Top