Mozaik

Di Jepang Stok Masker Kosong,  Masyarakat Buat Sendiri

Yamaguchi (cybertokoh.com) –

Untuk memutus rantai penyebaran Covid -19, Pemerintah Jepang melakukan himbauan berupa : Avoid Three Cs (Closed Space with poor ventilatition, Crowded Place with many people nearby, and Close-Contact Settings , such as close range conversation). Begitu disampaikan Senja Pratiwi Dananjaya, salah seorang dosen Universitas Udayana yang tengah melanjutkan studinya di Yamaguchi University, Jepang saat dikonfirmasi Tokoh Senin (27/4).

Senja juga mengatakan pemerintah Jepang juga selalu menyarankan semua orang mencuci tangan dan memakai masker. “Dan, sejak awal Januari tidak ada stok masker di sana, sehingga orang-orang pada menjahit atau membuat masker sendiri,” ujar Senja yang tinggal di Kota Yamaguchi, Jepang bersama sang suami Nyoman Satyayudha Dananjaya dan putri sulungnya Putu Anindhita Indivara Disty Dananjaya yang juga sekolah di sana.

Senja menuturkan siswa SD sampaisamp sudah dua bulan tidak ke sekolah, tutup. Kalau kampus baru 3 minggu ini tutup. “Sebelumnya memang tutup karena spring vacation dari Februari sampai awal April. Ada larangan masuk kampus jadi kami semua belajar dari rumah ,” ujar Senja. Ia menambahkan kalau
di sana banyak pekerja yang dirumahkan dan kehilangan pekerjaan. Sedangkan pekerja asing yang di PHK biasanya pulang ke negaranya masing–masing.

Sejak Perdana Menteri Shinzo Abe menetapkan state of emergency (tidak sama dengan lockdown) di seluruh wilayah Jepang, untuk kurun waktu satu bulan sejak 7 April, masyarakat hanya stay at home dan keluar hanya untuk membeli stok bahan makanan. “Supermarket di daerah kami sudah sepi sekali, jumlah pengunjung berkurang. Dan, sekarang semua supermarket sudah dikasih tirai plastik pembatas antara kasir dan customer,” terangnya.

Dalam situasi ini pula, kata Senja pemerintah Jepang memberikan bantuan tunai sebesar ¥100.000, kira-kira senilai Rp 14 juta untuk semua orang, warga negara Jepang dan asing yang memiliki resident card Jepang. Pemerintah membantu tanpa pandang bulu yang apakah itu orang Jepang atau orang asing.

“Sejak penetapan stay at home, kegiatan saya, biasanya ada zoom meeting dengan Sensei pembimbing 1 dan Sensei lainnya. Hari ini kebetulan jadwal Zoom agak siang jadi pagi masih free Kalau tidak ada jadwal Zoom kami mengerjakan tugas Sensei dan menulis disertasi,” ujar Senja.

Selain itu, di Jepang Senja bekerja sebagai tutor Bahasa Inggris untuk mahasiswa Jepang. “Ada satu kelas yang kami handle dengan jumlah mahasiswa 35 orang. Biasanya pertemuan dilakukan face to face tapi sekarang jadi via Zoom juga. Sedangkan Nindy biasanya mengerjakan tugas dan PR sekolahnya. Kalau dia sudah selesai bikin tugas dia boleh main hp atau nonton tv. Atau dia biasanya masak atau buat snack. Kadang dia olahraga gowes sekeliling komplek rumah,” tutur Senja. (Sri Ardhini)

To Top