Bunda & Ananda

Kenali Kunci Parenting di Era Milenial

Denpasar (cybertokoh.com) –

Menghadapi anak milenal cukup berat. Ada tantangan bagi orangtua yang memiliki anak atau remaja yang sedang tumbuh di era milenial ini. Kunci untuk mengatasi tantangan ini terungkap dalam Dialog Interaktif “Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Milenal” yang diselenggarakan TP. PKK Provinsi Bali di Radio Genta, Selasa (16/2) dengan narasumber Retno IG Kusuma, Psikolog.

Retno menjelaskan tentang parenting sebagai segala hal yang berkaitan dengan orangtua dan keluarga dalam mendidik anak. Tiap zaman pasti mengalami perubahan karena perubahan itu yang abadi. Perubahan bukan pada orangtua, tapi subjek yakni anak yang dibesarkan. “Dulu, orangtua manggil anak, anak langsung menyahut. Sekarang anak dipanggil, pura-pura tidak dengar atau memang tidak dengar karena pakai headset, orangtua jadi emosi. Dulu anak dimarahi nunduk, sekarang anak-anak dimarahi, malah nantang,” ungkap mantan Ketua Himpunan Psikolog Indonesia (Himpsi) Bali ini.

Kata kunci parenting di era milenial adalah berkomunikasi dan toleransi. “Anak-anak perlu paham, harapan orangtua dan anak seperti apa. Komunikasi asertif, saya dan kamu ok, puas. Jangan hanya puas sepihak. Ada negosiasi, komunikasi, toleransi. Orangtua yang old, konservatif, tidak mau berubah, selalu merasa benar, selalu mengatakan anak belum makan asam garam dunia, membandingkan orangtua dulu. Orangtua milenial pemikirannya terbuka, dan mau mendengar anak, istilahnya “bisa pakai sepatu ukuran anak”, berempati, dan penuh cinta. Anak sekarang perlu disentuh, dibisiki, jangan diteriaki,” jelas Retno.

Ia pun memberi saran bagi anak yang kecanduan gadget, orangtua perlu mengajak diskusi, daripada berprasangka. Bisa jadi anak memang sedang mengerjakan tugas karena sekarang zamanya pembelajaran daring. Keluarga perlu membuat jadwal atau kebiasaan untu makan bersama, cuci piring dan yang terpenting harus ada quality time.

“Salah satu karakter anak milenial adalah semuanya serba instan. Mau sesuatu serba instan. Wajar saja orangtua menjadi naik tensinya. Ini tantangan. Pakailah komunikasi yang halus. Bicara singkat. Anak milenial sensitif, dapat instruksi yang panjang, jadi bete.  Orangtua harus bisa mengontrol kalimat, jangan panjang lebar, cukup intinya. Ini proses yang perlu diajarkan,” imbuh Retno.

Terkait pola pembelajaran daring, Retno mengatakan perlu ada pemahaman yang sama antara guru dan siswa. Guru harus bisa membuat siswa senang saat mengerjakan tugas. Karena itu, guru harus kreatif mencari materi pembelajaran. Misalnya menanam tumbuhan, itu mudah dilakukan dan mengajarkan siswa untuk peduli alam. Guru juga harus perhatikan berapa persen yang muridnya mengerjalan tugas.  Secara akademik memang sulit meraih target maksimal, tetapi pendidikan karakter akan terbentuk. Kreativitas dan kemandirian anak bisa terbentuk.

Sementara itu Ni Made Suastini, Sekretaris TP PKK Prov Bali yang didampingi Ni Ketut Sulaksmi, Ketua Bidang I TP PKK Prov Bali mengatakan di era pandemi Covid-19 ini ada tantangan bagi TP PKK sebagai mitra kerja pemerintah untuk menyosialisasi pola asuh anak dan remaja di era milenial. “Kami hanya bisa sosialisasi di media di masa pandemi tentu dengan tetap patuhi 4M. Pola asuh ini salah satu dari 10 program pokok PKK sejalan visi dan misi PKK,” ujarnya.

TP PKK  Prov Bali sudah turun ke 57 lokasi untuk menggerakkan HATINYA PKK. Program ini melibatkan keluarga misalnya dengan menata tanaman di rumah. Ini bermanfaat bagi keluarga dan biar betah selama ada di rumah saja selama pandemi. ”Kalau ndak ada halaman, pakai tabulampot, foto atau rekam lalu pasarkan online. Ini menumbuhkan enterpreneur muda. Kuncinya adalah keluarga, pola asuh cinta kasih, wujudkan kesejahteraan keluarga,” tegas Suastini. (Ngurah Budi)

 

 

 

 

 

To Top