Bali

Pilih Kedelai Lokal, Perlu Edukasi Konsumen

Denpasar (cybertokoh.com) –

Kedelai menjadi salah satu komoditas pertanian yang banyak dikonsumsi masyarakat karena dapat diolah menjadi berbagai macam makanan dan minuman. Tingginya permintaan masyarakat terhadap kedelai membuat kedelai menjadi salah satu komoditas yang diimport oleh pemerintah.

Di Bali, produksi kedelai per tahunnya mencapai 1.858 ton dari berbagai 9 kabupaten di Bali. Sentra kedelai dapat ditemukan di Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung, Klungkung, dan Gianyar.  Hal ini diungkap oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunarta, Kamis (7/1).

Ia mengungkapkan saat ini secara nasional Indonesia masih melakukan impor pangan kedelai. Hal ini disebabkan karena kedelai merupakan tanaman subtropis yang membuat tingkat produktivitasnya tinggi. Kedelai yang diimpor merupakan kedelai yang dikembangkan dengan sistem Genetically Modified Organism (GMO) yang secara tampilan lebih menarik dari kedelai lokal.

“Kalau dilihat dari segi tampilan memang kedelai lokal kalah jauh sehingga konsumen lebih tertarik untuk membeli kedelai impor,” paparnya.

Sunarta mengingatkan masyarakat agar tidak terkecoh oleh tampilan karena sebenarnya kedelai lokal lebih unggul dari segi rasa dan kesehatan. Perlu dilakukannya edukasi kepada masyarakat keunggulan-keunggulan dari kedelai lokal.

Beralihnya konsumen ke kedelai impor yang secara tampilan lebih menarik membuat harga kedelai lokal sangat rendah di petani kisaran Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu per  kilogram. Murahnya harga kedelai membuat petani melakukan panen muda  untuk mengangkat harga.

“Petani berproduksi tergantung pasar, kalau pasarnya baik maka akan ditanaman kalau tidak maka petani akan memilih komoditas lain,” ungkapnya.

Sunarta mengungkapkan edukasi tidak saja dilakukan di produsen tetapi juga edukasi pada konsumen. Jika petani sudah menghasilkan produk unggulan maka tentu masyarakat akan melirik hasil produksinya, Begitu sebaliknya masyarakat harus cerdas dalam memilih hasil produk pangan yang akan dikonsumsi. “Perlu adanya kesadaran bersama untuk menjaga dan mengonsumsi produk-produk lokal,” imbuhnya.

Guna meningkatkan produksi kedelai lokal di Bali pihaknya telah memberikan bantuan bibit dan pupuk untuk merangsang petani menanam kedelai. Menanam kedelai tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat tetapi juga untuk proses penyuburan tanah sebelum ditanami komoditi yang lain. “Akar kedelai akan mengikat nitrogen sehingga menyuburkan tanah,” jelasnya. (Wiwin Meliana)

 

 

To Top