Connect with us

Sehat

Vaksinasi Covid-19 Dimulai, Ini Kata IDI

Published

on

Denpasar (cybertokoh.com) –

Pemerintah Indonesia telah mulai menjalankan program vaksinasi bertahap pada Rabu (13/1) sebagai upaya bersama membebaskan masyarakat Indonesia dari pandemi.

Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama di Indonesia yang mendapat suntikan vaksin Sinovac dosis pertama pada pukul 9:42 WIB di Istana Negara, Jakarta Pusat, disusul oleh sejumlah pejabat negara dan tokoh masyarakat, termasuk di antaranya Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), dr. Daeng M. Faqih.

Juru bicara IDI, dr. Erlina Burhan dalam siaran pers KPCPEN mengatakan bahwa proses vaksinasi perdana yang disiarkan secara langsung tersebut merupakan hal yang sangat baik untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa vaksin Covid-19 yang digunakan terjamin keamanannya.

Advertisement

“Kalau vaksin yang digunakan tidak aman, tentu para pemimpin tersebut tidak mau divaksin. Ketua Umum IDI, dr. Daeng M. Faqih, juga ikut divaksin bersama Presiden Joko Widodo untuk menunjukkan kepada para tenaga kesehatan dan tenaga medis supaya tidak perlu ragu lagi menjalani vaksinasi saat gilirannya nanti,” ujar dr. Erlina, yang saat ini bekerja sebagai dokter spesialis paru di Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

BACA  Warna Buah dan Sayur Informasikan Kandungan Nutrisi

Menurut dr. Erlina, salah satu tujuan vaksinasi adalah untuk mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok. “Ini bisa terjadi kalau 70 persen rakyat Indonesia divaksin sehingga bisa melindungi 30 persen rakyat lainnya yang tidak bisa divaksin atau yang rentan kesehatannya. Kalau banyak masyarakat yang menolak vaksinasi, kekebalan kelompok tersebut tidak akan tercapai sehingga penularan akan terus berlangsung, sementara kondisi kita sekarang ini saja sudah sangat sulit. Tidak bisa kita terus-terusan seperti ini,” imbuhnya.

Vaksin Covid-19 keluaran Sinovac yang digunakan di tahap pertama program vaksinasi di Indonesia dipastikan aman karena telah mendapatkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). BPOM juga telah mengumumkan hasil efikasi berdasarkan uji klinik fase 3 di Indonesia yang mencapai 65,3%. Angka efikasi ini lebih tinggi dari ketentuan WHO yang menetapkan syarat minimal efikasi vaksin Covid-19 sebesar 50%.

Dokter Erlina menyatakan vaksinasi adalah bagian dari berbagai upaya yang kita lakukan untuk mencegah terjadinya penyakit. “Proteksi yang diberikan oleh vaksin Covid-19 apapun dengan tingkat efikasi di atas 50%, pastinya jauh lebih baik daripada tidak divaksin sama sekali,” tegasnya.

BACA  Tetap Aktif Bergerak Cegah Osteoporosis

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Komisi Fatwa MUI juga telah mengeluarkan fatwa halal dan suci untuk vaksin Covid-19. “Dengan demikian kriteria kehalalan, keamanan, dan efektivitas sudah terpenuhi semua, sehingga tidak ada alasan lagi bagi kita untuk menolak vaksin ini,” tutupnya. (Ngurah Budi)

Advertisement

Sehat

Vaksinasi Kelompok Remaja Terus Digenjot

Published

on

Vaksinasi pelajar di Kabupaten Badung (cybertokoh/Humas Pemkab Badung)

Denpasar (cybertokoh.com) –

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate mengungkapkan, per 3 Desember 2021, cakupan vaksinasi di Indonesia untuk dosis pertama sudah mencapai lebih dari 20 juta remaja atau mencapai 76,85% dari sasaran vaksinasi kelompok remaja. Adapun, 14,8 juta (55,5%) di antaranya telah menerima vaksinasi dosis lengkap.

“Meski sudah melampaui angka 75%, pemerintah terus menggenjot vaksinasi kelompok remaja untuk melindungi Remaja Indonesia dari ancaman Covid-19. Sejalan dengan ini, para remaja dan orangtua harus saling mengingatkan untuk tetap memperkuat penerapan protokol kesehatan,” ujarnya dalam siaran pers, Sabtu (4/12).

Menurutnya, vaksinasi remaja sangat penting untuk melindungi anak indonesia dari ancaman Covid-19, apalagi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas sudah mulai berlangsung. Menkominfo menegaskan, vaksinasi dipercaya dapat mengurangi risiko sakit berat jika terinfeksi Covid-19. Oleh karena itu, Johnny mendorong orang tua untuk mengantar anaknya ke tempat vaksinasi terdekat. Meski ada berbagai jenis vaksin yang sudah beredar di Indonesia, pemerintah meminta masyarakat untuk jangan pilih-pilih vaksin. “Semua vaksin sama saja dan sudah mendapatkan EUA dari Badan POM,” katanya.

Advertisement

Menkominfo menambahkan, per 3 Desember secara total sudah 141,7 juta penduduk Indonesia yang sudah mendapatkan dosis pertama dan 98,2 juta sudah dosis lengkap. Pemerintah berkomitmen untuk terus menggencarkan vaksinasi untuk mencapai target vaksinasi 70% penduduk Indonesia di akhir tahun 2021.

BACA  Bali Siapkan Tujuh Ribu Tenaga Vaksinator

Johnny memaparkan, saat ini ada sebelas jenis vaksin Covid-19 yang sudah mendapatkan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Banyaknya merek vaksin bukan diartikan bahwa masyarakat bisa memilih untuk disuntikkan dengan vaksin merek tertentu. Namun, hal ini harus disikapi sebagai sebagai wujud strategi pemerintah untuk memenuhi stok kebutuhan vaksin secepat mungkin, menghindari risiko kehabisan stok, menjaga akselerasi program vaksinasi, dan mencapai herd immunity segera.

Johnny juga mengajak masyarakat untuk terus memperkuat disiplin protokol kesehatan jelang periode libur Natal dan tahun baru. Hal ini diperlukan agar tren kasus Covid-19 yang terkendali saat ini dapat terus dipertahankan meski di tengah peningkatan mobilitas yang terjadi jelang akhir tahun. “Jangan sampai lonjakan kasus kembali terjadi. Mari bekerja sama dan bergotong royong untuk bersama-sama menjaga dan meningkatkan kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan dan segera ikut vaksinasi,” tegasnya.

Sebelumnya Sekda Kabupaten Badung Wayan Adi Arnawa mengatakan Pemerintah Kabupaten Badung telah melaksanakan program pelaksanaan vaksin khusus bagi anak umur 12-17 tahun di semua kecamatan. “Pemerintah bergerak terus melaksanakan vaksinasi sehingga apa yang menjadi rasa khawatir kita terhadap anak-anak bisa berkurang. Karena bagaimanapun juga informasi yang kita dapatkan tentang Covid-19 ini menyerang tidak memandang usia, untuk itu mudah-mudahan dengan adanya pencanangan dan pemberian vaksin hari ini setidaknya kita bisa meminimalisir penyebaran Covid-19 di Badung,” tegasnya.

BACA  Tekan Laju Penyebaran Covid-19 saat Liburan, Ini yang Dilakukan Badung

Lebih lanjut ia mengatakan pemberian vaksin ini dalam rangka untuk meningkatkan imunitas tubuh. Kepada anak-anak yang akan divaksin agar tidak takut karena vaksinasi ini sangat penting untuk didapatkan guna menghindari penyebaran Covid-19 ini. “Adik-adik ini diharapkan untuk menjadi agen Kesehatan. Harus memberi informasi sekaligus sosialisasi kepada seluruh anggota keluarga terkait dengan protokol kesehatan. Dan meskipun sudah mendapatkan vaksin didalam menjalankan kegiatan sehari-hari baik itu di sekolah, di rumah dan di masyarakat harus tetap menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun di air mengalir,” tegas Adi Arnawa.

Advertisement

Sementara itu, salah satu orangtua siswa, Made Parwata menuturkan putranya yang berada di jenjang SMP terlambat untuk vaksin dosis kedua. “Kami sekeluarga sempat terpapar Covid-19 bertepatan dengan jadwal dosis kedua. Kami langsung infokan ke sekolah. Jadwal vaksin dosis kedua menyusul setelah sembuh dan bisa dilakukan di Puskemas terdekat dengan menunjukkan keterangan dosis pertama,” ungkap karyawan swasta ini.

Akhirnya, setelah mereka sembuh dan ada masa jeda, Parwata mengantarkan anaknya untuk vaksinasi. Ia berharap, imunitas anaknya bisa lebih kuat setelah menjadi penyintas Covid-19 ditambah dosis lengkap vaksin. (Ngurah Budi)

BACA  Dicari, Relawan Penanganan Covid-19

Continue Reading

Sehat

Mereka yang Anti Vaksin Covid-19, Kini Berbondong-bondong Mengikuti Vaksinasi

Published

on

Dr. dr. Budiman Bela (kanan), Dubes EI untuk Belgia merangkap Luksemburg dan Uni Eropa Dr. Andri Hadi (tengah) dan moderator Wicky Adrian (kiri). Foto tangkapan layar twitter BNPB

Jakarta (cybertokoh.com)-

Terjadi perkembangan menarik dari program vaksinasi Covid-19. Belakangan orang-orang yang tadinya termakan hoaks sehingga menolak untuk divaksin Covid-19, kini berbondong-bondong minta divaksin.

Kabar gembira ini disampaikan Dr. dr. Budiman Bela Spesialis Mikrobiologi Klinik yang juga Anggota Bidang Penanganan Kesehatan dan Panel Ahli Satgas Penanganan Covid-19 BNPB dalam diskusi virtual ‘Ada Apa Dengan Covid-19 di Eropa’. Diskusi ini juga menghadirkan Dr Andri Hadi, Dubes RI untuk Belgia merangkap Luksemburg dan Uni Eropa sebagai pembicara.

“Ini adalah hal yang sangat positif sekali karena kita ketahui ini (vaksin Covid 19) jelas-jelas bisa menurunkan angka sakit berat dan kematian. Datanya sudah ada ya dari teman-teman di Sub Bidang Tracing Satgas BNPB, mereka sudah mendata dampak dari vaksinasi di lapangan,” kata dr. Budiman Bela.

Advertisement

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 2 Desember 2021, jumlah warga yang telah menerima vaksin Covid 19 dosis pertama sebanyak 140,8 juta, dosis kedua sebanyak 97,3 juta, dan dosis ketiga 1,2 juta orang. Target sasaran vaksinasi sebanyak 208,2 juta orang.
Protokol kesehatan dan vaksinasi, ujar dr Budiman, akan membantu membentengi masyarakat dari Covid-19. Kedua hal penting itu akan memberikan efek positif dalam menghambat kembang-biak virus.

“Jadi sekalipun kita terinfeksi, misalnya, kalau kita patuh memakai masker maka akan mengurangi kemungkinan menjadi sumber penularan buat orang lain. Begitu juga, kalau kita sudah divaksin. Jika pun terinfeksi maka virus tidak akan berlama-lama dalam tubuh kita. Nah menjadi sangat baik jika digabungkan, yakni penerapan Prokes dengan baik dan vaksin, kemungkinan transmisi menjadi jauh lebih rendah,” papar dr Budiman.

BACA  Tekan Laju Penyebaran Covid-19 saat Liburan, Ini yang Dilakukan Badung

Lebih jauh dipaparkannya, mutasi virus akan cepat muncul pada keadaan dimana virus diberi kesempatan untuk bereplikasi dengan baik dan salah satu yang dapat mengakibatkan virus dapat bereplikasi dengan baik adalah kondisi imunitas yang kurang baik. Namun jika seseorang telah divaksin maka virus tidak mendapat tempat yang baik untuk berkembang biak di dalam tubuh orang.

Karenanya, dr Budiman menyarankan masyarakat segera mendapatkan vaksin Covid-19. Ini bukan saja untuk melindungi diri sendiri tapi juga orang lain, termasuk orang-orang yang disayang.

“Jangan menunda-nunda, tolong segera vaksin. Jangan pilih-pilih vaksin. Semua vaksin yang tersedia adalah baik dan aman. Jadi cepat lah vaksin, karena itu akan menurunkan risiko kita apapun strain yang menginfeksi kita,” tambahnya seraya mengingatkan untuk tetap disiplin menjalankan Prokes meski sudah divaksin dosis lengkap.

Advertisement

Memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, juga membatasi interaksi dan mobilitas akan sangat membantu dalam menekan penularan virus Corona.

Kasus Eropa Pelajaran bagi Indonesia
Melambungnya kasus Covid-19 di sejumlah negara di Eropa bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia. Ketika kondisi kasus Covid-19 di sana sudah melandai, pemerintah melakukan relaksasi termasuk terhadap Protokol Kesehatan yang mengalami pelonggaran. Masyarakat bisa beraktivitas di area public tanpa masker, jaga jarak, dll. Walhasil, kasus Covid pun kembali meningkat tajam.

Dubes RI untuk Belgia merangkap Luksemburg dan Uni Eropa, Andri Hadi yang menjadi pembicara dalam diskusi ini menyebut, ada beberapa faktor kenapa kasus Covid kembali meningkat. Pertama adalah masalah vaksinasi, hal kedua adalah relaksasi yang terlalu cepat dan Protokol Kesehatan yang longgar.

“Saya ke Belanda bulan Mei lalu. Di sana jarang orang memakai masker. Itu sebelum summer. Saya sampai kaget. Karena di Belgia, umumnya, orang masih memakai masker. Tapi itu terjadi sebelum ada pengumunan pemerintah (soal kewajiban masker). Jadi di Belanda waktu itu jarang sekali orang pakai masker. Baik itu di dalam restoran, di mal, dll. Jadi menurut saya terlalu cepat relaksasinya,” papar Andri.
Sedang di Belgia, mulai ‘bebas’ masker dalam artian bukan ‘obligation’ (kewajiban) dimulai Agustus 2021. Masuk mal bisa tanpa masker. Tapi kalau naik transportasi umum wajib bermasker.

BACA  Satgas Covid 19 Dorong Pemda Lakukan Testing Secara Maksimal dan Menyeluruh

Karenanya, kata dia, apa yang terjadi di Indonesia, di mana masyarakat tetap Prokes meskipun kasus Covid tengah melandai, membuatnya bangga. “Kita bangga dengan bangsa kita yang tetap patuh mengikuti imbauan pemerintah untuk tetap memakai masker dalam segala aktivitasnya,” ungkap Andri.

Advertisement

Bicara vaksinasi di Eropa, kata Dubes Andri, memang rata-rata vaksinasi di sana tinggi. Seperti Malta, Portugal, Irlandia, semuanya di atas 80%. Tapi banyak juga yang masih rendah cakupan vaksinasinya, terutama di Eropa timur. Di antaranya; Polandia juga Kroasia. Jadi cakupan vaksinasi tidak merata, ada yang tinggi, ada juga yang rendah.

“Jadi kenapa jumlah kasus di Eropa saat ini tinggi, salah satunya karena vaksinasi yang tidak merata, juga terlalu cepat relaksasi,” jelasnya. Untuk diketahui, sebagian besar orang yang terinfeksi Covid-19 di Eropa adalah mereka yang belum divaksin.

Hal yang juga menjadi tantangan terkait vaksinasi adalah banyaknya kelompok anti-vaksin. Salah satu tertinggi adalah di Prancis. Ada data bahwa hanya 60% warga Prancis yang mau divaksin, selebihnya tidak.
Namun begitu, lanjut Andri, dengan terjadinya Gelombang Keempat Covid di Eropa, mungkin mereka kini berpikir ulang bahwa vaksin adalah kunci. Meski banyak kelompok anti-vaksin, namun sudah di’declare’ bahwa penyebab utama Gelombang Keempat Covid karena banyak orang tidak tervaksin dan itu mendorong orang untuk secepatnya mendapatkan vaksin.

BACA  Jangan Sampai PPKM Darurat Sia-sia, Masyarakat Diminta Patuh

Selain itu, pemerintah di Eropa sekarang ini melakukan percepatan pemberian vaksin booster. “Yang tadinya rencana baru akan memberi vaksin booster pada 2022 dipercepat menjadi sekarang. Jadi begitu 6 bulan vaksin terakhir, warga sudah bisa mendapatkan booster, khususnya para manula,” ucap Andri.

Untuk diketahui, WHO menyatakan bahwa Eropa menjadi episenter pandemi Corona. Hal ini karena peningkatan kasus di sana yang meningkat drastic. Di Jerman misalnya, tertinggi dalam sehari 67.186 kasus. Juga kematian yang mencapai 446 kasus per-hari. Ini tertinggi yang dialami Jerman sejak awal pandemi.

Advertisement

Kondisi kasus yang melonjak tajam membuat fasilitas kesehatan kewalahan sehingga mengambil keputusan menunda tindakan-tindakan non-darurat dan lebih mengutamakan pasien-pasien positif Corona. Contohnya di Austria dan Belgia.

Di banyak negara di Eropa kini juga mulai melakukan pengetatan-pengetatan termasuk mewajibkan pemakaian masker pada masyarakat. Bahkan di Austria mulai Februari 2022 mewajibkan vaksin bagi seluruh warga negaranya. Austria menjadi negara pertama di Eropa yang akan menerapkan kewajiban vaksin bagi warganya. Di Austria pula, warga yang belum divaksin dilarang beraktivitas di luar rumah, kecuali membeli sembako.

Selain itu, ujar Andri lebih lanjut, Austria juga menerapkan system sertifikasi vaksin. Jadi kemana-mana harus menggunakan sertifikat vaksin, bahkan ada beberapa tempat yang selain menggunakan sertifikat vaksin, juga mengharuskan warga dites antigen. (Diana Runtu)

Advertisement
Continue Reading

Sehat

Jangan Tunda Vaksinasi Covid-19

Published

on

Vaksinasi Covid-19 untuk warga Badung (cybertokoh/Humas Pemkab Badung)

Badung (cybertokoh.com) –

Pengumuman vaksinasi Covid-19 untuk warga yang ber-KTP Badung atau berdomisili di Badung kembali diumumkan di WA Grup Banjar Samu, Desa Mekar Bhuwana. Hal ini untuk memberi kesempatan kepada warga yang belum vaksinasi.

“Vaksinasi dosis II yang dilaksanakan bulan Desember 2021 sudah diinfokan UPTD Puskesmas Abiansemal II yang mewilayahi Jagapati, Angantaka, Sedang, Mekar Bhuwana, dan Mambal. Silakan yang akan vaksinasi dosis II cek jadwalnya. Jangan tunda vaksinasi,” ujar Kelian Dinas Banjar Samu, I Gusti Agung Swadyaya, Kamis (2/12).

Ia berharap vaksinasi dosis II ini bisa berjalan lancar dan semua warga dusunnya mendapat vaksin Covid-19 dosis lengkap. Vaksin yang digunakan buatan AstraZeneca, Sinovac, Corona Vac, dan Biofarma.

Advertisement

Di saat pemerintah sudah memfasilitasi warga untuk vaksinasi, ternyata di beberapa daerah lain masih ada yang merasa tidak perlu vaksinasi. Mereka tidak mau vaksinasi dengan alasan sudah tua dan jarang bepergian atau tidak akan kemana-mana. “Tetangga saya bilang orangtuanya tidak perlu vaksinasi karena komorbid, sudah tua, dan jarang keluar rumah. Yang lansia memang jarang keluar rumah, tetapi ada anak dan cucunya yang tiap hari keluar masuk rumah. Siapa berani menjamin, mereka aman dari virus,” ujar Komang Putra, warga Gianyar.

BACA  Tetap Aktif Bergerak Cegah Osteoporosis

Pengalaman Komang Triyanti lain lagi. Ia dan keluarga menunggu vaksin merek tertentu karena sudah mendaftar. Namun, karena vaksin tak kunjung tiba dan Covid-19 merajalela, mereka pun memilih segera vaksin dengan merek yang ada. “Kebetulan waktu itu kami ke mall. Ada vaksinasi Covid-19. Karena berencana liburan ke luar kota, kami ikut saja vaksinasi itu biar saat liburan sudah punya kartu vaksin. Selain itu, lebih baik segera vaksin sebelum Covid-19 menyerang,” ungkapnya.

Pandemi Covid-19 di Indonesia yang melandai menjadi momentum emas mempercepat capaian vaksinasi di berbagai wilayah. Akselerasi vaksinasi juga sangat penting untuk meminimalisasi dampak penyebaran varian baru Covid-19 yang sewaktu-waktu bisa datang ke Indonesia.
Kondisi pandemi yang terkendali saat ini, dianggap menjadikan masyarakat cenderung menunda vaksinasi. Terkait hal ini, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi menyebutkan, di beberapa daerah dalam 2 – 3 minggu ini terjadi penurunan jumlah penyuntikan vaksin per harinya.

“Kondisi penularan yang membaik, membuat masyarakat tidak buru-buru divaksin, mereka menunggu-nunggu dan memilih vaksin merek tertentu,” ujar Nadia dalam Dialog Produktif Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) – KPCPEN.

Nadia menekankan, semua merek vaksin yang beredar di Indonesia aman dan berkhasiat, sehingga masyarakat diminta segera melakukan vaksinasi dengan merek yang tersedia. “Semua vaksin sama baiknya, efek samping itu biasa sebagai reaksi tubuh kita saat dilatih vaksin untuk menstimulasi sistem kekebalan tubuh,” papar Nadia.

Advertisement

Mengenai pengaruh vaksin pada varian baru, Nadia mengemukakan, vaksin bisa mencegah kita sakit parah terhadap varian baru tersebut. Walaupun masih banyak yang harus diteliti terkait efikasi, namun efek proteksi vaksin tetap banyak dan manfaatnya lebih besar.
Selain itu, ujarnya, dengan semakin banyak orang divaksin, benteng kekebalan bersama juga akan terbentuk untuk melindungi kita melawan varian baru tersebut. Saat ini capaian vaksinasi nasional adalah sekitar 67% untuk dosis pertama dan sekitar 46% untuk dosis kedua. Sementara vaksinasi lansia masih perlu terus digenjot, karena baru mencakup sekitar 53% untuk dosis pertama.

BACA  Naik Sepeda untuk Mengelabui Musuh

Guna percepatan vaksinasi lansia ini, dilakukan upaya mendekatkan vaksinasi kepada masyarakat, seperti sistem door to door dan Posyandu lansia. Selain itu, Nadia menekankan pentingnya terus melakukan sosialisasi dan edukasi agar para lansia bersedia divaksin, dengan menggandeng tokoh masyarakat, agama, media, juga memastikan tenaga kesehatan menyampaikan informasi yang benar. Tak kalah penting adalah perlunya inovasi dan pendekatan spesifik lokal sesuai kebutuhan, yang dapat dijalankan tiap daerah.

Nadia juga meluruskan persepsi keliru, lansia yang memiliki banyak penyakit penyerta maka tubuhnya lemah untuk divaksin. Justru sebaliknya, lansia dikatakannya harus dibantu imunitasnya melalui vaksinasi. Bahkan vaksin Covid-19 justru didesain untuk kaum lansia dan penderita komorbid, sehingga vaksin tersebut akan memberikan perlindungan yang diharapkan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam/Vaksinolog, Dirga Sakti Rambe mengungkapkan, penelitian menunjukkan, saat tingkat penularan di masyarakat rendah, maka efektivitas vaksin pada tingkat optimal. Ini kesempatan baik untuk meningkatkan cakupan vaksinasi karena kasus terkendali.

Mengingat saat ini vaksin Covid-19 dicari banyak negara, Dirga mengatakan, kita harus bersyukur Indonesia dapat memastikan ketersediaan vaksin meski bukan negara produsen vaksin. Maka dari itu, ia mengajak masyarakat segera vaksinasi, jangan pilih-pilih vaksin, sehingga jangan sampai ada stok vaksin yang terbuang.

Advertisement

“Di Indonesia saat ini pandemi terkendali, tapi selalu ada potensi timbulnya lonjakan kasus, terutama terkait mobilitas pada liburan Natal dan Tahun Baru, juga varian-varian baru yang menyebar di berbagai negara. Karena itu, masyarakat harus selalu terapkan prokes, patuhi aturan level PPKM di daerah masing-masing, dan optimalkan proteksi dengan vaksinasi,” tandas Dirga. (Ngurah Budi)

BACA  Ayo Dukung Gerakan Berjarak

Continue Reading

Tren