Kata Hati

Covid-19; Wujud Lain dari Cinta Tuhan untuk Memperkuat Ketahanan Keluarga

Sejak awal tahun 2020, dunia berjibaku melawan Covid-19 yang menyebar dengan cepat dari kota Wuhan, China, ke banyak negara lain di dunia. Kedaduratan yang dihela Covid-19 memaksa masyarakat tinggal di rumah. Serangan ini mendesak perilaku manusia berubah ke dalam kondisi “normal baru” untuk berinteraksi, bertingkah laku, bermasyarakat, berintrospeksi diri, bersolidaritas, berempati, peduli lingkungan, termasuk dalam mendidik anak.

Sebenarnya ini momen yang sangat tepat untuk meningkatkan hubungan antaranggota keluarga. Meski demikian, tinggal bersama dalam waktu lama di tengah wabah penyakit juga rentan memicu berbagai masalah. Semua itu perlu dipetakan dan diantisipasi bersama. Ketahanan keluarga diuji oleh berbagai masalah yang rentan muncul saat semua orang berkumpul di rumah saja dalam waktu yang lama.

Terpusatnya aktivitas harian di rumah membuat sikap anggota keluarga yang selama ini tidak terperhatikan menjadi terlihat. Tanpa komunikasi baik, ditambah dengan tingkat stres yang tinggi kondisi ini sangat rentan memicu konflik. Masalah ringan yang tidak diselesaikan pada tahap selanjutnya dapat memicu konflik yang lebih besar. Kondisi ini kemudian diperparah oleh tekanan psikis karena kehilangan pekerjaan atau turunnya pendapatan akibat pembatasan untuk beraktivitas di luar rumah.

Menurut psikolog asal London, Lucy Atcheson, karantina wilayah dan berada di rumah bagi sebagian orang dapat memperuncing perbedaan serta konflik. Hal ini bagaikan menempatkan semua masalah ke dalam penggorengan dan kemudian memanaskannya.

Selain meningkatnya KDRT, tinggal di rumah saja juga menekan anak-anak. Retno Listyarti, anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia, mengatakan, pada 16 Maret 2020 hingga 13 Mei 2020, komisi tersebut menerima 259 pengaduan terkait pembelajaran jarak jauh (PJJ), keluarga dan pengasuhan alternatif (42 kasus), sosial dan anak dalam situasi darurat (1), anak berhadapan dengan hukum (7), kesehatan dan napza (2), serta perdagangan orang dan eksploitasi anak (2 kasus).

Survei Universitas Michigan yang melibatkan 500 lebih orang responden (dengan 51% di antaranya memiliki anak di bawah usia 12 tahun) membuktikan bahwa tidak sedikit orang tua mengaku mengalami stres hingga terjadi peningkatan intensitas hukuman fisik dan psikologis yang diberikan pada anak di masa-masa karantina mandiri. Lebih menarik lagi, peningkatan ini ternyata dipicu oleh alasan keuangan. Lima puluh persen di antaranya mengaku, stres datang lantaran mereka khawatir tidak bisa membayar berbagai tagihan, sedangkan 55% cemas akan kehabisan uang selama masa di rumah saja. Lima puluh dua persen orang tua mengaku, bahwa masalah finansial memengaruhi hubungan mereka dengan anak selama masa pandemi, dan 50% lainnya mengaku, semakin berkonfliknya hubungan mereka dengan anak disebabkan oleh isolasi sosial.

Secara teori, keluarga adalah tempat anggota keluarga merasa aman dan terlindungi. Dilihat dari perspektif Hindu dalam sebuah keluarga tidak diperkenankan untuk melakukan tindakan yang menyebabkan anggota keluarga lainnya sedih atau sakit, sebagaimana yang terdapat dalam kitab Sarasamuccaya, sloka 90 ;

“Niyacchayaccha samyaccha cendriyani manasthatha, pratisedhyesvavadyesu durlabhesvahitsu ca

Artinya: Karena itu hendaknya dikekang, diikat kuat-kuat panca indriya dan pikiran itu, jangan biarkan melakukan sesuatu yang tercela, melakukan sesuatu yang pada akhirnya tidak menyenangkan.

Terkait dengan kondisi saat ini, data lapangan pandemi menuntut semua pihak lebih menguatkan ketahanan keluarga mengikuti pola-pola baru masyarakat ke depan. Pelaksanaan PSBB memperlihatkan, keluarga yang bertahan adalah yang anggotanya dapat membawa peran masing- masing secara setara dan adil. Dalam situasi “normal baru” dimana masyarakat dituntut hidup bersama Covid-19 sampai vaksin ditemukan, gagasan tentang keluarga ideal perlu didefinisikan kembali untuk memperkuat ketahanan keluarga.

Dihadapkan pada pandemi covid-19, kita sadar akan keterbatasan manusia, tetapi sekaligus menolak menyerah. Akar kebebasan justru terletak dalam menerima keterbatasan, memberikan kembali makna terhadap kehidupan yang selama ini dijalani . Tuhan menghukum pun sebagai wujud rasa kasih-Nya, sebab kasih tak harus selalu berarti senyuman dan kata-kata yang indah. Kasih tak selalu berarti traktiran, hadiah-hadiah yang bagus, dan perlakuan yang lembut. Kasih juga berarti hukuman, tindakan, ketegasan. Apabila dua orang saling mencintai, maka yang ada adalah pujian, kata-kata lembut, senyum, cumbuan. Namun apabila mereka saling mengasihi, maka kadang ada perdebatan, tangis, kerja keras, dan pengorbanan.

Dari setiap krisis, sebenarnya kita bisa mendapatkan pelajaran hidup tertentu, yang bila dipelajari dapat mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Ini adalah kesempatan kita untuk belajar dan berubah. Mari kita ubah perspektif krisis ini sebagai beasiswa yang demikian besar nilainya untuk menjalani pendidikan agar kita bisa menjadi insan yang lebih baik lagi. Inilah masa-masa ketika ketahanan keluarga benar- benar sangat dibutuhkan dan diuji. Saling menghargai kebersamaan serta berkomunikasi satu sama lain untuk bersama-sama keluar dari krisis. Selamat merevolusi ketahanan keluarga dan mengarungi kenormalan baru.

 

A.A.Ngr.Eddy Supriyadinata Gorda

To Top