Metropolitan

Ojol Ingin Naik Tarif, YLKI: Belum Layak Dilakukan

cybertokoh.com – Tarif ojek online (ojol) kemungkinan akan berubah lagi. Padahal baru September 2019 lalu Kemenhub menaikkan tarif ojol.

Munculnya wacana kenaikan tarif ojol ini lantaran beberapa waktu lalu pasukan ojol ini mendemo Kementerian Perhubungan guna menuntut kenaikan tarif. Merespon hal tersebut, Kemenhub berjanji akan mengkaji hal tersebut.

Hal ini menjadi keheranan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. “Tarif angkutan umum yang resmi saja tidak semudah itu dinaikkan. Kenapa untuk tarif ojol yang nota bene bukan angkutan resmi malah akan dievaluasi per 3 bulan,” kata Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Tulus Abadi.

YLKI berpendapat, kenaikan tarif ojol belum layak dilakukan. Pertimbangannya, salah satunya adalah, besaran kenaikan pada September 2019 sudah signifikan dari tarif batas atas yakni Rp 2500/km untuk batas atas, dan Rp 2000/km untuk batas bawah. Tarif minimal Rp 8000-10.000 untuk jarak minimal.

“Formulasi tarif tersebut sudah mencerminkan tarif yang sebenarnya, sesuai biaya pokok, plus margin profit yang wajar,” ujarnya.

Jika sekarang ini driver merasa pendapatannya turun atau rendah, kata Tulus, itu bukan karena banyaknya tarif promo yang diberikan oleh pihak ketiga. Promo tidak dilarang tapi harusnya tidak boleh melewati ketentuan tarif batas bawah.”Hal ini yang seharusnya diintervensi Kemenhub, bukan melulu kenaikan tarif,” ucapnya.

Seharusnya, Kemenhub tidak terlalu fokus dengan masalah ojol tetapi meminggirkan fungsi utamanya agar mendorong masyarakat menggunakan angkutan umum massal, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta.

Karena itu YLKI menolak wacana Kemenhub untuk menaikkan tarif ojol karena sangat tidak fair bagi kepentingan konsumen. YLKI juga meminta Kemenhub merevisi ketentuan pentarifan ojol yang bisa dievaluasi per 3 bulan menjadi per 6 bulan sekali. (Diana Runtu)

To Top