Mozaik

Masuk Bali via Bandara, Ini yang Harus Disiapkan

Denpasar (cybertokoh.com) –

Kantor Otoritas Bandara Wilayah IV sejak awal munculnya Virus Corona atau Covid-19 yang awal kemunculannya masih disebut sebagai penyakit Pneoumonia dari Negara Tiongkok (Propinsi Hubai Kota Wuhan) telah melakukan antisipasi dan koordinasi dengan pihak Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Sosialisasi kepada seluruh stakeholder Bandara I Gusti Ngurah Rai pun sudah dilakukan kepada komunitas bandara.

“Sedari awali kami mendorong penyelenggara bandara (PT. AP I), Airlines, Ground Handling dan semua komunitas bandara dalam hal pemenuhan aturan protokol kesehatan yang telah ditetapkan (Masker, Disinfektan, Jaga Jarak, Pemeriksaan Suhu, HAC, Health Certificate, Dok Rapid Test /PCR Negatif dll),” ujar Bok Elfi Amir, Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV.

Pria yang akrab disapa Tevi ini juga menambahkan pihaknya secara aktif berkoordinasi dengan komunitas bandara dan Satgas Covid Propinsi Bali dalam penanganan Repatriasi WNI (PMI, Pelajar,dll) serta repatriasi WNA serta menyelenggarakan Posko Penanganan COVID 19 Bandara Ngurah Rai.

Kini Kantor Otban langsung melakukan upaya sosialisasi dan koordinasi dengan pihak terkait guna persamaan persepsi dalam persiapan implementasi. “Rencananya  tanggal 28 Mei 2020 secara resmi aturan ketentuan PCR Test Negatif diberlakukan bagi calon pax inbound rute domestik yang akan masuk ke Bali. Langkah tersebut merupakan upaya dr Pemprov Bali untuk lebih selektif (pengetatan) terhadap orang yang akan masuk Bali,” jelas Tevi dalam acara Bali Post Talk di Bali TV, Sabtu (23/5).

Koordinasi dan kerjasama antar stakeholder sampai saat ini terjalin sangat solid, sinergi, dan bergotong royong saling mengisi dalam menghadapi pandemi Covid-19 kaitannya dengan penerbangan. Semua pihak terkait melakukan tugas dan fungsi sesuai protap masing-masing dengan Ketua Komite FAL Bandara yakni Kepala Kantor Otban. Terbentuk juga Satgas Udara yang diketuai oleh Danlanud Ngurah Rai.

“Kantor Otoritas Bandara berharap dengan kebijakan pengendalian tranportasi udara ini semua pihak dapat menyesuaikan dan disiplin menjalankan aturan main. Contoh bahwa penumpang wajib menunjukan Surat Tugas / Surat Keterangan, Dok Rapid Test / PCR negatif, Selalu memakai masker, selalu jaga jarak dll. Pihak airlines juga demikian harus patuh dan taat terhadap aturan mainya misal satu pesawat tidak boleh mengangkut lebih 50% penumpang. Tempat duduk di pesawat harus diatur sedemikian rupa untuk physical distancing. Penyelengara bandara menyediakan ruang/fasiltas yang memadai untuk sosial distancing (jaga jarak berkerumun).  Dengan adanya kepatuhan semua pihak terkait dalam menjalankan tugas fungsi masing-masing diharapkan tercipta secara bertahap istilah new normal (Operasi Penerbangan dengan aturan Protokol Kesehatan baru),” ungkap Tevi. (Ngurah Budi)

 

 

To Top