Indonesia

Kisah Sagu untuk Penderita Covid-19 dengan Komorbid

Jakarta (cybertokoh.com) –

Ssst… ada bocoran info dari Graha BNPB, markas Satgas Covid-19 di Jl. Pramuka, Jakarta Timur. Ketua Satgas Covid-19, Letjen TNI Doni Monardo mengeluarkan perintah kepada staf untuk mengirimkan makanan sagu olahan ke Jawa Timur. Ada apa gerangan?

Agak panjang ceritanya. Si punya cerita ini adalah Egy Massadiah, Tenaga Ahli Kepala BNPB, anggota Satgas Covid-19. “Memang begitu ceritanya. Tapi ini ada latar belakang yang perlu kita ketahui, mengapa pak Doni perintah kirim sagu olahan ke Jawa Timur,” kata Egy Massadiah kepada Tokoh, di Jakarta, baru-baru ini.

Alkisah, Doni Monardo berkunjung ke Jawa Timur pada hari Selasa tanggal 2 Juni 2020. Terkait pengendalian Covid-19, saat itu Doni menaruh perhatian kepada para korban Covid-19 yang memiliki komorbid atau penyakit penyerta. Sebab, komorbid adalah biang kerok penyumbang angka korban meninggal karena Covid-19. Tidak saja data Indonesia, tetapi kecenderungan dunia.

Nah, kebetulan, di Jawa Timur ia mendapatkan data, bahwa banyak korban Covid-19 meninggal juga karena komorbid. Statistik di Jawa Timur juga menunjukkan, penyakit penyerta terbesar di Jawa Timur adalah gula darah atau diabetes.

“Lantas mari kita kembali ke perintah pak Doni mengirim sagu ke sana. Alasannya ya karena data tadi. Berhubung di Jawa Timur angka penderita diabetesnya tinggi, maka pak Doni minta agar dikirim sagu. Sebab, sagu adalah karbohidrat non gula. Dengan kata lain, sagu adalah makanan paling baik dan paling direkomendasikan untuk penderita diabetes,” ujar Egy.

Pria kelahiran Makassar yang juga seorang jurnalis senior itu lantas merangkai kisah turunnya perintah tadi dengan peristiwa yang terjadi pada 16 Desember 2020 di ruang Multimedia, lantai 10 Graha BNPB. “Tadi pak Doni barusan mencicip aneka menu sagu olahan di kantor. Sagu-sagu olahan itu dibawa langsung oleh Halim, sahabat pak Doni yang sejak tiga tahun terakhir fokus menggarap sagu olahan, bahkan berorientasi ekspor,” ujarnya.

Seperti kita ketahui, Doni Monardo cukup akrab dengan menu sagu. Terutama sejak ia menjabat Pangdam Pattimura tahun 2015 – 2017. Di Maluku sana, Doni mengenal sagu dengan segala manfaatnya. Di sana pula ia menggagas program emas hijau. Sebuah program budidaya tanaman untuk dua fungsi: ekologis dan ekonomis.
Jadi, ketika hari ini Halim sang sahabat datang membawa aneka sagu olahan, tentu saja Doni antusias mencicip, sekaligus berperan sebagai “food tester”. Halim beruntung, karena tampaknya Doni Monardo berkenan.

Begitu masuk ruang Multimedia, dia menuju penanak nasi yang dijejerkan. Ada enam jenis masakan sagu yang dihidangkan dengan cita rasa berbeda: Briyani, kabsa, liwet, uduk Papua, sagu goreng, dan mama Papua. Selain itu, untuk dessert juga terhidang wajik sagu dengan toping strawberry dan blueberry.

Egy mengisahkan, Halim langsung mendekat ke arah Doni dan menjelaskan jenis-jenis olahan sagu yang ia hidangkan. Termasuk memberi tahu ihwal bumbu-bumbu yang digunakan. Semua organik. Bahkan untuk campuran bumbu, ada yang istimewa yaitu menggunakan rempah khas Papua, yang terbuat dari kulit pohon masoya. Salah satu pohon endemik Papua yang diduga berasal dari Masohi, Maluku.

Spontan Doni bertanya kepada Halim, “Pak Halim, ini benar zero gula?” Dan Halim pun menjawab, “Dijamin, kada gulanya nol persen. Kami sudah periksakan ke laboratorium, Bapak.”
Doni belum cukup puas, dan mempertegas, “Jadi ada sertifikat hasil labnya?” Halim menjawab, “Ada.” Barulah Doni tampak puas.

Sejurus kemudian Doni pun menuju tumpukan piring ukuran kecil yang ada di ujung meja. Spontan dia bertanya, “Mana piring yang besar?” Ya, saking antusiasnya, Doni tidak hanya ingin sekadar mencicip dengan piring kecil, tetapi langsung mengambil porsi normal dengan piring besar.

Pada semua hidangan sagu olahan tadi, sudah sangat gurih. Bahkan untuk yang masakan briyani, sudah ada campuran daging di dalamnya. Sehingga praktis tidak lagi memerlukan lauk pauk. Toh, di ujung deretan penanak nasi, tampak dua mangkok berisi balado jengkol. “Wah…. ini nih yang bikin enak,” kata Doni menunjuk jengkol sambil tertawa.

Usai makan, sambil menyantap dessert wajik sagu itulah, keluar perintah untuk mengirim sagu olahan ke Jawa Timur. Rupanya, Doni ingin para pasien Covid-19 di Jawa Timur mengonsumsi sagu. “Rasanya enak. Bahan enak sekali. Saya sudah mencoba semua menu, sedikit-sedikit biar rata, dan semua enak. Cocok dengan lidah kita. Lebih penting lagi, sagu lebih menyehatkan dibanding beras,” katanya.

Syahdan, jika dalam satu-dua hari ini ada berita tentang pasien Covid-19 di Jawa Timur diberi makan sagu, jangan kaget. Kisah di atas itulah yang melatarbelakanginya. (Diana Runtu)

To Top