Edukasi

Ini Tips Hadapi Tekanan Psikologis saat Pandemi Covid-19

Denpasar (cybertokoh.com) –

Pandemi Covid-19 membawa dampak yang begitu besar bagi kehidupan masyarakat. Tidak hanya di bidang ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan, tetapi juga berdampak secara psikologis. Dampak psikologis yang diakibatkan dari bencana ini adalah respons emosional yang ditampilkan dalam situasi krisis dalam kondisi abnormal. Hal tersebut diungkapkan oleh C. Prammu Hartadi, Psikolog, Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Wilayah Bali.

Prammu mengatakan di masa pandemi Covid-19, banyak persoalan yang muncul di antaranya banyak perusahaan yang mengatur operasional finansial dengan melakukan pemutusan hubungan kerja atau merumahkan pegawainya. Perasaan sedih setelah kehilangan pekerjaan benar-benar ada, karena berbagai alasan. Kehilangan pekerjaan tidak hanya mewakili hilangnya pendapatan, tetapi juga kehilangan bagian inti dari identitas kita.

Dalam sebuah penelitian seberapa besar pengaruh kehilangan pekerjaan pada kesehatan mental seseorang. Hasilnya, mereka yang kehilangan pekerjaan dan karier, akan merasa kehilangan lebih banyak dan menimbulkan tekanan mental. “Terlebih, perasaan itu dapat membesar ketika mereka berinvestasi banyak dalam pekerjaan mereka melalui waktu, pendidikan, atau energi,” jelasnya.

Beberapa permasalahan yang muncul di masyarakat adalah gangguan emosional yang muncul atau permasalahan psikologis yang terkait dengan pandemik Covid-19 diantaranya kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, stres yang disebabkan karena terlalu lama di rumah, terkena PHK atau dirumahkan, konflik keluarga dan sebagainya.

Beberapa tips  mengatasinya antara lain meningkatkan kreativitas untuk mengatasi kejenuhan, lebih sering melakukan social distancing communication dengan keluarga, relaksasi, melaksanakan hobi dan banyak lagi agar menjadi pribadi yang resilience terhadap ombak besar pandemi ini tetap produktif.

Lebih lanjut pihaknya menyebut reaksi dari pemutusan hubungan kerja maupun dirumahkan setiap orang bisa saja berbeda walaupun mengalami peristiwa yang sama. Selain aspek kepribadian, reaksi tergantung pada pengalaman atau dukungan sosial. Jika gagal, muncul respons emosional ekstrim dan berlangsung terus maka membutuhkan intervensi klinis lebih lanjut.

“Apabila sudah dirasa mengganggu kesehatan jiwa, misal stres atau depresi berkepanjangan perlu konsultasi dengan psikolog atau orang yang bisa membantu permasalahan atau  pergumulan problematika hidupnya,” papar Prammu.

Agar  pemutusan hubungan kerja akibat pandemi Covid-19 tidak berdampak secara psikologis bagi masyarakat, beberapa tips diberikan oleh Prammu Hartadi.

Pertama, bersikap baik kepada diri sendiri. Semua merasakan pandemi, kita tidak sendirian harus keluar dari zona nyaman untuk move on.  Ungkapan menyalahkan diri sendiri ini tidak membantu, dan langkah pertama yang penting adalah dengan bersikap baik pada diri sendiri. Kedua, pertahankan rutinitas harian yang teratur. Ketika Anda tidak lagi memiliki pekerjaan untuk dilakukan ke setiap hari, Anda dapat dengan mudah kehilangan momentum. Waktu bisa jadi terbuang sia-sia hanya dengan meratapi nasib. Cobalah untuk memasukkan waktu reguler dan terstruktur seperti berolahraga dan berjejaring. Mengikuti jadwal yang ditetapkan akan membantu menjadi lebih produktif dan mempertahankan ritme yang sehat untuk hari-hari Anda.

Ketiga, buat rencana pencarian kerja. Lakukan prospek untuk mencari pekerjaan. Coba bagi tujuan besar menjadi tugas-tugas kecil yang bisa dikelola agar ada langkah untuk meraihnya. Tetapkan beberapa prioritas, seperti merevisi resume, mencari berbagai referensi, dan menentukan waktu untuk memantau situs web pekerjaan. Keempat, tetap sehat. Ungkapan ‘pikiran sehat hidup dalam tubuh yang sehat’ benar, jika Anda mengalami masa pengangguran. Terus berolahraga, makan dengan baik, dan jika Anda memiliki masalah kesehatan, pergi ke dokter atau  berkonsultasi gratis melalui telepon  119 Ext 8 Layanan Sejiwa dari pukul 10.00 s.d 22.00. Layanan ini ditangani psikolog yang bisa memahami untuk menyelesaikannya sebelum menjadi lebih serius.

Kelima, ingatkan diri Anda tentang hal-hal positif Anda saat menganggur. Anda bisa jadi lebih fokus pada kekurangan Anda, mencari peluang guna menuliskan daftar semua momen ketika anda berhasil, atau benar-benar bangga dengan proyek atau pekerjaan yang melibatkan Anda. Buat daftar keterampilan dan sifat kepribadian positif Anda, dan orang-orang yang telah Anda dukung dan bantu selama bertahun-tahun. Ini bisa jadi tepat dilakukan untuk mengingatkan diri sendiri tentang sifat-sifat positif yang Anda miliki. Keenam, temukan kegiatan yang memberi hidup Anda bermakna. Anda tidak perlu menunggu sampai mendapatkan pekerjaan untuk mulai menikmati beberapa manfaat dari keterlibatan yang bermakna, melalui kesukarelaan, melakukan hobi, atau mempelajari sesuatu yang baru.

Ketujuh, fokus pada hal-hal yang dapat Anda kendalikan. Meskipun sedikit klise, cobalah untuk memfokuskan energi Anda pada hal-hal yang sebenarnya dapat dikendalikan dan cobalah untuk lebih fokus, meningkatkan keterampilan diri, mengirimkan lamaran kerja, dan memperluas jaringan. Selain itu, tetapkan standar kesuksesan Anda sendiri. Kedelapan, ketahui kapan harus mendapatkan bantuan lebih lanjut. Jika Anda mengalami suasana hati yang terus-menerus rendah selama lebih dari dua minggu, atau perasaan putus asa yang berlebihan, cari dukungan profesional. Jika Anda mengalami gejala kesehatan mental yang lebih parah, mungkin saat yang tepat untuk berbicara dengan dokter atau bahkan dirujuk ke spesialis kesehatan mental. (Wiwin Meliana)

 

To Top