Woman on Top

Sugianitri Menolak Bertemu Megawati Saat Jadi Presiden, Ini Alasannya

Denpasar (cybertokoh.com) –

Deretan karangan bunga duka cita berjejer di Jalan Drupadi no 99X Denpasar. Karangan bunga itu datang dari kolega dan kenalan (alm) Ni Luh Putu Sugianitri termasuk dari Gubernur Bali Wayan Koster dan Ny. Putri Suastini Koster. Satu yang paling mencolok dan berada di tengah adalah karangan bunga dari Keluarga Guntur Soekarno dan Keluarga Bung Karno.

“Karangan bunga dari Om Guntur posisinya di tengah karena paling pertama kali datang. Waktu dapat kabar Mama sakit dan meninggal, beliau langsung menelepon. Tak lama kemudian, karangan bunga datang,” ungkap Fajar Rohita, putra sulung Sugianitri kepada Tokoh, Rabu (17/3).

Ia pun menuturkan kisah Nitri yang pernah menjadi ajudan Bung Karno dan keluarga. “Mama jadi ajudan sekitar dua tahun di masa terakhir Bung Karno sebagai Presiden RI. Begitu Bung Karno lengser, Mama juga ikut mundur. Padahal Mama disiapkan menjadi  ajudan Kepala Negara berikutnya,” kenang Fajar.

Saat ditanya apakah Nitri pernah menuturkan latar belakangnya menjadi polwan, Fajar tersenyum. “Ini pertanyaan tersulit yang saya dapatkan tentang Mama. Secara pribadi pun saya belum pernah menanyakan hal ini. Menurut saya, mungkin karena latar belakang keluarga yang keras dan tegas membuat mama memilih menjadi polwan. Ini kemungkinan ya. Keluarga besar Mama memiliki pendirian kuat dan tegas, mungkin mama ingin membuktikan kalau Mama juga bisa mandiri, caranya dengan menjadi polwan,” kata putra pertama Nitri dari perkawinannya dengan Memet Slamet.

Setelah menjadi polisi dan menempuh pendidikan di Sukabumi, Nitri lalu terpilih menjadi ajudan Presiden dari matra kepolisian. Fajar mengaku lebih banyak tahu kiprah ibunya sebagai ajudan Bung Karno dari tulisan media. Ia juga mendapat  cerita ibu dan ayahnya dijodohkan karena sama-sama berada di lingkungan Istana Negara. Memet merupakan penyanyi istana yang satu band dengan Guntur.

Kedekatan keluarga Nitri dan keluarga Bung Karno pun terus terjalin. Nama Fajar Rohita diberikan Bung Karno melalui secarik kertas yang disembunyikan di sepatu. Ketika Fajar lahir tahun 1968, ia disiapkan nama Andri. Ketika Megawati menyampaikan kabar ke ayahnya bahwa  sang ajudan sudah melahirkan bayi laki-laki, Bung Karno lalu menulis di secarik kertas dan memberikan nama Fajar Rohita yang artinya fajar merah. “Saya dapat nama khusus dari Bung Karno. Tetapi sepupu saya ada yang memanggil saya Andri,” kata Fajar yang setelah tamat kuliah sempat bekerja di Hard Rock Bali ini.

Setelah Bung Karno lengser, Nitri mundur dari kepolisian dan Memet berhenti sebagai penyanyi istana. Mereka tinggal di Jawa Barat dan memiliki usaha peternakan ayam. Dari perkawinan pertama ini, Nitri memiliki tiga anak, Fajar, Oki Kurniawan, dan Pria Kunta Biswara.

Setelah bercerai dari Memet, Nitri menikah dengan Tu Gde Parwantha dan memiliki empat anak, Putu Aliki, Kadek Damana, Komang Alia, dan Ketut Damesa. “Keluarga kami tidak lepas dari lingkaran istana. Suami kedua Mama sering ke istana karena dulu sebagai aktivis. Istri kedua ayah saya anak dari mantan kepala rumah tangga kepresidenan. Hubungan kami sebagai keluarga besar tetap terjalin. Saya kuliah di STP Nusa Dua, tinggal dengan Mama. Kalau keluarga di Bali ada acara di Jakarta, mereka tinggal di tempat kami,” ungkap Fajar.

Soal kedekatan dengan keluarga Bung Karno, Fajar mengakui sering menjadi perhatian orang. Saat Megawati menjadi Presiden RI dan menginap di Nusa Dua, Fajar mengajak Mamanya untuk bertemu Mega. Namun, Nitri menolak. Ia beralasan, tidak ingin pertemuan keluarga itu disalahartikan orang lain.

“Mama punya pendirian tegas dan selalu mengajar kami, semua anak-anaknya untuk memegang teguh nilai-nilai kejujuran, kebangsaan, kedisiplinan, dan bersedekah. Inilah yang membuat Mama tidak mau memanfaatkan kedekatan beliau dengan keluarga Bung Karno. Kenangan yang selalu terpatri di benak saya adalah cara berpikir Mama tentang jujur dan peduli lingkungan sebagai prinsip,” kenang Fajar.

Di hari-hari terakhir Nitri, Fajar yang berada di Jakarta kerap menelepon adik-adiknya. Nitri dalam enam bulan terakhir sudah sakit-sakitan dan tiga kali opname di rumah sakit. Ajudan terakhir Bung Karno ini mengidap kista, ginjal, dan anemia. Saat pengrupukan Sabtu, 13 Maret 2021 diajak ke rumah sakit dan rencananya akan dioperasi. Namun, Tuhan berkehendak lain, Nitra dipanggil Yang Kuasa Senin, 15 Maret 2021.

“Kondisi yang dialami Mama menjelang akhir hayatnya mirip dengan Bung Karno. Ada gejala komplikasi,” kata Fajar seraya menyampaikan jenazah masih dititip di RS Sanglah sampai kremasi dilakukan Kamis, 8 April 2021 di Mumbul, Kuta Selatan. (Ngurah Budi)

 

To Top