Sosialita

Maggha Karaneya Kang: Mendukung dengan Membagi Kasih

cybertokoh.com – Ada beragam kisah dibalik bayi-bayi yang ada di Yayasan Metta Mama & Maggha. Rata-rata bayi yang baru masuk berat badannya sangat kecil, kemudian berhasil mengejar menjadi normal. Bayi itu pun bertumbuh menjadi bayi sehat. Itu salah satunya karena sentuhan kasih Maggha Karaneya Kang.

Menurutnya, kehadiran seorang bayi biasanya disambut gembira oleh keluarga dengan limpahan kasih sayang. Namun, faktanya ada beberapa bayi yang kurang beruntung dan tidak bisa mendapatkannya. Disinilah ia ingin berperan membagi kasihnya. Maggha merasa sangat iba melihat bayi yang tak memperoleh kasih sayang semestinya itu.

Sulung dari tiga bersaudara dari pasutri Vivi Monata Sandra Tendean dan Cahyadi Adiguna ini menyebutkan ada berbagai alasan menjadikan bayi tak berdosa diserahkan orangtuanya ke Yayasan Metta Mama & Maggha. Diantaranya, akibat korban perkosaan, hamil di luar nikah dan masih sekolah hingga karena persoalan kasta, yang membuat mereka malu dan menyembunyikan kehamilannya.

”Biasanya ibu hamil seperti itu kandungannya kurang terawat. Nah, kalau disini kan mereka merasa ada yang mendukung, secara mental juga lebih baik untuk mereka,” katanya.

Sejak kecil, Maggha juga terbiasa diajak nenek dan kakeknya secara rutin mengunjungi panti asuhan untuk berbagi, membuat rasa empatinya bertumbuh semakin subur. Keinginannya semakin kuat, saat ia diajak ke pasar Badung oleh mamanya. Ketika sang mama mengambil kendaraan, ia pun menunggu sembari membaca. Dan, seorang anak tukang suun yang duduk disampingnya mengatakan ia hebat bisa membaca.

Maggha mengaku heran kala itu, sebab dipikirannya semua anak bisa membaca. Melihat hal tersebut ia ingin membuat sekolah untuk mereka. “Ternyata di Pasar Badung sudah ada tempat belajar bagi anak-anak tukang suun,” katanya sambil menambahkan kenapa tidak jika dirinya lantas ingin merawat sejak bayi, terutama bagi yang kurang beruntung.

“Adalah hal yang sangat menyakitkan bagi seorang bayi ketika mereka lahir dan tidak bisa mendapatkan kasih sayang,” cetus Maggha.

Begitulah Maggha yang lahir 3 Maret 1999 ini lantas menyampaikan gagasannya ingin punya tempat untuk menampung bayi yang tidak beruntung itu. Setelah beberapa kali meyakinkan, bahwa niatnya serius, mengingat usianya masih sangat belia.

Akhirnya, di November 2014 , mamanya bersedia mendukung dengan membantu mengurus semua izin yang diperlukan. Begitu juga Erlina Kang, sang nenek yang bersedia memberikan tempatnya digunakan.

HANYA LAYANI ADOPSI LEGAL
Kini lima tahun sudah ia merawat semua bayi yang ada di Metta Mama & Maggha. Dikatakannya, sampai saat ini 30 bayi sudah di adopsi, 16 bayi dirawat di yayasan dan 10 bayi kembali bersama orangtuanya. “Di Yayasan semua bayi ditangani oleh bidan dan perawat. Mereka semua kerja dengan profesional, karena di yayasan juga dilengkapi admin, cleaning srevice, laundry, hingga tukang masak. Kami ingin memberikan yang terbaik untuk bayi yang ada di yayasan, ujar penghobi baca dan menulis ini.

Dengan aktivitasnya di yayasan dan memilih homeschooling, sempat ada yang menganggap Maggha mengorbankan masa remajanya.“Bagi saya sama sekali tidak. Sebab setiap orang punya tujuan hidup tersendiri. Saya justru banyak belajar dari keberadaan saya di yayasan,” katanya. Salah satunya adalah ia semakin menyadari, banyak hal yang sudah dilakukan orangtuanya dan betapa sayangnya mereka kepada dirinya. Sebab, katanya banyak anak yang semakin besar malah lupa sama orangtuanya. Padahal seorang orangtua ibu selalu siap dan semua kasihnya untuk anaknya.

Ditanya perihal hadirnya bayi-bayi di yayasan ,Maggha mengatakan ada bayi yang diketemukan di sampah, di kardus dan tidak diketahui orangtunya. Oleh warga yang menemukan dilaporkan ke polisi, polisi merujuk ke rumah sakit. Dan, rumah sakit melaporkan ke dinas sosial. Selanjutnya dinas sosial akan mengarahkan ke yayasan.
“Selama ini kami juga bekerjasama dengan Dinas Sosial” katanya sambil menambahkan bahwa di yayasan konsepnya mereka bertumbuh ditengah keluarga, karena harapannya mereka nanti akan mendapatkan orangtua dan menjadi keluarga.

Mengenai adopsi, lanjut Maggha yang biasa disapa Cece ini, ada aturan. Ada beberapa yang mereka lengkapi. “Prosesnya juga tidak mudah, ada tahapan yang harus dilewati. Waktunya sekitar 8 bulan hingga setahun. Hampir sama dengan proses mengandung hingga melahirkan. Jadi, keliru kalau ada yang berpikir adopsi itu begitu datang langsung dapat bayinya,” tutur gadis pemenang Kick Andy Young Heroes 2019 ini.

Bersyukurnya, lanjut Maggha selama ini mereka yang mendapat anak dari yayasan sangat menyayangi mereka, karena sadar mendapatkannya tidak mudah. ”Semestinya memang begitu dan kami senang mendengarnya. Setelah adopsi, setiap dua minggu mereka mengirimkan perkembangan bayinya. Bahkan diantara mereka setelah sekolah ada yang menjadi ketua kelas. Mungkin ini karena mereka sudah terbiasa bertemu orang banyak, jadi percaya dirinya bagus,” katanya tersenyum.

Maggha pun berharap tak ada lagi orangtua yang menelantarkan bayinya, apalagi di jalan yang sangat penuh risiko jika terlambat tertolong bisa berpulang. Kalaupun sangat tidak mungkin merawat anaknya. jalan terakhir ya dititipkan. Lebih baik jika diserahkan ke yayasannya, maka iadan keluarga besar yayasan akan merawat mereka. (Sri Ardhini)

To Top