Kata Hati

Memperkuat Kemitraan Gender: Bersama Menghadapi Kehidupan “Normal Baru”

Membangun ketahanan keluarga menjadi sangat penting saat ini untuk mendukung keberhasilan penanganan krisis akibat pandemi ini. Keluarga merupakan unit terkecil masyarakat, masalah yang terjadi di dalam keluarga jika tidak tertangani dengan baik akan berdampak ke masyarakat, dan bisa menjadi masalah sosial. Memperkuat kemitraan gender berlandaskan prinsip cinta kasih dan keadilan menjadi salah satu kunci untuk membangun benteng ketahanan keluarga yang kokoh.

Untuk mewujudkan ketahanan keluarga tidak bisa hanya dibebankan kepada istri atau suami saja, melainkan harus diupayakan bersama secara berkeadilan. Kemitraan dalam pembagian peran suami dan istri untuk mengerjakan aktivitas kehidupan keluarga menunjukkan adanya transparansi penggunaan sumber daya, rasa saling ketergantungan berdasarkan kepercayaan dan saling menghormati. Kemitraan gender dalam keluarga dapat diwujudkan dalam kemitraan suami-istri, keterbukaaan pengelolaan keuangan, serta pengambilan keputusan keluarga.

Secara teologis, kemitraan gender tersebut dinyatakan secara simbolis dalam konsep Ardanariswari, yaitu simbol Tuhan dalam manifestasi sebagai purusa dan pradana. Kedudukan purusa disimbolkan dengan Siwa, sedangkan pradana disimbolkan dengan Dewi Uma. Di dalam proses penciptaan, Siwa memerankan fungsi maskulin, sedangkan Dewi Uma memerankan fungsi feminim. Tiada sesuatu apapun akan tercipta, jika kekuatan purusa dan predana tidak menyatu. Penyatuan kedua unsur itu diyakini telah memberikan bayu bagi terciptanya berbagai mahluk dan tumbuhan yang ada.

Makna simbolis dari konsep Ardanariswari itu, kedudukan dan peranan perempuan setara dan saling melengkapi dengan laki-laki. Tidak ada alasan serta argumentasi teologis yang menyatakan bahwa kedudukan perempuan berada di bawah laki-laki. Itu sebabnya dalam berbagai sloka Hindu dapat ditemukan aspek yang menguatkan kedudukan perempuan di antara laki-laki. Peran keduanya harus seimbang dalam mewujudkan keluarga sukinah.

Herien Puspitawati, Dosen di Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) IPB menyatakan bahwa pembagian peran suami istri dalam menjalankan fungsi keluarga dapat berkaitan dengan komponen perilaku mulai dari perhatian, bantuan moril dan material, sampai dengan bantuan tenaga dan waktu. Sehingga kemitraan gender dalam mengurus rumah tangga tidak hanya mencakup pekerjaan membersihkan rumah, memasak, mencuci pakaian dan sejenisnya, namun termasuk pula pengasuhan anak, seperti menemani anak belajar, dan bermain. Perhatian, kasih sayang dan pola asuh yang diterapkan orangtua pada anak-anak di masa yang akan datang. Karena itu, diperlukan kerja sama antara suami dan istri dalam meluangkan waktu bersama dengan anak, agar kebersamaan dengan anak selalu dapat terjalin dan pengasuhan anak tidak terhambat sehingga ketahanan keluarga dapat tercipta.

Jika pasangan tidak berbagi peran dalam berjuang mengatasi perubahan akibat kondisi pandemi, tingkat stress kedua belah pihak tentu saja akan meningkat. Pembagian peran dalam pengasuhan (coparenting) dapat membantu mengurangi tingkat stres ayah dan ibu dalam mengasuh anak.

Berkaitan dengan kemitraan gender, krisis saat ini bisa dimanfaatkan oleh keluarga untuk memposisikan kembali peran orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak. Perubahan sosial-ekonomi dan perkembangan teknologi yang sangat pesat telah menyebabkan terjadinya pergeseran fungsi dan peran tersebut. Sebelumnya, anak-anak menjadikan orang tua sebagai tempat bertanya, tempat berkonsultasi dan sumber nilai.

Saat ini, fungsi itu seringkali tak diperankan orang tua, tapi sudah digantikan oleh guru, pengasuh, teman, dan mesin pencari Google. Mengapa itu terjadi? Menurut William F. Ogburn, hal itu karena terjadinya perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang ditandai dengan semakin terbukanya peluang bagi ibu rumah tangga untuk berkarier.

Wabah ini seolah kembali mengingatkan kembali peran orangtua untuk mendidik dan membimbing anak, yang selama ini dibebankan kepada guru di sekolah. Pemberlakuan kegiatan belajar mengajar secara online di rumah bukan hanya jadi tantangan baru bagi para siswa, tetapi juga bagi para orangtua. Belajar akan jauh lebih efektif sekaligus mengasyikkan jika anak bersama orangtua mempelajari suatu pengetahuan atau keterampilan secara bersama-sama (berkolaborasi).

 

A.A.Ngr.Eddy Supriyadinata Gorda

To Top