Buleleng

Ribuan Struktur Karang Mulai Diturunkan

Buleleng (cybertokoh.com) –

Buleleng menjadi salah satu lokasi program Indonesia Coral Reef Garden (ICRG) atau restorasi terumbu karang di Bali pada 2020 ini. Satu-satunya kabupaten di luar Denpasar dan Badung yang mendapat program swakelola ini. Pemerintah melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan organisasi masyarakat melaksanakan progra yang dikonsep padat karya untuk memberdayakan masyarakat pesisir yang terdampak pandemi Covid-19.

Lebih dari 10 ribu struktur untuk menumbuhkan terumbu karang di bawah laut sudah selesai dibuat ribuan warga Buleleng. Saat ini, warga berjuang menurunkan ke laut, dan penyelam menatanya agar jadi bakal taman laut yang indah.

Struktur transplantasi karang akan ditempatkan sesuai dengan habitat dan tema masing-masing lokasi. Berbagai metode seperti hexadome/fishdome, roti buaya, pasak besi, dan dipadukan dengan patung yang dibuat dengan cerita khas dan dari masing-masing desa.
Misalnya di Les-Tejakula ada patung ikan badut atau yang populer dengan tokoh kartun Nemo karena LINI melalui pusat pelatihannya, LATC di Les berhasil membudidayakan ikan badut. Ikan hias lucu yang mengandalkan anemone, ekosistem terumbu karang sebagai rumah dan bertelur.

Warga mulai berhadapan dengan cuaca tak menentu seperti hujan lebat, angin kencang, dan gelombang laut. Made Merta, Koordinator Desa Les mengatakan kegiatan penurunan harus mengutamakan keselamatan. Di tengah pandemi ini, program ini bisa menggerakkan masyarakat karena banyak pengangguran. “Menyangkut masa depan anak-anak juga nanti, bagaimana kita merawatnya,” ujarnya tentang modal struktur karang yang ditata di bawah laut ini.
Desa Bondalem membuat patung-patung seniman sedang menari dan megambel. Bahkan ada patung menggunaan masker sebagai tanda masa pandemi Covid-19. Desa ini juga membuat patung ranjau raksasa sebagai bagian sejarah pesisirnya.

Sementara di Desa Pacung ada aneka patung satwa laut seperti penyu, pari manta, dan lainnya. Demikian juga Desa Kaliasem yang mewilayahi kawasan wisata Lovina. Sementara di Desa Tukad Mungga ada patung yang mengisahkan dongeng lokal dan mobil tua sebagai desain struktur yang akan menghiasi panorama bawah laut.

Yayasan LINI (Alam Lestari Indonesia) sudah mengembangkan pusat pendidikan budidaya ikan hias di Desa Les bernama LINI Aquaculture Training Center (LATC) dan pembuatan struktur karang. Program di Buleleng melibatkan warga Desa Les, Bondalem, Pacung, Bakti Seraga, Tukad Mungga, dan Kaliasem.

Gayatri, Direktur Yayasan LINI mengatakan ada banyak tantangan yang disampaikan koordinator desa saat rapat koordinasi. Di antaranya ada keinginan warga bisa menyelam namun tanpa sertifikat dan ingin ikut dalam tim penyelam. Hal ini sedang didiskusikan karena syaratnya adalah memiliki sertifikat sebagai tanda sudah terlatih aturan dan etika menyelam agar keselamatan terjamin. “Program ini sifatnya bantu stimulus ekonomi, semoga bisa dimanfaatkan di Buleleng. Pertama kalinya KKP bekerja dengan LSM yang bisa menjembatani warga. Ini proses pembelajaran juga karena ini swakelola III, semua harus tercatat dan jelas,” jelas Gayatri.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng Gede Melandrat berharap semua tantangan dan masalah bisa dikomunikasikan karena ini kegiatan padat karya dan langsung dikerjakan oleh ribuan warga. Selain memberi penghasilan pada ribuan warga, di tiap lokasi juga muncul pedagang musiman yang mendapat dampak. Para pekerja tak hanya laki-laki, juga perempuan. (Wiwin Meliana)

To Top