Sosialita

Tirka Widanti: Pergeseran Paradigma Dunia Pendidikan

Denpasar (cybertokoh.com) –

Merebaknya pandemi Covid-19 yang luar biasa, berimbas langsung pada berbagai sektor tak terkecuali dunia pendidikan. Hingga ada seruan pemerintah untuk work from home (WFH). Bukan hanya itu, sekolah dan kampus pun ikut didaringkan. Maka, lengkaplah sudah, Covid -19 memberikan dampak serius sektor pendidikan, di negara kita.

Sekarang, sebagian besar perguruan tinggi negeri maupun swasta memutuskan tetap menjalankan proses belajar mengajar dengan metode online (daring). Dan, mereka pun menjadi familiar dengan pembelajaran online melalui aplikasi webex, zoom, quizziz, quipper, google classroom, dan lainnya. Inilah era milenial ketika teknologi menjadi alat bantu pendidikan yang dominan dan dunia pun menjadi tanpa sekat. Begitu disampaikan dosen Universitas Ngurah Rai, Ni Putu Tirka Widanti saat ditemui di hari Pendidikan Nasional, Sabtu (2/5).

Bu Ika, begitu Adjuct Professor di Amity University Gurugram, India ini biasa disapa mengakui bahwa keputusan pemerintah yang mendadak dengan meliburkan atau memindahkan proses pembelajaran dari sekolah menjadi di rumah, membuat kelimpungan banyak pihak. Namun, ia juga mengatakan bahwa metode pembelajaran daring ini sesungguhnya bukan barang baru, sebab di beberapa negara terutama di negara maju kegiatan ini sudah biasa.

Di Indonesa juga, kata Bu Ika sebenarnya orang sudah cukup lama mengenal dan menggunakan teknologi online ini. Mungkin yang populer adalah aplikasi ojol, namun masih ingatkah kita tentang adanya kuliah MBA online yang dulu banyak ditentang. Disamping itu juga, sudah dilaksanakan pula pendidikan jarak jauh (distance education), seperti di Universitas Terbuka (UT) yang mengadakan pendidikan model online atau electronic learning.

Begitu juga dengan Bu Ika, sesungguhnya ia sudah akrab dengan metode online ini sejak 2015. Dimana saat saat itu, dirinya mulai meng-apply Adjunct Professor di India. Di sini, semua kegiatan, dari mengajar dan kegiatan lainnya dilakukan di udara secara on line. Kemudian, pada tahun 2017, Bu Ika memperoleh konfirmasi ditempatkan di sebuah desa di daerah Megalaya di India. Berlanjut tahun 2018, ia baru diakui dan dipindahkan di Kota di Amity University. “Untuk semua itu saya juga harus melakukan pertemuan fisik dua kali dalam setahun demi penyamaan persepsi dan klarifikasi. “Kalau dilihat aktivitasnya saya di dunia internasional dan saya juga dibayar saat mengajar di sana, maka saya tergolong TKW ,” cetusnya tersenyum.

Bicara belajar secara online, Bu Ika mengatakan jika pada saat itu, cukup banyak orang yang meremehkan dan menyangsikan kegiatan belajar mengajar yang dilakukannya. “Mereka bertanya –tanya benarkah dia belajar. Bisakah orang belajar dan mengajar dengan konsep seperti itu. Dan, hampir sebagai besar beranggapan bahwa pembelajaran yang benar harus dilakukan secara tatap muka,” tutur President Yayasan Kul-Kul di Green School Bali ini sembari mengatakan beberapa orang yang saat itu melihat kiprahnya dalam mengejar ilmu untuk dunia pendidikan, berkomentar bahwa dirinya memang sudah lebih dahulu melakukannya sistem online yang saat ini digencarkan tersebut.

Sebagai seorang dosen, Bu Ika juga semakin akrab dengan berbagai kegiatan on line. Termasuk kewajibannya mengajar Prodi Hospitality di kampus Ciputra pada (27/4) lalu. Semestinya dia hadir langsung di kampus, namun karena kondisi mewabahnya Covid -19 ini maka pembelajaran dilakukan secara online. Selain itu Ibu yang dikenal senang belajar ini, juga baru saja usai ujian untuk gelar M. Hum secara online dan bakal mengikuti Yudisium secara online pula pada 9 Mei ini.

Begitulah Bu Ika mengatakan bahwa perkembangan zaman menuntut perubahan peradaban. Hal ini akan berdampak pada cara atau metode pembelajaran yang sudah biasa dilakukan. Pada zaman yang serba teknologi seperti saat ini, tidak menutup kemungkinan proses belajar mengajar selanjutnya akan terus dilaksanakan secara daring, mengingat efektifitas dalam kegatan transfer ilmu
pengetahuan yang sangat baik, cepat dan mudah.

Dan, perubahan peradaban dan metode ini juga menuntut semua pemangku kepentingan untuk mempersiapkan diri dalam mengikuti perkembangan. Maka  literasi teknologi ini perlu dipelajari terutama dalam pemanfaatannya sebagai media pembelajaran daring. Jadi semua pihak tak bisa berhenti belajar. Apalagi pendidikan online ini juga bisa dibilang pendidikan sepanjang hayat (life long education) . Tak ada seorangpun yang dapat membantah ataupun menolak pesatnya perkembangan teknologi ini. Kalau ada yang menolaknya, maka bersiaplah untuk tertinggal, bahkan terlindas oleh orang lain.

Masih di tengah merebaknya Covid- 19, Bu Ika berharap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah selanjutnya, khususnya di bidang pendidikan termasuk harus melaksanakan perkuliahan dengan media internet dapat disikapi dengan positif oleh masyarakat. (Sri Ardhini)

To Top