Bali

Soal Sampradaya Non Dresta Bali, Ini Kata Ketua MDA Bali

Denpasar (cybertokoh.com) –

Maraknya sampradaya non dresta Bali  mendapat perhatian masyarakat Bali. Desa Adat memiliki peran penting dalam mengajegkan dan melestarikan nilai-nilai kebudayaan asli Bali agar tidak tergerus oleh kebudayaan asing. Hal tersebut diungkapkan oleh Bendesa Agung Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet.

Pihaknya mengatakan  PHDI dan Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen untuk melarang aktivitas dan berkembanganya ajaran-ajaran sampradaya di Bali yang tidak sesuai dengan ajaran Weda. Pelarangan tersebut dilakukan bukan karena perbedaan budaya dan agama, melainkan sampradaya secara terbukti melakukan gerakan secara strategis, masif, sistematis, dan terstruktur menyebarkan ajaran asing ke dalam komunitas yang sudah beragama Hindu Bali. “Pelarangan bukan karena berbeda agama maupun budaya tetapi misi dalam menyebarluaskan ajaran asing yang tidak sesuai dengan ajaran Weda untuk umat Hindu di Bali,” paparnya.

Disinggung terkait bahaya ajaran sampradaya dan konversi agama yang terjadi di indonesia, Putra Sukahet mengatakan dua gerakan ini sama-sama memiliki bahaya dalam menggerus kebudayaan dan nilai nilai luhur dalam agama Hindu. Akan tetapi bersama Forum Kerukunan Umat Beragama selalu menindak tegas jika ditemukan kasus-kasus konversi agama. “Saat ini konversi agama sudah tidak ditemukan lagi, kalau pun ada satu atau dua kasus FKUB akan langsung bertindak,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Putra Sukahet mengajak umat Hindu yang telah terpapar ajaran sampradaya agar kembali ke jati diri sebagai orang Hindu yang memiliki agama, budaya dan nilai-nilai adi luhung. Meski melarang ajaran sampradaya, pihaknya mengajak umat Hindu Bali agar tidak fanatik dengan ajaran agama lain. “Kita tidak boleh fanatik apalagi sampai menjelekkan tetapi kita tetap bisa kagum dan menghormati ajaran agama lain,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

To Top