Indonesia

Sistem Kesehatan akan Lumpuh Jika Masyarakat tak Peduli Prokes

Jakarta (cybertokoh.com) –

Kepatuhan masyarakat melaksanakan Protokol Kesehatan, seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan pakai sabun serta menghindari kerumunan semakin menurun. Tak heran kalau penambahan kasus positif Covid 19 terus bertambah. Bahkan kemarin (13/1/2021) pertambahan kasus Covid 19 harian mencatat rekor baru yakni 11.287 kasus.

Berdasarkan data Satgas per tanggal 7 Januari 2021, sejak minggu ke-3 September hingga ke-4 Desember 2020, persentase kepatuhan memakai masker menurun 28%, kepatuhan menjaga jarak dan menghindari kerumunan menurun 20,6%. Hal ini, berkontribusi pada kenaikan kasus positif pada Oktober-Desember 2020 sebesar 113%.

Kondisi ini sungguh mengkhawatirkan. Tanpa peran serta masyarakat untuk disiplin mematuhi Prokes maka niscaya pertambahan kasus Covid 19 akan terus meningkat bahkan berpotensi tidak terkendali.
Melaksanakan 3 M—memakai masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan—untuk mencegah penularan bukan hal yang sulit. Bahkan sangat sederhana. Yang diperlukan hanyalah kesadaran dan kepedulian masyarakat, bukan hanya terhadap diri sendiri tapi juga orang lain, bahkan orang-orang sekitar yang dicintai.

Dengan mencegah penularan, maka peningkatan kasus Covid-19 dapat ditekan. Dengan menurunnya jumlah kasus, maka tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit dapat diantisipasi.
Seperti yang disampaikan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, “Mengapa hal-hal sederhana ini tidak Anda jalankan? Pertanyaan ini wajib kita tanyakan kepada diri masing-masing. Apakah protokol kesehatan memang lebih sulit dibandingkan dengan kehilangan orang yang kita kasihi untuk selama-lamanya. Saya rasa jawabannya pasti tidak!”

Apa yang disampaikan Wiku cukup beralasan, karena perkembangan kasus Covid-19 dalam satu Minggu terakhir ini cukup berat. Dimana kasus harian berada pada angka 9 ribu bahkan melebih 10 ribu per harinya. Hal ini berimbas negatif pada efektivitas penanganan Covid-19.

Sebagai contoh, dengan meningkatnya keterisian rumah sakit akan menambah beban para petugas kesehatan. Dan hal ini juga secara langsung berdampak negatif pada keseluruhan penanganan di rumah sakit tersebut. Apabila angka ini terus meningkat dan menyebabkan rumah sakit penuh, maka sangat berpotensi menaikkan angka kematian akibat Covid-19.

“Sistem kesehatan kita akan lumpuh. Apabila sistem kesehatan kita lumpuh, hal ini tidak hanya merugikan penderita Covid-19 semata. Namun juga masyarakat umum yang membutuhkan perawatan akibat penyakit lain selain Covid-19. Utamanya mereka yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang esensial seperti penderita penyakit paru dan jantung,” lanjut Wiku.

Dan jika rumah sakit di Indonesia tidak dapat menangani hal itu, maka angka kematian di Indonesia bisa meningkat bukan semata-mata karena Covid-19, namun juga karena penyakit lain yang tak bisa ditangani akibat penuhnya rumah sakit.

“Saya ingin sekali lagi mengingatkan, kepada masyarakat dan pemerintah daerah, terutama yang masih meremehkan Covid-19. Jangan sampai kita menjadi abai, dan menganggap angka (Covid-19) yang disampaikan ini hanya sekedar angka. Ingatlah, bahwa angka-angka ini merepresentasikan nyawa,” ujar Wiku. (Diana Runtu)

To Top