Connect with us

Sekitar Kita

Kampanye Perubahan Perilaku Sediakan Layanan Nomor Khusus

Published

on

Jakarta (cybertokoh.com) –

Perubahan perilaku merupakan hal yang sangat penting untuk menekan penyebaran Covid-19. Karena itu pemerintah menyediakan layanan Interactive Voice Response (IVR) 321 sebagai salah satu media edukasi pencegahan Covid-19.

Layanan tersebut diinisiasi oleh Kementerian Kesehatan, USAID, dan PT XL Axiata Tbk dan dilaunching, Selasa (19/5).

Launching Kampanye Berubah Usir Wabah, Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku dalam Pencegahan Covid-19 dan layanan 321 interactive Voice Response dilakukan secara virtual di Jakarta. Menteri Kesehatan RI dr. Terawan Agus Putranto mengatakan wabah Covid-19 tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan, tetapi juga aspek kemanusiaan, sosial, dan ekonomi secara lebih luas.

Advertisement

“Semakin meluasnya dampak wabah ini, perlu disikapi dengan percepatan peningkatan pengetahuan masyarakat untuk mengatasi potensi risiko dan ancaman masalah kesehatan, agar masyarakat mampu mengambil langkah tepat dan cepat untuk melindungi diri dari Covid-19,” katanya di Jakarta, Selasa (19/5).

Namun, kenyataannya, berubah bukanlah suatu hal yang mudah. Berubah untuk mengusir wabah Covid-19 memerlukan suatu langkah pendekatan komunikasi khusus yang mengarah pada tujuan perubahan perilaku kunci untuk menurunkan kasus Covid-19.

BACA  Satu Dekade Sinergi Tetra Pak dan EcoBali Recycling

Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku Dalam Pencegahan Covid-19 telah disusun bersama Tim John Hopkins Center for Communication Program sebagai counterpart dari USAID. Dokumen ini menjadi acuan bagi berbagai pihak terkait dalam memberikan edukasi dan mendorong perubahan perilaku masyarakat yang mengarah pada pencegahan Covid-19.

Selain itu, layanan 321 juga menjadi salah satu pilihan saluran komunikasi yang dapat diakses oleh masyarakat umum untuk memperoleh informasi tentang Covid-19.

Direktur USAID Indonesia Ryan Washburn mengatakan dalam perang melawan Covid-19, kita semua menghadapinya bersama-sama.

Advertisement

“Launching hari ini menggambarkan komitmen bersama kami untuk menjangkau masyarakat yang tinggal di daerah paling terpencil sekalipun dengan informasi yang terpercaya, mudah dilakukan sehingga dapat menyelamatkan jiwa,” ujar Rian.

Di samping itu, pada kerja sama ini PT XL Axiata Tbk terus berupaya menyediakan sarana yang mudah bagi pelanggan dan masyarakat untuk mendapatkan informasi seputar pandemi Covid-19. Layanan terbaru yang kini dikenalkan berupa layanan telepon 321 memberi kesempatan kepada lebih banyak masyarakat Indonesia yang memiliki keterbatasan dalam akses internet untuk memperoleh beragam informasi.

BACA  Pemerintah Siapkan Jutaan Obat Covid-19

Masyarakat dengan semua jenis telepon selular dapat memanfaatkan layanan ini untuk memperoleh informasi secara cepat tentang Covid-19 dan berbagai informasi yang bermanfaat lainnya untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan.

Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini mengatakan belum semua pelanggan dan masyarakat menggunakan smartphone dan mengakses internet. Sebagian dari mereka ternyata masih menggunakan telepon biasa, termasuk juga mereka yang berdomisili di area yang belum terjangkau jaringan internet secara memadai.

“Layanan telepon 321 ini menjadi salah satu solusi untuk mempercepat penyebaran informasi seputar Covid-19 secara lebih merata ke seluruh daerah di Indonesia mengingat layanan ini dapat diakses oleh seluruh pengguna telepon selular di Indonesia. Seluruh konten informasi pada layanan ini pun disediakan dalam bahasa Indonesia,” ujarnya.

Advertisement

Dian menambahkan, saat ini layanan telepon 321 tersedia di seluruh 34 provinsi di Indonesia. Untuk memanfaatkan layanan ini, pelanggan cukup melakukan panggilan telepon dengan menekan 321 dan mengikuti arahan sesuai dengan informasi yang dibutuhkan.

Pelanggan dapat menikmati panggilan bebas biaya untuk 8 (delapan) telepon pertama. Setelah delapan panggilan pertama setiap bulannya, selanjutnya berlaku tarif dengan harga yang terjangkau Rp 250/menit. Panggilan bebas biaya ini berlaku setiap bulannya.

BACA  All New Rush, "SUV Seven Seater" Teranyar untuk Keluarga

“Seluruh konten informasi terkait Covid-19 selaras dengan panduan nasional yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Inisiatif ini didukung oleh Johns Hopkins Center for Communication Programs Indonesia melalui Program Breakthrough Action yang didanai oleh USAID,” katanya.

Diharapkan kampanye Berubah Usir Wabah dimana mempersembahkan Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku dalam Pencegahan Covid-19 dan Layanan Interactive Voice Response 321 menjadi salah satu media edukasi pencegahan Covid-19, selain itu juga dapat mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih sehat.

Hotline Virus Corona 119 ext 9. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemenkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id (rls/Ngurah Budi)

Advertisement

Sekitar Kita

Tetap Waspada dan Terapkan Prokes, Solusi Cegah Omicron

Published

on

Selalu memakai masker merupakan cara untuk mencegah penyebaran Covid-19 (cybertokoh/Humas Pemkab Badung)

Denpasar (cybertokoh.com) –

Omicron menjadi trending topic di masyarakat. Belum usai Delta, kini muncul varian baru yang bernama Omicron. Berbagai kalangan pun memperbincangan varian yang disinyalir berkembang di Afrika Selatan ini.

“Saya selalu menonton berita di televisi tentang perkembangan Covid-19. Saat penanganan varian Delta sedang dilakukan, muncul varian Omicron. Ini membuat kita harus meningkatkan kewaspadaan,” ujar S.P. Udiyana, warga Dalung, Badung, Jumat (3/12).

Pensiunan ASN yang juga mantan kepala lingkungan ini menuturkan, perkembangan Covid-19 membuatnya terus meningkatkan kewaspadaan. Penerapan protokol kesehatan di lingkungan keluarga menjadi kewajiban. Memakai masker, menjaga jarak aman, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas merupakan hal wajib yang mereka terapkan. “Menjaga keluarga tetap aman merupakan hal priotitas. Kami sekeluarga juga sudah vaksinasi Covid-19 kecuali cucu karena usianya baru 10 tahun,” ungkap Udiyana.

Advertisement

Omicron juga menjadi topik bahasan Abhi dan Narendra sembari bermain game online. Dua siswa SMP di Denpasar ini mengetahui Omicron dari media sosial. Mereka berharap varian ini tidak sampai di Bali. “Kami sudah rindu bertemu langsung dengan teman-teman. Jangan sampai gara-gara Omicron, kelas online diperpanjang lagi. Kadang bosan juga di rumah terus, tapi mau gimana lagi, masih pandemi Covid-19,” ujar Abhi.

World Health Organization (WHO) telah menetapkan varian baru Covid-19, B.1.1.529 atau Omicron sebagai Variant of Concern (VOC) atau varian yang menjadi perhatian pada 26 November 2021. “Keputusan ini didasarkan pada bukti yang diberikan kepada TAG-VE bahwa Omicron memiliki beberapa mutasi yang mungkin berdampak pada perilakunya, misalnya, seberapa mudah menyebar atau tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya,” demikian penjelasan WHO.

BACA  Ingatkan Keluarga untuk Tidak "Panic Buying"

TAG-VE adalah the advice of WHO’s Technical Advisory Group on Virus Evolution atau Kelompok Penasihat Teknis WHO tentang Evolusi Virus. WHO menjelaskan saat ini saat ini para peneliti di seluruh dunia sedang melakukan penelitian untuk lebih memahami seluk beluk varian Omicron.

WHO mengungkapkan berdasarkan bukti awal menunjukkan adanya kemungkinan terjadinya peningkatan risiko infeksi ulang dengan Omicron, yaitu orang yang sebelumnya terinfeksi Covid-19 dapat terinfeksi lagi dengan lebih mudah dibandingkan dengan varian lainnya. WHO pun bekerja sama dengan pihak terkait untuk mengetahui dampak potensial dari varian Omicron pada tindakan pencegahan yang ada, termasuk vaksinasi. WHO memandang vaksinasi Covid-19 tetap penting dan efektif untuk mengurangi penyakit parah dan kematian, termasuk melawan varian dominan yang beredar, Delta.

WHO mengingatkan untuk mengurangi penyebaran Covid-19 jangan lupa selalu menjaga jarak fisik minimal 1 meter dari orang lain, memakai masker yang pas, membuka jendela untuk meningkatkan ventilasi, menghindari ruang yang berventilasi buruk atau ramai, menjaga tangan agar tetap bersih, batuk atau bersin ke siku atau tisu yang tertekuk dan melakukan vaksinasi.

Advertisement

Pemerintah Indonesia telah mengambil sejumlah langkah untuk mencegah Omicron masuk ke Indonesia. Varian baru dari Afrika Selatan ini terkonfirmasi sudah menyebar di banyak negara dan dinyatakan WHO sebagai variant of concern. Pemerintah mengajak masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap waspada dan memperketat protokol kesehatan serta melakukan vaksinasi.

BACA  All New Rush, "SUV Seven Seater" Teranyar untuk Keluarga

Epidemiolog Masdalina Pane mengatakan WHO telah memasukkan Omicron sebagai variant of concern (VoC). Dengan tambahan varian ini, maka total VoC yang saat ini diketahui di seluruh dunia mencapai lima VoC. Meski kemunculan varian baru Covid-19 Omicron ini membuat masyarakat resah, pemerintah memastikan telah mengambil langkah cepat sebagai antisipasi, salah satunya dengan memperketat perbatasan dan kedatangan dari luar negeri. Kebijakan ini dilakukan sebagai langkah waspada untuk mencegah atau menghambat varian Omicron masuk ke Indonesia.

Epidemiolog mengapresiasi dan menilai baik kebijakan cepat yang diambil pemerintah tersebut. “Memang semua harus dilakukan cepat. Yang telah dilakukan pemerintah saat ini seperti menutup pintu masuk, sudah memadai,” ujar Masdalina.
Pemerintah telah dan akan mengambil langkah guna mencegah masuknya varian Omicron ke Indonesia. Memberlakukan larangan masuk bagi WNA yang memiliki riwayat perjalanan selama 14 hari terakhir ke Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Zimbabwe, Lesotho, Mozambique, Eswatini, Malawi, Angola, Zambia dan Hongkong. Daftar negara-negara bisa bertambah atau berkurang berdasarkan evaluasi berkala oleh Pemerintah.

Memberlakukan karantina 14 hari bagi WNI yang pulang ke Indonesia dan memiliki riwayat perjalanan dari 11 negara di atas. Meningkatkan waktu karantina bagi WNA dan WNI yang dari luar negeri diluar dari 11 negara tersebut menjadi 10 hari. Meningkatkan tindakan genomic sequencing, terutama dari kasus-kasus positif yang dari riwayat perjalanan ke luar negeri untuk mendeteksi varian omicron ini.
Selain kebijakan tersebut, Masdalina menambahkan ada beberapa hal yang juga perlu dilakukan untuk mencegah varian Omicron, di antaranya meningkatkan surveilans di daerah dengan sistem active case finding, mempercepat vaksinasi untuk mengejar target 70% cakupan pada akhir tahun, serta penguatan 3T, termasuk isolasi pasien dan karantina bagi kontak erat.

BACA  Menteri Bintang Puspayoga Bangga Indonesia Miliki Data Terpilah Lengkap

Selain itu, ia mengatakan bahwa semua pihak juga harus meningkatkan kewaspadaan dan penerapan protokol kesehatan dalam penyelenggaraan acara berskala internasional. “Harus ada surveilans khusus dan pembatasan mobilitas peserta hanya di venue acara,” ujarnya.
Apabila Omicron masuk, maka pembatasan tentu harus kembali diberlakukan. Masyarakat harus meningkatkan prokes 3M, dengan pemakaian masker dua atau tiga lapis. Selain itu, perlu menambah kapasitas ICU, juga memastikan akses obat serta oksigen harus tercukupi. (Ngurah Budi)

Advertisement

Continue Reading

Sekitar Kita

Masyarakat yang Terapkan Prokes Juga Pahlawan

Published

on

Peringatan Hari Pahlawan tahun 2021 ini bertepatan dengan Hari Raya Galungan. Peringatan di Kota Denpasar dilaksanakan dengan sederhana dan terbatas serta penerapan protokol kesehatan. (cybertokoh/Humas Pemkot Denpasar)

Denpasar (cybertokoh.com) –

Peringatan Hari Pahlawan tahun 2021 di Bali agak berbeda dari tahun sebelumnya. Selain karena pandemi Covid-19, peringatan Hari Pahlawan kali ini bertepatan dengan Hari Raya Galungan.

“Peringatan kami laksanakan dengan sederhana dan terbatas karena penerapan protokol kesehatan, namun tidak mengurangi makna dan semangat para pahlawan yang harus kita getok tularkan kepada generasi muda,” ungkap Plt. Kadis Sosial Kota Denpasar I Nyoman Artayasa, Rabu (10/11).

Dalam amanat Menteri Sosial RI dijelaskan, pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang hingga saat ini diperingati sebagai Hari Pahlawan hendaknya menjadi teladan bagi kita bersama. Hal ini utamanya berkenaan dengan tekad, kegigihan berjuang dan semangat pantang menyerah para pahlawan kita.

Advertisement

Semangat, tekad dan keyakinan para pahlawan hendaknya juga dapat menginspirasi dan menggerakan seluruh elemen bangsa guna mengemban misi bersejarah dalam mengalahkan musuh masa kini. Yakni kemiskinan dan kebodohan dalam arti luas. Hal ini sejalan dengan tema Hari Pahlawan tahun 2021 yakni “Pahlawanku Inspirasiku”.

Sementara itu dalam Siaran Pers Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) – KPCPEN, Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr.Reisa Broto Asmoro menyampaikan, pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa pahlawan masa kini ada di mana saja dan bisa siapa saja. Selain tenaga kesehatan dan relawan yang berjuang merawat pasien, sosok pahlawan juga dapat ditemukan dalam masyarakat yang disiplin protokol kesehatan, melakukan edukasi, mengubah perilaku, juga berkontribusi pada percepatan vaksinasi.

BACA  Putri Koster: Keharuman Bunga Lokal Bali harus Mendunia

“Memasuki bulan ke-21 menghadapi wabah Covid-19, inspirasi kepahlawanan dapat ditemukan di berbagai aspek kehidupan, baik pada masa genting dan darurat yang lalu, atau pada kondisi mulai membaik seperti sekarang. Pahlawan pandemi dapat ditemukan pada sosok tenaga kesehatan yang merawat kasus terkonfirmasi sampai lebih dari 90 persen-nya sembuh,” ujar dr. Reisa.

Seluruh masyarakat Indonesia yang turut berjuang mencari solusi, menggaungkan semangat untuk vaksinasi dan terapkan protokol kesehatan (prokes), juga merupakan pahlawan. Kedisiplinan prokes tersebut diantaranya ditunjukkan dalam pemakaian masker.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan RI dr. Siti Nadia Tarmizi menambahkan peringatan hari pahlawan harus menjadi momentum bahwa kita semua adalah pahlawan yang bisa berkontribusi dalam penanganan pandemi.

Advertisement

“Apapun posisi kita, kita harus mampu untuk mengedukasi, mengubah perilaku, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan dan vaksinasi Covid-19, serta memberikan apresiasi kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penanganan Covid-19,” ujarnya.

Terkait dengan peringatan Hari Kesehatan yang jatuh pada 12 November, dikatakannya, bisa dijadikan momentum fokus membangun diri, keluarga, masyarakat dan negara khususnya di bidang pembangunan kesehatan, sejalan dengan tema tahun ini yaitu “Sehat Negeriku, Tumbuh Indonesiaku”.
Terkait upaya pengendalian Covid-19 di tanah air, dr. Nadia mengingatkan walaupun sudah divaksinasi dan situasi pandemi semakin membaik, ia minta masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan agar tidak terjadi lonjakan kasus.

BACA  Gerakan Ayo Minum Air

“Relaksasi berbagai kegiatan saat ini harus disikapi secara bijak. Kita semua harus selektif memilih kegiatan-kegiatan yang prioritas saja dengan mengedepankan protokol kesehatan sehingga tetap bisa sehat dan produktif,” tegasnya. (Ngurah Budi)

Advertisement
Continue Reading

Sekitar Kita

Pengendalian Pandemi Covid-19 Perlu Partisipasi Masyarakat

Published

on

Suasana sampling respons vaksin Covid-19 di Desa Mekar Bhuwana, Badung. (tkh/Ngurah Budi)

Badung (cybertokoh.com) –

Kegiatan vaksinasi Covid-19 terus digeber. Masyarakat yang belum vaksinasi terus diingatkan untuk vaksinasi, yang baru dosis I diingatkan tentang jadwal vaksinasi dosis II. Masyarakat yang dosisnya sudah lengkap pun diingatkan untuk tetap disiplin prokes.

Pemantauan terhadap masyarakat yang sudah vaksin juga terus dilakukan. Salah satunya dengan sampling respons terhadap vaksin Covid-19. “Saya sudah vaksin dosis II bulan September 2021. Kemudian masuk sebagai sampling untuk respons terhadap vaksin Covid-19,” ujar Gusti Putu Manik, warga Desa Mekar Bhuwana, Badung, Kamis (4/11).

Sampling darah itu dilakukan untuk menilai respons imun humoral seseorang yaitu antibodi terhadap Covid-19 baik pada penyintas Covid-19 maupun pada individu penerima vaksin. Pada penerapannya, tes serologi kuantitatif ini ada memiliki tiga kegunaan. Pertama, bagi yang telah vaksinasi Covid-19, dapat mengetahui apakah tubuh sudah memiliki imun atau belum memiliki antibodi Covid-19. Kedua, bagi penyintas Covid-19 bisa mengetahui apakah serologinya dapat memproteksi dirinya atau masih bisa terkena kembali. Ketiga, terapi plasma konvaselen, yaitu sebagai pendonor (orang yang sembuh dari Covid-19 dan sudah diuji dengan hasil negatif) bagi penderita/pasien Covid-19.

Advertisement

Manik menambahkan, dalam kegiatan yang berlangsung dengan disiplin prokes, masyarakat diingatkan tentang pandemi Covid-19 yang belum usai. Semua harus disiplin menerapkan prokes. “Semua komponen harus saling mendukung agar kita bisa melalui masa pandemi ini,” ujarnya.

BACA  Satu Dekade Sinergi Tetra Pak dan EcoBali Recycling

Dari sisi pemerintah, meski pandemi Covid-19 telah melandai, pemerintah mengingatkan masyarakat untuk tidak abai, karena wabah ini belum betul-betul usai. Pada masa jeda seperti saat ini, selain terus meningkatkan protokol kesehatan, beberapa upaya dapat dilakukan masyarakat seperti percepatan vaksinasi serta peningkatan kesehatan fisik, mental, dan sosial. Selain itu, mengasah kesadaran dan kemampuan deteksi diri sebagai salah satu perilaku adaptasi kebiasaan baru.

Dalam Dialog Produktif Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) – KPCPEN, Anggota Satgas Penanganan COVID-19 Sub Bidang Mitigasi, Falla Adinda menyoroti pentingnya kemampuan setiap individu untuk menilai diri sendiri (self assessment) sebagai upaya melindungi diri dari risiko terpapar virus di masa pandemi.

“Semakin tinggi jam terbang kita dalam pandemi, akan semakin baik pula kemampuan kita menilai situasi sekitar,” kata Falla yang juga seorang dokter ini. Hal ini misalnya menjauhi tempat yang berpotensi adanya penularan atau menilai kapan aman untuk membuka masker.
Selain itu, Falla menegaskan, telah diketahui bahwa salah satu pemicu pertambahan kasus adalah peningkatan mobilitas. Berbekal pengalaman tersebut, ia mengimbau setiap orang untuk membatasi mobilitas, sehingga masyarakat tetap sadar bahwa Indonesia masih dalam situasi pandemi.

BACA  Tiga Pasien Positif Covid-19 di Denpasar Sembuh

Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia M. Adib Khumaidi menyatakan, saat ini pandemi di Indonesia tengah berada dalam fase relaksasi. Meski terkesan tengah melandai, masyarakat harus tetap sadar bahwa pandemi belum selesai.
Ia menjelaskan beberapa upaya pengendalian pandemi tetap dapat dilakukan dalam fase relaksasi. Di antaranya, tetap disiplin protokol kesehatan untuk mencegah penularan, percepatan vaksinasi, serta membiasakan diri beradaptasi dengan perilaku baru yang harus diadopsi guna perlindungan kesehatan di masa pandemi.

Advertisement

“Masyarakat harus paham tentang kesadaran dan deteksi diri. Kedua hal tersebut, yakni awareness (kesadaran) dan self assessment (deteksi diri) adalah bagian dari upaya kesehatan sosial, yang berdampingan sama pentingnya dengan kesehatan fisik dan mental. Bila kita ingin menjaga keluarga, maka mulai dari diri kita dulu. Keluarga ikut, maka kita dapat turut melindungi masyarakat,” jelas Adib.

Bila kesadaran sudah muncul, katanya, maka fungsi pengawasan internal sudah tumbuh dalam tiap individu. Di sinilah terjadi perubahan perilaku masyarakat untuk beradaptasi terhadap Covid-19. Adaptasi kebiasaan baru termasuk dengan menghindari hal-hal yang memungkinkan kita terpapar. Agar tidak terjadi lonjakan kasus, menurut Adib ada beberapa hal dapat dilakukan, yakni 3M yang ditingkatkan jadi 5M (Memakai masker, Menjaga jarak, Mencuci tangan, Menjauhi kerumunan, Membatasi mobilitas), memperhatikan ventilasi-durasi-jarak saat beraktivitas untuk mengurangi risiko terpapar, 3T (tracing, testing, treatment), serta vaksinasi.

BACA  Ingatkan Keluarga untuk Tidak "Panic Buying"

Ia menyatakan bahwa kunci penanganan pandemi ada di tangan rakyat. Seluruh upaya pengendalian pandemi tidak akan berhasil tanpa partisipasi masyarakat. Masyarakat harus menjadi garda terdepan, dapat menjalankan fungsi skrining komunitas dan triase komunitas.
“Masyarakat jangan lengah, tetap jaga protokol kesehatan. Jaga kesehatan dan daya tahan tubuh. Sampaikan ke semua pihak, pandemi belum selesai. Bila ada gejala Covid-19, segera lapor,” ujar Adib. (Ngurah Budi)

Advertisement
Continue Reading

Tren