Inspirasi

Jadi Penari Sang Hyang Jaran, Ini Kebanggaan Sutapa

Gianyar (cybertokoh.com) –

Masyarakat mengenal Tari Api/Sang Hyang Jaran  sebagai tarian sakral. Tari ini ditarikan oleh penari laki laki dalam keadaan kesurupan.  Dalam ritual tertentu (tolak bala), gundukan api dipersiapkan kemudian setelah ritual selesai atau sang penari sudah dalam keadaan kesurupan, sang penari akan menceburkan dirinya ke api tersebut, berjalan, diduduki, atau juga dimakan.

Filosofi tarian tersebut  menggambarkan keberanian, keteguhan, dan keiklasan untuk melawan sesuatu yang bersifat negatif (bala) untuk mencapai hal hal yang positif dan berguna untuk orang banyak.

Setiap orang bisa menarikan terutama laki laki, dengan syarat orang tersebut sudah disucikan. Tarian ini merupakan tari yang sifatnya religius dan ada unsur magisnya. “Saya hampir 28 tahun menggeluti tarian ini, penuh rasa bangga dan bersyukur walau harus terus belajar untuk lebih baik,” ungkap I Ketut Sutapa, salah seorang penari Sang Hyang Jaran.

Pria kelahiran Gianyar, 10 Juni 1971 ini menuturkan karena perubahan zaman, disamping nari dalam acara ngayah/ritual tertentu, ia juga menarikan tari ini untuk pertunjukan. Tapi, tanpa mengurangi makna dari tarian tersebut.

“Tari Sang Hyang Jaran/Api ini biasanya ditarikan di lingkungan tempat suci (Pura) dan mencari hari baik tertentu. Bedanya, dengan yang dipertunjukkan (duplikat), karena kapan saja, dan ditempat pertunjukan biasa (komersil),” ungkap penari yang juga hobi memelihara binatang ini.

Seperti tari yang lain, penari Sang Hyang Jaran/Api mempersiapkan diri dengan kondisi yang sehat apalagi akan bergelut dengan bara api. Ini diawali dengan sembahyang apalagi akan menarikan sebuah tarian sakral. Sarana sesajen, api dipersiapkan oleh seka yang lain.

“Tantangan saya dalam menarikan tari api yang akan saya hadapi di depan saya, dengan penuh keyakinan untuk bisa menarikan tarian ini dengan baik, selamat, berani, dan ikhlas,” tegas Sutapa.

Ada pengalaman yang paling berkesan saat ia menarikan tarian ini di Singapura tahun1997. Saat itu diberi kesempatan bersama crew mewakili Indonesia dalam sebuah festival kesenian se-Asia. Walau saat itu dikemas ke dalam cerita Ramayana, karena tidak diperbolehkan tarian sakral dibawa keluar, Sutapa berperan sebagai raksasa yang dibakar oleh sang Hanoman.

“Harapan saya pada generasi penerus, tetap jaga seni dan budaya ini. Tarikanlah tarian ini dengan baik dan tidak asal asalan. Kita nari api tidak cukup hanya berani menginjak api, tapi agar bisa memaknainya dengan baik, memerankan dengan baik, jangan lepas dari jalur walau boleh berinovasi,” ujar pria yang beralamat di Banjar Kalah, Batubulan, Sukawati, Gianyar ini. (Sepi Purnama)

To Top