Sekitar Kita

Ini Makna Pisang dalam Banten

cybertokoh.com – Sosialisasi Nangun Sat Kerthi Loka Bali Wujudkan Bali Era Baru dilaksanakan di Wantilan Desa Adat Penarukan, Kerambitan digelar Selasa (28/1). Sosialisasi ini didukung Pemprov. Bali, Yayasan Dharma Naradha, Kelompok Media Bali Post, Sampoerna untuk Indonesia, dan APDB Provinsi Bali.

Acara juga diisi dengan pelatihan pembuatan banten dengan narasumber Ida Pedanda Giri Dwija Gunadari Griya Uma Ngenjung Angantaka, Badung.

“Peranda menjelaskan tentang banten Penyambutan. Masing-masing tempat mungkin memiliki upakara yang berbeda namun maknanya sama. Sesuaikan banten dengan kemampuan, jangan dipaksakan. Ada nista, madya, utama,” ungkapnya.

Ruth, warga Penarukan yang berasal dari Timor, dalam sosialisasi ini menanyakan makna banten penyambutan.

“Banten penyambutan merupakan bagian terpenting dari anak usia tiga bulan. Atma dan badan kasar lepas masuk. Ini masa paling rawan. Banten penyambutan untuk memanggil atmanya agar masuk ke raganya. Ditatab dan diikat benang. Agar atma menetap dan menghidupkan badan kasar,” jelas Ida Peranda Giri Dwija Guna.

Dalam kesempatan itu, Ida Pedanda juga menjelaskan mengapa pisang wajib ada dalam banten sedangkan buah lain tergantung kemampuan masyarakat. Namun, diingatkan untuk selalu menggunakan buah lokal.

“Pisang wajib ada karena mengacu dari makna pisang. Pohon pisang tidak akan mati sebelum berbuah. Begitu juga manusia. Semoga menjadi orang yang berguna atau bermanfaat bagi orang lain dan keluarga atau masyarakat,” ungkap Pedanda yang sering tampil di Bali TV sebagai narasumber program Upakara ini. (Ngurah Budi)

To Top