Buleleng

Pemberdayaan Masyarakat di Tengah Pandemi

Buleleng (cybertokoh.com) –

Di masa pandemi covid-19, banyak masyarakat kehilangan pekerjaaan akibat pemutusan hubungan kerja. Masyarakat rantau terpaksa harus pulang kampung karena sektor pariwisata terpuruk sehingga banyak pelaku pariwisata harus menutup usahanya. Banyaknya perantau yang kembali ke kampung membuat angka pengangguran di desa bertambah. Dalam situasi seperti ini, peran desa diperlukan untuk merancang program pemberdayaan masyarakat dalam membangkitkan perekonomian.

Maka dari itu,  prebekel Desa Tembok Dewa Komang Yudi Astara mengajak masyarakatnya untuk tetap produktif di masa pandemi.  Desa yang berada diujung timur Kabupaten Buleleng ini menawarkan beberapa alternatif aktivitas dalam bentuk pelatihan dan pekerjaan untuk mengusir jenuh dan menjaga masyarakat tetap produktif, sembari memastikan kebutuhan hidupnya dan keluarga tetap terpenuhi, meski dalam jumlah yang tidak sama besar dibanding masa sebelum pandemi ini melanda. “Intinya bagaimana kami bisa menjaga daya beli masyarakat ditengah kondisi perekonomian yang tidak stabil ini,”jelasnya.

Desa menyediakan sedikitnya 25 alternatif pekerjaan untuk masyarakat Desa Tembok yang saat ini mengalami PHK, dirumahkan, kehilangan mata pencaharian atau tidak memiliki penghasilan selama masa pandemi ini. Ragam pekerjaan yang disediakan berbasis harian dengan durasi mulai 7-15-30 hingga 60 hari. Skema pengupahannya pun variatif, dari yang dibayar tunai hingga konversi dalam bentuk kebutuhan pokok.

Dewa Komang Yudhi menjelaskan berbagai pelatihan dilakukan seperti pembuatan masker,  monitoring pengelolaan sampah rumah tangga,  petugas kebersihan,  pembuatan garam,  beternak dan bertani.  Dalam masa pelatihan pembuatan masker misalnya, desa akan menyediakan seluruh sarana dan bahan baku yang diperlukan. Selama pelatihan, peserta juga akan memperoleh uang saku. Ketika peserta sudah dinyatakan layak produksi, mereka dapat meminjam pakai mesin jahit milik desa, sehingga produksi dapat dilakukan dari rumah masing-masing. “Hasil produksi masker akan kami beli kembali untuk diberikan kepada masyarakat. Kelebihan produksi kemudian dapat dipasarkan melalui BUMDes kepada masyarakat di desa lain yang membutuhkan,”imbuhnya.
Desa dengan 7.396 jiwa atau 2350 KK tentu anggaran dana desa yang tidak seberapa tidak akan cukup membayar upah untuk mempekerjakan masyarakat yang kehilangan pekerjaan secara terus menerus. Sampai akhir Mei kemarin, desa telah mempekerjakan sedikitnya 97 orang warga yang selama pandemi ini mengalami PHK, dirumahkan tanpa upah dan kehilangan mata pencaharian.

Desa tidak memiliki kemampuan anggaran yang cukup untuk terus menerus membeli pangan. Dalam jangka pendek, sederhanakan saja rencana pada bagaimana menjaga pangan tetap tersedia dan memastikan setiap orang yang tidak memiliki daya beli bisa mengakses pangan dan makan dalam enam bulan kedepan. Prioritas kebijakannya adalah bagaimana memastikan mereka yang tidak memiliki daya beli tetap dapat memperoleh pangan dalam 3 hingga 6 bulan kedepan.  “Sehingga cara yg paling logis adalah menyiapkan atau menanamnya,” jelasnya.

Prebekel Dewa Komang Yudhi menjelaskan skema pengerjaan adalah Desa akan memberikan upah kepada masyarakat dari membersihkan lahan hingga proses penanaman.  Pola itu akan berubaha pada tahap pemeliharaan tanaman hingga tahap panen.  Pada tahap ini masyarakat tidak lagi diupah melainkan akan dibarter dengan komoditi yang ditanamannya sendiri.  “Satu hingga dua petak lahan yang sudah ditanami komoditi akan digarap oleh satu keluarga dengan hasil akan dibarter untuk upah pemeliharaan dan pemanenan, “pungkasnya. (Wiwin Meliana)

To Top