Bali

PPKM Diberlakukan, Ini Harapan Ketua PHDI Bali

Denpasar (cybertokoh.com) –

Diberlakukannya Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sejak 11-25 Januari 2020 membawa pengaruh terhadap pelaksanaan kegiatan upacara keagamaan di Bali. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua PHDI Provinsi Bali Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana ditemui di ruang kerjanya, Senin (11/1).

Menurut Prof. Sudiana, sebelum dikeluarkannya surat edaran Gubernur Bali terkait PPKM, pihaknya telah membatasi kegiatan keagamaan dengan penerapan protokol kesehatan secara tertib, seperti menggunakan masker dan menjaga jarak. “Hal ini kami lakukan agar tidak terjadi klaster penyebaran Covid-19 di upacara keagamaan, jika telah menerapkan pembatasan ini maka saya yakin tidak akan ada lagi klaster dari kegiatan keagamaan,” jelasnya.

Menyambut hari raya Siwalatri yang jatuh pada Purwaning Tilem Sasih Kapitu (Selasa, 12 Januari) dan masih bertepatan dengan pelaksanaan PPKM, Prof. Sudiana menghimbau masyarakat yang ingin melakukan persembahyangan Siwalatri agar dilakukan di rumah dan kalaupun harus dilakukan di Pura agar benar-benar dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan.

“Dalam perayaan Siwalatri umat Hindu melakukan 3 jenis Brata yaitu puasa makan, puasa berbicara dan puasa tidur yang bisa dilakukan dari rumah saja, dengan peningkatan bhakti srada kepada Ida Hyang Widhi ini diharapkan juga dapat meningkatkan kesehatan” ungkapnya.

Selain menghimbau dan mengedukasi umat dalam penerapan protokol kesehatan secara skala, pihaknya juga menggelar upaya secara niskala. Upaya niskala dilakukan dengan melakukan pakelem Pamucuning Sagara Bali. Sesuai dengan lontar Raga Sangara Bumi dan Sundari Gama upacara ini digelar ketika terjadi gering agung. Upacara tawur agung akan dilaksanakan pada Sasih Kesanga di Bulan Maret mendatang. Upacara ini guna menetralisir energi negatif di semua penjuru mata angin.

“Sebelumnya pakelem sudah dilakukan di arah Barat, Timur, Utara dan Selatan, untuk kali ini kami akan gelar di setiap sudut mata angin seperti barat laut, barat daya, timur laut dan tenggara,” paparnya. Pakelem yang akan menggunakan kurban kerbau ini akan dilakukan di Buleleng, Karangasem, Jembarana dan Denpasar. “Kami berharap dengan upacara ini dapat melebur energi negatif menjadi positif,” tandasnya. (Wiwin Meliana)

To Top