Bunda & Ananda

Tanamkan Sopan Santun sejak Dini

cybertokoh.com – Pola asuh berpengaruh besar pada karakter. Hal itu diyakini sekali oleh Astrid Tiar, artis cantik yang memiliki dua anak perempuan, Annabel (7) dan Isabel (4). Pembentukan karakter anak sejak usia dini dan dimulai dari keluarga. Tugas orangtua adalah meletakkan dasar-dasar yang baik pada anak lewat pengajaran juga memberi contoh.

Orangtua, kata Astrid, bukan hanya sekadar berbicara tapi memberi contoh keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. “Menurut aku memberi contoh lebih efektif dalam pengajaran. Karena anak-anak lebih suka melihat daripada mendengar,” tutur Astrid yang menginginkan anak-anaknya memiliki karakter yang kuat, takut akan Tuhan, berakhlak baik.

Sopan-santun misalnya, itu hal yang sejak dini diajarkan kepada anak-anaknya. Itu harus dibiasakan. Misalnya, mengajarkan anak menghargai orang lain, mengucapkan tolong jika ingin meminta bantuan pada orang lain, mengucapkan terima kasih, juga mengucapkan maaf khususnya jika melakukan kesalahan, dan ucapan-ucapan lain yang terkait sopan-santun dan etika.

“Mungkin ini dianggap hal-hal kecil ya, tapi aku mengajarkan itu kepada mereka sejak dini. Bagiku itu penting sekali, dan harus dibiasakan sejak dini. Kalau soal pintar, cerdas, itu kan bisa diasah. Tapi menanamkan sopan-santun, etika, dan pendidikan lain berkaitan dengan akhlak, itu harus dimulai sejak mereka usia dini sekali,” kata wanita cantik bernama lengkap Astrid Tiar Yosephine Panjaitan ini.

Pola asuh yang diterapkan pada anak-anaknya, menurut Astrid, selain dari mempelajari pola asuh yang diterapkan orangtuanya, juga dari berbagai referensi seperti dari buku dan lain-lain. Dalam mendidik, dia juga mengombinasikan otoriter dan kebebasan.

“Tergantung situasinya. Jadi sebagai orangtua ada saatnya bersikap otoriter tapi ada saatnya membebaskan sesuai kemauan anak. Jadi tergantung situasinya, tempatnya, kondisinya. Misalnya soal penggunaan gadget, mereka boleh menggunakan tapi ada jadwal dan batasnya, yakni hari Sabtu dan Minggu masing-masing selama 30 menit. Di situ mereka bisa main games atau nonton youtube. Itupun didampingi,” ujarnya.

Ia bermaksud agar mereka bisa bersosialisasi atau mengembangkan kreativitas mereka dengan mainannya atau menggambar, mewarnai.  “Aku memang sengaja membatasi gadget. Aku tidak ingin anak jadi terbiasa pegang gadget. Menghabiskan banyak waktunya untuk itu. Mungkin karena sudah terbiasa, anak-anak tidak komplain soal gadget,” tambah  Astrid yang bersuamikan seorang dokter bedah.

DUA KARAKTER YANG BERBEDA

Bercerita tentang putri sulungnya, Astrid tampak antusias. Annabel, tumbuh menjadi anak yang cerdas dan kritis dan menyukai seni, khususnya musik. Sedang anak keduanya, Isabel sepertinya, kata Astrid, mirip dengannya yang aktif dan tomboy.

“Melihat Isabel seperti melihat diri sendiri. Persis mamanya dulu. Tomboy. Sukanya permainan Sega street fighter, haha. Isabel hobi otak-atik. Misalnya sepeda yang tadinya bener jadi nggak bener. Dipretelin sama dia. Suka otak-atik elektronik. Kalau kakaknya, Annabel, suka boneka barbie, menari, musik,” tuturnya.

Sebagai orangtua, dia menerapkan ketegasan juga kedisiplinan kepada kedua anaknya. Ketegasan yang dimasud bukan berarti galak namun lebih kepada menegakkan apa yang diajarkan kepada anak-anaknya. Kalau diperlukan, tutur Asrid, dia akan menghukum anak-anaknya.

“Hukumannya, misalnya, menyetrapnya dengan cara menjewer kupingnya sendiri dan berdiri dengan satu kaki. Hanya sebentar, tapi itu sangat berefek pada anak. Mereka jadi tahu bahwa apa yang dilakukan adalah tidak baik atau salah,” tuturnya.

Sebagai contoh, ketika kedua anaknya bertengkar sampai pukul-pukulan. Astrid pun bertindak tegas. Setelah mengetahui duduk persoalannya, keduanya pun dihukum jewer kuping sendiri dan berdiri satu kaki.  “Setelah hukuman selesai, barulah keduanya diajak bicara dari hati ke hati. Keduanya pun bermaafan dan berpelukan,” tuturnya.

Dalam mendidik, kata Astrid, dia juga membangun budaya diskusi dengan anak-anaknya. Hal ini selain melatih mereka dalam mengutarakan apa yang dipikirkannya, juga untuk mengetahui latar belakang pemikiran mereka. Dari sana juga dijadikan Astrid sebagai kesempatan menanamkan nilai-nilai kehidupan, memberi nasihat sekaligus mengajarkan anak soal rasa tanggung jawab terhadap apa yang dilakukan.

Terkait minat anak, Astrid mengaku sebagai orangtua, dia memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk menekuni minatnya sepanjang hal itu merupakan suatu yang positif. Tapi tandasnya, pendidikan adalah yang utama. “Sebagai orangtua aku mendidik anak-anak menjadi kreatif, pintar dan  berbudi pekerti yang baik,“ ujarnya.

Mengajarkan arti kasih sayang kepada anak, tidak dapat dilakukan tanpa wujud kasih sayang itu sendiri. Peran orangtua dalam mengenalkan kasih sayang kepada anak adalah suatu hal yang penting. Karena dengan demikian kasih sayang akan tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan mereka. (Diana Runtu)

 

 

 

To Top