Metropolitan

Waspada, Jangan Sampai Libur Panjang Jadi Media Penularan Covid 19

Jakarta (cybertokoh.com) –

Rentetan hari libur menunggu masyarakat minggu depan. Mulai Rabu 28 Oktober (Cuti Bersama), Kamis 29 Oktober (Maulid Nabi) dan Jumat 30 Oktober (Cuti Bersama). Jika ‘dilempangkan’ hari libur bertambah dengan hari Sabtu 31 Oktober dan Minggu 1 November.

Libur panjang itu memicu kekhawatiran pemerintah akan meningkatnya penularan Covid 19. Maklumlah, seperti biasanya, ketika libur panjang masyarakat banyak yang keluar rumah, entah ketempat-tempat wisata, ataupun menghadiri acara-acara tertentu atau sekedar kumpul dengan teman. Karenanya, jauh-jauh hari pemerintah dan berbagai pihak terkait mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan Protokol Kesehatan dengan ketat. Jika memungkinkan, sebaiknya menghindari kerumunan atau tempat-tempat berkumpul banyak orang.

Peringatan ini disampaikan jauh-jauh hari agar masyarakat bersiap dan tidak melupakan bahwa saat ini—meski kebanyakan tempat rekreasi telah diizinkan beroperasi— tetap masih dalam situasi darurat Covid 19.

Imbauan juga disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian seusai menghadiri rapat terbatas terkait Antisipasi Penyebaran Covid 19 Saat Libur Panjang.Tito mengingatkan kepada seluruh Kepala Daerah dan jajaran Forkopimdanya masing-masing untuk mengantisipasi potensi penularan COvid 19 di hari libur panjang nanti. Masing-masing daerah diharapkan memperkuat pencegahan di daerahnya masing-masing.

“Ada 3 hari cuti, baik cuti peringatan maupun cuti Bersama. Kalau kita lihat sesuai dengan ketentuan yang ada itu hari Rabu, Kamis, dan Jumat pada tanggal 28, 29 dan 30 Oktober. Nah ini artinya bisa terdapat hari- hari kejepit, mulai Senin Selasa itu bisa hari kejepit. Kemudian hari Jumat karena libur juga bisa berlanjut ke hari Sabtu dan Minggu. Nah ini mengindikasikan akan kemungkinan akan terjadi libur panjang, ” katanya.

Mendagri menambahkan, biasanya sebelum pandemi Covid-19, setiap ada hari libur panjang masyarakat banyak yang melakukan perjalanan. Bisa pulang kampung, kumpul bersama keluarga, atau pergi ke tempat liburan untuk berekreasi dan lain-lain.

Artinya, akan ada mobilitas yang tinggi dari masyarakat yang bergerak dari suatu tempat ke tempat yang lain. Dan di masa pandemi pergerakan masyarakat seperti ini bisa menimbulkan penularan. Bisa jadi media penularan, “Oleh karena itu ini yang perlu kita waspadai bersama agar liburan ini tidak menjadi media penularan, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan bersama,”ujarnya.

Jangan Pulang Kampung
Hal pertama yang perlu dilakukan; untuk yang daerahnya berstatus zona merah, diimbau kalau memang bisa tidak pulang atau tidak berlibur. Lebih baik mengisi waktu di tempat masing-masing. Bisa lakukan kegiatan beres-beres rumah atau tempat tinggal. Menikmati liburan bersama keluarga di kediaman masing-masing. Itu yang diharapkan. Yang kedua, kalau seandainya memang akan keluar kota, yakinkan betul bahwa diri masing-masing sudah dilakukan tes misalnya tes PCR.

“Sehingga yakin bahwa dalam keadaan negatif, jangan sampai menjadi penular bagi saudara-saudara kita, orang tua kita dan lain-lain yang ada di daerah. Dan saya kira untuk pengaturan lalu lintasnya nanti akan diatur oleh Polri, Perhubungan dan lain-lain, ” kata Mendagri.

Dan yang ketiga yang paling penting juga, kata Mendagri, hendaknya setiap daerah menjaga betul mekanisme pertahanan daerah masing-masing yang selama ini sudah berjalan seperti pada waktu liburan lebaran yang lalu. Misalnya kampung sehat dan kelurahan sehat, dimana warga- warga yang datang dari luar diyakinkan sudah melaksanakan tes. Sehingga ketika berinteraksi dengan warganya di daerah itu mereka tidak menjadi penular. (Diana Runtu)

To Top