Style

Stri Bhuwana Swari (KCKB): Dukung Anjuran Ketua Dekranasda Provinsi Bali

cybertokoh.com – Masyarakat Bali apapun suku dan agamanya apapun swadarmanya mari bersama–sama melakukan dua tanggung jawab dalam urusan sandang di Pulau Bali. Bali diwariskan karya seni dari kerajinan yang sangat luar biasa keindahannya maupun kualitasnya. Begitu disampaikan Ny. Putri Koster, Ketua Dekranasda Provinsi Bali.

Menurutnya, adalah tugas kita untuk menjaga kelestariannya, dengan tetap bisa berkreativitas serta berkreasi mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Ia juga mengatakan, betapa sejak dahulu penglingsir kita sudah mandiri, berswadesi di bidang sandang. Tetua kita menanam kapas, lalu memintal benang, menenun kain dan akhirnya memakai dalam setiap kesempatan yang ada, baik sehari-hari maupun acara adat.

Sekarang tidak bisa bicara seperti dulu, kini hanya sibuk bicara tentang peningkatan kualitas, pemasaran, ekspor padahal tidak punya benang. Bahkan saat ini kain tenun tradisional yang namanya songket sedang menghadapi tantangan dengan hadirnya produk berteknologi tinggi, dibordir dan tidak ditenun Ini menjadi pesaing kain songket tradisional. Jika kita tidak alihkan penggunaannya niscaya cepat atau lambat konsumen akan berbondong-bondong beralih lebih suka memakai kain bordir bermotif songket lalu meninggalkan kain songket tradisional.

Menurut Bu Bara dan Bu Eva, dua sosok penggagas KCKB ini, Ny. Putri Koster juga menyampaikan jika hal tersebut bakal membawa berpengaruh yang besar pada pemasaran songket tenun cagcag termasuk juga kesejahteraan perajinnya. Karenanya Ny. Putri Koster mengajak semua pelaku pasar dari industrinya, pedagangnya maupun konsumennya untuk bersama-sama bijak menyikapi.

Ny. Putri Koster, kata Bu Eva berharap kain tenun bordir bermotif songket digunakan untuk busana dan diyakini akan menjadikan pemakainya tampil lebih elegan. Akan sangat sayang jika memotong kain tenun cag-cag. Masyarakat, termasuk anggota KCKB diberikan kemudahan dengan hadirnya kain bordir bermotif songket

“Ny. Putri Koster juga menekankan kalau kain tradisional kita pakai untuk wastra atau kamen ke acara adat maupun agama. Serta berharap ke depannya pedagang kain bordir bermotif songket tidak menjual dalam bentuk lembaran namun sudah menjadi busana siap pakai. Dan untuk ini, Dekranasda Provinsi Bali juga akan menyelenggarakan pameran khusus busana berbahan kain bordir bermotif songket,” tutur Bu Eva mengutip ucapan Ny. Putri Koster.

“Dengan melestarikan warisan leluhur ini, Ny. Putri Koster juga menyatakan bahwa masyarakat Bali sudah mendukung visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali menuju Bali Era Baru,” lanjut Bu Eva. Ia menambahkan  semua anjuran yang diucapkan Ketua Dekrannasda Provinsi Bali itu agar semua warga Bali semakin peduli pada kain tenun tradisional songket.

“Dan, kami Stri Buanaswari, Komunitas Cinta Kain Bali, siap bergerak bersama mendukung dengan tindakan nyata. Telah mengenakan tenun songket di berbagai kesempatan. Gerakan Ibu Ketua Dekranasda Provinsi Bali demi lestarinya kain tenun Bali asli sebagai kerajinan Bali yang dikagumi dunia. Semoga dengan demikian para perajinnya juga berjaya. Kami KCKB komit untuk memakai dan mencintai kain tenun Bali juga songket,” tegas Bu Bara. (Sri Ardhini)

To Top