Metropolitan

Libur Panjang, Waspadai Tempat Keramaian

Jakarta (cybertokoh.com) –

Libur panjang pekan depan menjadi kecemasan tersendiri bagi pemerintah yang tengah berjuang menekan penyebaran Covid 19. Karena berdasarkan pengalaman yang sudah sudah, seperti libur Kemerdekaan, terjadi lonjakan angka kasus Covid 19.

Karenanya imbauan terus menerus disampaikan kepada masyarakat agar tidak melakukan kegiatan kumpul-kumpul selama liburan. Menyarankan masyarakat tetap tinggal di rumah dan mengisi hari libur dengan kegiatan yang bermanfaat di rumah. Sebisa mungkin membatasi keluar rumah. Dan juga terpenting dan utama adalah tetap menerapkan Protokol Kesehatan secara ketat. Seperti, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak atau menghindari kerumunan.
Bukan hanya memberi imbauan-imbauan, pemerintah juga melakukan berbagai antisipasi baik di tingkat pusat maupun daerah, terkait kerawanan-kerawanan yang berpotensi terjadi.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Moh Mahfud MD menyoroti hal terkait dengan disiplin terhadap protokol kesehatan Covid 19, di mana kemungkinan terjadinya penumpukan orang dan mobilitas masyarakat di tempat-tempat umum dan tempat wisata.

“Misalnya transportasi umum, atau di tempat-tempat terminal, stasiun, bandara, dan sebagainya, kemudian di tempat-tempat rekreasi itu juga potensial akan terjadi kerumunan-kerumunan orang,” kata Mahfud saat memberi arahan dalam Rapat Koordinasi Antisipasi Libur Panjang Cuti Bersama Maulid Nabi Muhammad SAW di Gedung Sasana Bhakti Praja (SBP) Kantor Kemendagri, Jakarta.

Setiap ada libur panjang, tambahnya, selalu ada potensi kerumunan atau tumpukan orang. Di masa pandemi, ini sangat rentan karena berpotensi terjadinya penularan virus. ” Reunian bagi orang yang pulang kampung biasanya lalu mengumpulkan teman-teman satu kampus satu sekolah ketika di desa dulu atau di daerah dulu, lalu lupa melanggar Protokol Kesehatan dan yang akan banyak juga tumpukan karena ada perayaan Maulid karena ini libur Maulid Nabi. Maulidan, itu akan banyak pengajian-pengajian, ada festival-festival biasanya begitu kalau hari Maulid itu,” paparnya.

Tentu semua potensi ini, lanjut Mahfud, harus diantisipasi jangan sampai menimbulkan atau menjadi pusat-pusat penularan baru. Jadi cluster-cluster baru di berbagai tempat. Sehingga penegakan Protokol Kesehatan yang sudah dilakukan dan mulai berhasil sekarang ini bisa menurun lagi. Ini akan berakibat pada menurunnya tingkat kesembuhan pasien yang sudah bagus.

“Persentase menekan penularan sudah bagus, tingkat kematian yang juga sudah bagus, karena sedikit, di tingkat kematian itu 3 koma sekian persen, masih lumayan meskipun tidak sama dengan rata-rata dunia, nah itu semua harus diantisipasi,” ujar Mahfud.

Terkait dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 29 Oktober 2020, Mahfud menegaskan Negara Indonesia menghormati semua perayaan keagamaan. Sebagai tanda penghormatan, negara meliburkan seluruh kegiatan-kegiatan resmi, perkantoran dan sekolah pada hari-hari besar keagamaan. Untuk itu, dirinya meminta masyarakat mengambil hikmah dari peringatan keagamaan, salah satunya berkaitan dengan kepatuhan terhadap Protokol Kesehatan.

“Jangan sampai ada pelanggaran di bidang Protokol Kesehatan misalnya. Ambil hikmahnya Maulid (Nabi Muhammad SAW) itu. Maulid itu ya melakukan refleksi apa yang bagus dari kelahiran Nabi Muhammad itu, yaitu agar kita hidup menjadi lebih baik,” imbuh Mahfud. (Diana Runtu)

To Top