Indonesia

Belajar dari Pandemi Flu Spanyol Doni Monardo Ajak Para Tokoh Bantu Satgas Covid-19

Jakarta (cybertokoh.com) –

Belajar dari pandemi flu Spanyol yang pernah melanda Hindia Belanda tahun 1918-1920, Ketua Satgas Penanganan Covid 19 Doni Monardo mengajak para tokoh dari berbagai disiplin dan latar belakang untuk membantu Satgas Covid 19.

Ajakan itu mengemuka ketika Doni diminta moderator acara peluncuran dan bedah Buku Putih Penanganan Covid-19 di Indonesia menjelaskan tentang ihwal penerapan ‘adaptasi kebiasaan baru’, dan ‘upaya mengkoordinasikan berbagai elemen bangsa dalam menghadapi pandemi’.

Doni menjelaskan ihwal bidang perubahan perilaku yang menjadi ujung tombak Satgas Covid 19, diketuai Dr. Sonny Haryadi. Di bagian ini melibatkan pakar berbagai bidang. Ada antropolog, sosiolog, dan psikolog.

Belajar dari pandemi flu Spanyol yang pernah melanda negeri kita tahun 1918 – 1920 saat masih bernama Hindia Belanda. Ketika itu, pemerintah Hindia Belanda awalnya hanya fokus menangani bidang kesehatan. Puncak pandemi terjadi November 1919.

Pemerintah kolonial saat itu lantas mengubah kebijakan dengan mengedepankan kearifan lokal. Selain faktor kesehatan, juga diperkuat dengan sosialiasi mengenai flu Spanyol lewat medium kebudayaan. Salah satunya memanfaatkan tokoh punokawan dalam dunia pewayangan.

Seperti misalnya, dialog antara punokawan Petruk dan Gareng mengenai flu Spanyol. Pesan yang disampaikan adalah imbauan agar masyarakat menerapkan protokol kesehatan.

“Catatan itu kami dapat dari literatur media berbahasa Belanda yang terbit akhir tahun 1919,” kata Doni, yang pernah secara khusus ke Belanda. Ia dibantu tim BNPB melakukan penelusuran data kebencanaan yang pernah melanda negeri kita selama dalam cengkeraman penjajah dulu.

Itu pula alasannya mengapa Doni Monardo mengajak banyak tokoh dari berbagai disiplin dan latar belakang untuk membantu Satgas Covid 19. Bukan hanya itu, Indonesia juga kemudian dicatat sebagai negara yang paling masif melibatkan media dalam menangani pandemi.

Bekerjasama dengan Dewan Pers, Satgas Covid 19 menyelenggarakan program Fellowship Jurnalisme Perubahan Perilaku. Tak kurang dari 5.000 wartawan berbagai jenis media, ikut dalam program itu. Mereka setiap hari memproduksi berita sosialisasi tentang Covid 19, yang terbukti efektif meredam hoax. “Tidak seperti di masa-masa awal pandemi. Kami kewalahan betul menghadapi hoax. Sekarang sudah jauh berkurang,” kata Doni.

Selain itu, Satgas Covid 19 juga bekerja sama dengan sekitar 800 media, baik televisi, radio, media online, dan media cetak. Beberapa waktu lalu, Doni Monardo bertemu Wakil Presiden Ma’ruf Amin dan Ketua Dewan Pers Moh. Nuh.

“Dalam kesempatan itu Pak Nuh berharap program kerjasama dengan wartawan dan media dilanjutkan. Kami mendukung. Sebab, 63 persen keberhasilan sosialisasi penanganan pandemi ini ada di tangan media, jadi media berperan vital,” ujar Doni pula.

Kemudian terkait kolaborasi, BNPB sejak mendapat mandat penanganan Covid 19 langsung melibatkan para pakar. “Sebab, kami tidak punya pakar epidemiologi, tidak ada ahli kesehatan masyarakat, namun kami dibantu banyak teman terutama kawan-kawan semasa bertugas di Jawa Barat yang membantu program Citarum Harum. Mereka datang ke saya memberi masukan bagaimana menangani Covid 19,” jelas Doni.

Kemudian lahirlah konsep kolaborasi yang bersifat 5S-1T. Pertama, Stragegi. Artinya, mengedepankan preventif promotif. Kedua, Struktur berupa kolaborasi Pentehelix berbasia komunitas. Ketiga, Sistem yakni manajemen penanganan berbasis gotong royong. Keempat, Skill, dalam hal ini kepakaran kesehatan masyarakat, epidemiologi, medis, IT, ekonomi, sosial, budaya, dan-lain-lain). Kelimat Speed, artinya disiplin, patuh, militan. Rantai komando dari pusat hingga RT/RW sebagai kunci penanganan perubahan perilaku. Adapun 1-T adalah Target. “Targetnya adalah yang sehat tetap sehat, yang kurang sehat dan yang sakit diobati sempai sembuh,” paparnya. (Diana Runtu)

To Top