Kreasi

Membawa Musik Keroncong Lintasi Generasi

Denpasar (cybertokoh.com) –

Musik keroncong merupakan salah satu genre yang sudah ada sejak lama. Generasi tua mungkin lebih mengenal musik ini melalui alunan suara Mus Mulyadi, Waldjinah, Ismail Marzuki, hingga Gesang. Bagi, dr. Made Tangkas, Sp.OG, keroncong bukan hanya milik generasi lawas. Melalui Seka Demen Keroncong (Sedek) Bali yang didukung Pesona Dewata, mereka ingin membawa keroncong bisa melintasi generasi.

“Ketertarikan saya terhadap musik keroncong tidak bisa didefinisikan. Sejak kecil saya sudah suka keroncong karena lingkungan. Ini passion saya. Iramanya bisa dinikmati. Sudah terpatri di memori sejak kecil,” ungkap dr. Tangkas yang juga seniman multitalenta ini.

Ia menuturkan menyukai berbagai genre musik, bahkan kerap bergabung dengan teman-teman untuk bermain musik. Alirannya mulai rock hingga bossanova. Namun, saat memainkan keroncong, ia merasa menemukan gelombang kedamaian. Ketika bertemu teman-teman yang sealiran, semangatnya pun makin membara.

“Beberapa tahun ketemu teman-teman di Singaraja. Kami punya semangat yang sama untuk membangkitkan keroncong. Kami kumpul lalu cari yang sehaluan, makin lama makin banyak. Ternyata musisi banyak, wadah ndak ada. Karena itu, muncullah Seka Demen Keroncong (Sedek) Bali yang didukung Pesona Dewata. Bahkan kami sudah berkolaborasi dengan Sila Home Studio untuk membuat rekaman,” ujar dr. Tangkas yang juga piawai menari topeng ini.

Suami dr. Ni Made Sumiartini, Sp.A ini mengatakan Pesona Dewata sudah ada sejak 1992 dan beraliran keroncong. Selain Pesona Dewata juga ada musisi keroncong lain namun tidak banyak terekspos. Mereka biasanya tidak terikat grup, tapi tergantung job.

“Dalam sebuah kesempatan, kami bertemu Bu Putri Suastini Koster dan sempat ngobrol mengenai musik keroncong. Ternyata Bu Gubernur tertarik. Kami pun mengumpulkan teman-teman dan hasil rekaman mau dikirim ke Bu Gubernur. Penyanyi yang kami libatkan antara lain Agung Wirasuta, Dewi Pradewi, Putri Bulan, dan penyanyi remaja Nanda Tangkas, selain penyanyi dari komunitas kroncong seperti Sefi, Anggreni, Bikul dan Joyok” jelas dr. Tangkas.

Rekaman dilakukan di halaman belakang rumah dr. Tangkas dalam suasana santai seakan mengubah image, keroncong tidak harus formal. Tim studio Sila Home Studio juga memboyong perlengkapannya untuk membuat rekaman live. Hasilnya pun sudah bisa disaksikan di akun youtube MD Tangkas dan akun SeDek_Bali Pesona_Dewata.

“Kami melibatkan penyanyi Bali karena lagu-lagu Bali mudah dibawakan dalam langgam. Keroncong itu terdiri dari langgam, stambul, keroncong asli. Sebenarnya lagu apapun bisa diiringi dengan musik keroncong. Kami ingin mengubah image keroncong dari formal jadi informal dan menerobos ke semua generasi. Konsepnya adalah lagu yang diiringi irama keroncong, tanpa harus dicengkok-cengkokkan. Musik yang mengikuti lagu,” tegasnya.

Impian dr. Tangkas ke depan adalah mengorbitkan grup keroncong remaja. Vokalis banyak, tetapi musisi yang kurang. Ia ingin mengadakan audisi pemain keroncong remaja. Mereka yang terpilih akan dilatih, agar ada regenerasi musisi keroncong dan membawa musik keroncong lintas generasi. (Ngurah Budi)

To Top