Metropolitan

PSBB Transisi, Rumah Makan Terapkan Protokol Kesehatan Ketat

Jakarta (cybertokoh.com) –

Para pemilik usaha di Jakarta merasa senang dengan dicabutnya penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) ketat dan menjadi PSBB Transisi karena itu berarti peluang mereka meningkatkan pendapatan dari bisnisnya menjadi terbuka.

Restoran dan warung-warung makan misalnya. Kalau selama PSBB ketat hanya diizinkan ‘take away’ (bawa pulang) atau pesan-antar, maka kini mereka bisa ‘dine in’ (makan di tempat) . Dengan ‘dine in’, menurut mereka, pembeli bisa lebih banyak datang ketimbang ‘take away’ atau pesan-antar lewat online. Karena kebanyakan orang ingin makan di tempat sambil santai.

“Meskipun bisa makan di tempat, di rumah makan kami tetap menerapkan Protokol Kesehatan. Itu penting. Kami siapkan handsanitizer juga wastafel untuk cuci tangan dengan sabun. Konsumen silahkan pilih, kapasitas dan social distancing juga diberlakukan,” ungkap Amin, pegawai rumah makan di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Lebih dari itu, ucapnya, pihaknya juga melarang konsumen yang datang tanpa memakai masker. “Meskipun jika makan mereka harus melepas masker tapi ketika masuk rumah makan kami tetap harus bermasker. Itu tandanya konsumen patuh pada Protokol Kesehatan. Kami juga tak mau didenda atau terkena sanksi akibat pembeli yang bandel,” tambahnya.

Beberapa waktu lalu, ketika PSBB Transisi pertama kali diterapkan, tuturnya, pernah terjadi pihaknya menolak pembeli masuk ke rumah makan karena tidak memakai masker.

“Sempat ribut juga dengan pembeli itu. Mungkin merasa tidak senang ditegur. Tapi kami berbicara dengan baik-baik agar dia mau memahami kondisi. Kami persilahkan beliau tidak makan di sini,” ujarnya sembari menyebut sanksi bagi tempat usaha yang melanggar protokol kesehatan di antaranya adalah penutupan sementara tempat usaha.

Sebagaimana diketahui sejak Senin 12 Oktober lalu, Provinsi DKI Jakarta melonggarkan ‘PSBB ketat’ menjadi PSBB Transisi dan ini berlaku hingga 25 Oktober mendatang. Hasil PSBB Transisi ini akan kembali dievaluasi untuk menentukan langkah selanjutnya, apakah memperpanjang PSBB Transisi atau kembali ke PSBB ketat.

Beberapa peraturan PSBB Transisi terkait Protokol Kesehatan restoran, rumah makan, warung makan dan café, di antaranya; maksimal kapasitas 50 persen, pengunjung wajib menggunakan masker kecuali saat makan, jarak antarmeja dan kursi minimal 1,5 meter kecuali untuk 1 domisili, pengunjung dilarang berpindah-pindah atau lalu lalang, alat makan-minum disterilisasi secara rutin, pelayan memakai masker, face shield dan sarung tangan.

Adapun sanksi bagi pengusaha tempat makan yang tak menjalankan aturan tersebut yakni, sanksi administratif berupa penutupan sementara paling lama 1 kali 24 jam. Pelanggar juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp 50 juta. Denda akan meningkat dua kali lipat apabila ditemukan kembali pelanggaran setelah pelanggaran pertama. Pelanggaran berulang tiga kali dan berikutnya dikenakan denda administratif sebesar Rp 150 juta
Usaha tempat makan yang melanggar aturan juga terancam dilakukan pencabutan izin apabila selama tujuh hari pemilik tidak membayar denda yang sudah ditentukan. (Diana Runtu)

To Top