Kata Hati

Menjadi Pemimpin, Perspektif Kajian Seni

Jika kita menonton pertunjukan orkestra gamelan Bali atau Jawa, maka akan melihat dua hal yang ada. Benda seni berupa keindahan fisik gamelan dan nonfisik berupa keindahan  nada atau alunan gamelan, yang bila didengarkan akan memberi suasana musikal dalam diri manusia.

Masyarakat tentu tidak semua akan sampai masuk pada pemahaman secara filsafat; makna apa sebenarnya yang terdapat pada nada gamelan Bali atau Jawa. Tulisan ini untuk mencoba mengantar suasana menyambut peringatan kemerdekaan RI ke-75 tahun 2020, atau sebuah kontemplasi bagi mereka yang akan ingin menjadi pemimpin, hingga bisa menjadi pemimpin yang baik dan benar.

Menjadi pemimpin bisa diibaratkan dari sebuah alunan nada gamelan Bali atau gamelan Jawa dengan filosofi yang diambil dari suara/nada gamelan. Adapun nada gamelan itu adalah berbunyi nding, ndong, ndeng, ndung, ndang. Mari masuk pada filosofinya. Nada ”nding” atau ditulis “ning” mengandung arti  bahwa pemimpin yang baik dan benar itu harus selalu berpikir yang hening, jernih, ding/dingin, tidak cepat emosi namun sebaliknya kepalanya tetap “dingin” apalagi  dalam membuat sebuah keputusan.

Nada ndong atau ditulis nong, bahwa menjadi pemimpin yang baik dan benar hendaklah sebelum mengambil keputusan atau membuat kebijakan mengambil waktu sejenak untuk diam/nongos atau duduk merenung  di balai bengong seraya menimbang-nimbang keputusan yang dibuat agar tidak berakibat fatal, nong juga berarti plong yang sama dengan artinya mengerti; buatlah rakyat itu mengerti dengan maksud kita, jangan justru membuat rakyat itu menjadi rakyat yang kebingungan atau keliru apa lagi menyesatkan. Sebaliknya antara pemimpin dan pengikutnya harus bisa bersinergi untuk membuat energi yang prima, sehingga sama-sama berjalan secara harmoni.

Suara deng atau neng bahwa pemimpin yang baik dan benar harus bisa “nengil” atau diam, Jangan menjadi pemimpin suka bermulut panjang, Jeg nengil kalau kita tidak tahu, lebih bijak untuk menjadi tahu kita bertanya pada ahli atau pakarnya.

Kata ndung atau nung; pemimpin yang baik dan benar harus bisa nunggal atau manunggal/bersatu dengan rakyat atau yang dipimpin. Jika tidak mampu bersatu dalam gerak dan langkah, maka kualitas pemimpin seperti ini perlu diragukan, sebab kekuatan pemimpin dan memimpin justru ada di tangan rakyat atau bawahan. Kata nung atau ditulis dunung bahwa seorang pemimpin yang baik itu harus bisa dunung (sadar) akan eksistensi dirinya, bahwa menjadi pemimpini itu dibentuk dan dipilih oleh Yang Maha Kuasa, karena setiap pemimpin sesungguhnya adalah perpanjangan tangan dari Tuhan Yang Maha Esa untuk menyelenggarakan kesejahteraan umatNya di muka bumi ini.

Selanjutnya bunyi ndang atau ditulis nang mempunyai makna segeralah; bahwa pemimpin yang baik dan benar itu semestinya bertindak segera dalam melayani masyarakat. Jangan ditunda, apalagi  pelayanan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Itulah makna nada dengan filosofi yang melekat di dalamnya. Selanjutnya penamaan sebuah instrumen alat musik juga mengandung filososfi, misalnya instrumen suling, yang bermakna eling/ingat; seorang pemimpin hendaklah selalu ingat secara vertikal (bersifat  spiritual); yang dalam aplikasinya senantiasa rajin sembahyang mengingat Sang Pencipta, dan eling atau ingat dengan sesama ciptaanNya. Tentu jika seseorang telah menjadi pemimpin, wajib hukumnya eling dengan orang-orang terdekat, sehingga dapat menopang kualitas dan mobilitas dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat yang dipimpinnya. Karena kadang manusia bisa melupakan  secepat kilat akan jasa seseorang, maka karakter eling ini harus dipegang, diresapi dan diterapkan.

Selanjutnya bila kita pahami susunan nada-nada gamelan Bali atau Jawa, bukankah suaranya berbeda? Oleh karena itu perbedaan nada-nada ini memberi makna bahwa kendatipun suara berbeda, maka ketika ditabuh menjadi satu komposisi musik, maka nada-nada ini akan menghasilkan susunan sajian musik yang harmoni dan sangat enak untuk didengar. Bukankah seorang pemimpin yang baik dan benar harus menghasilkan bunyi atau suara yang meneduhkan dan pendamaikan? Mari kita jawab dalam hati sanubari kita.

Para pemain gamelan juga secara filosofi harus tahu dengan perannya masing-masing, sehingga akan dapat bekerja bersama menghasilkan suatu komposisi musik yang enak didengar. Selamat bermain gamelan dengan nada nding ndong, ndeng, ndung, ndang di atas, hingga menghasilkan suara yang bagus; suara kepemimpinan untuk mengantar Bali menuju Bali era baru. Namun yang terpenting, bagaimana kita bisa sukses menjadi pemimpin atas diri kita sendiri. Selamat menjadi pemimpin.

 

I Nengah Rata Artana, S.Sn.,M.Sn

(Dosen Universitas Dhyana Pura)

To Top