Kata Hati

Perkembangan Anak, Perspektif Kajian Seni

Penting bagi orangtua mengamati perkembangan anak sesuai dengan tema peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2020 yakni “Anak Terlindungi, Indonesia Maju.” Untuk menuju maju, agar tidak sekadar jargon belaka, maka anak dari masa dalam kandungan harus distimulus dengan berbagai cara, antara lain memperhatikan gizinya, termasuk setelah lahir memperhatikan perkembangan sikap dan prilakunya, agar anak terlindungi perkembangan fisik dan psikisnya.

Misalnya perkembangan psikomotorik anak pun perlu diikuti tahapannya, agar orang tua bisa mengarahkan aktivitas anak-anaknya. Dalam konteks perkembangan anak, maka ada korelasi dengan dunia bermain dan sarana bermain yang ada dan dilakukan oleh anak-anak dalam kesehariannya.

Kebijakan dan selektif memilih jenis alat bermain juga harus diperhatikan oleh para orang tua, karena anak-anak yang masih bermain bagaikan kertas putih seperti apa yang disebutkan pada teori tabula rasa (dari bahasa Latin kertas kosong). Ini merujuk pada pandangan epistemologi bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan, dengan kata lain “kosong”, dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat indranya terhadap dunia di luar dirinya.

Media bermain sangat banyak, mungkin lebih bijak anak-anak dipilihkan jenis mainan yang tidak “berbau” senjata tajam atau yang membahayakan, misalnya jenis pistol-pistolan dan pedang-pedangan. Sebaliknya mungkin lebih bijak memilihkan jenis mainan anak yang mengandung unsur bunyi/suara berupa jenis alat-alat musik tiruan atau yang original. Lebih baik lagi kalau sejak dini anak-anak sudah diperkenalkan jenis alat-alat musik tradisi, seperti gamelan Bali, agar anak-anak juga bisa belajar secara logika, etika dan estetika melalui proses pembelajaran seni musik tradisi maupun modern.

Satu unsur etika misalnya, dalam sebuah buku yang berjudul Prakempa juga memuat tentang unsur etika atau susila yang terkait dengan keberadaan gamelan Bali. Dalam konteks penelitian pada kajian seni musik tradisi, etika erat kaitannya dengan fungsi gamelan yang berbeda-beda sesuai dengan tempat, waktu dan kondisi. Etika dalam kaitannya dengan proses pembelajaran seni musik implementasi yang didapat dari penelitian antar lain memperkenalkan kepada peserta didik bagaimana sikap duduk dan memperlakukan alat-alat musik yang digunakan sebagai media stimulan secara santun. Misalnya tidak boleh melangkahi gamelan. Etika dalam kaitannya dengan gamelan atau musik yang digunakan sebagai media stimulan proses pengenalannya kepada peserta didik harus menyertakan unsur etika, sebab Prakempa adalah juga sumber etika masyarakat Bali (Bandem, 1986:15).

Kegiatan anak yang bernuansa kegiatan proses bermain musik akan sangat bermanfaat bagi anak-anak, sebab di dalam proses pembelajaran seni musik daerah (baca: daerah Bali), akan diperkenalkan oleh gurunya tidak saja hanya cara memukul instrumen, tetapi akan dikenalkan beberapa sikap, antara lain: (1) sikap duduk pada saat bermain musik; biasanya duduk dengan sikap bersila atau bersimpuh, (2) sikap atau perlakuan terhadap alat-alat musik; misalnya tidak melangkahi alat musik saat berjalan, (3) sikap kewajaran saat memainkan alat-alat musik, misalnya instrumen yang dipukul dengan tangan tidak wajar atau tidak sopan apabila dipukul dengan kaki, alat pemukul (panggul) tidak boleh dimasukkan ke mulut, (4) sikap hormat terhadap guru dan pendamping; misalnya saat dijelaskan tentang bermain musik oleh gurunya atau pendampingnya, peserta didik wajib mendengarkan dengan baik.

Keempat sikap-sikap tersebut di atas juga telah diatur dalam prakempa yang terdiri atas filsafat/logika, etika/susila dan estetika/lango. Dengan melihat dan mengikuti perkembangan anak saat ini yang sarat dengan kemajuan teknologi dan informasi yang kian tak terbendung, maka untuk menuju anak Bali atau anak Indonesia maju, perhatian memilih media bermain juga menjadi penting, agar anak tidak salah memegang media bermain. Penting pula untuk dipahami, misalnya dalam konteks anak usia dini, proses bermain musik jangan sampai menghilangkan esensi dan kondisi dunia anak yakni dunia bermain. Sebab esensi dan kondisi dunia bermain adalah untuk menunjang agar anak dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik.

Tentang dunia bermain (Diana Mutiah 2012:90) menyebutkan sebagai berikut: ”Beberapa kondisi yang membutuhkan agar anak dapat tumbuh kembang dengan baik meliputi : memberikan waktu bermain dan alat permainan yang memadai. Bermain merupakan kesibukan anak layaknya bekerja seperti orang dewasa. Bermain memberikan kepuasan secara fisik, emosi, sosial dan perkembangan mentalnya dapat terpenuhi, sehingga anak dapat mengeskpresikan perasaannya, menunjukkan kreativitas dan bakatnya secara nyata”.

Sebagai bagian dari kalangan akademisi dari kajian seni pertunjukan serta, akademisi, orang tua dan suka dengan dunia anak-anak, maka mari selektif dan bijak memilih media bermain, pilihlah jenis permainan seni atau kegiatan seni pertunjukan, sambil kita mengajak anak-anak melestarikan kesenian warisan nenek moyang bangsa kita, kesenian yang mengandung nilai-nilai yang adiluhung.

 

I Nengah Rata Artana, S.Sn.,M.Sn

Akademisi, Dosen Universitas Dhyana Pura

To Top