Edukasi

Intimidasi Picu Bunuh Diri

cybertokoh.com – Beberapa waktu belakangan, masyarakat diresahkan dengan berbagai pemberitaan di media massa mengenai kasus bunuh diri. Bunuh diri merupakan percobaan seseorang untuk menyakiti atau mengakhiri hidupnya sendiri. Situasi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, misalnya depresi, dampak dari penyalahgunaan obat, atau masalah dalam kehidupan.

Dari segi psikis, Dewa Ayu Puteri Handayani, S.Psi.,M.Sc., mengatakan dari penelitian yang dilakukan oleh tokoh-tokoh psikolog, bunuh diri secara garis besar disebabkan oleh dua faktor yaitu keinginan atau hasrat untuk melakukan tindakan tersebut dan kemampuan untuk melakukannya. Keinginan atau hasrat untuk melakukan percobaan bunuh diri diakibatkan karena seseorang merasa menjadi beban untuk orang lain, seseorang merasa terasingkan dari suatu komunitas atau kondisi sosial, ataupun karena seringnya merasa tersakiti sehingga beranggapan bahwa dirinya layak untuk disakiti dan menganggap sakit itu adalah hal yang biasa. “Keadaan di mana seseorang terlalu sering merasakan sakit membuat keinginan bunuh diri semakin besar,” jelasnya.

Psikolog sekaligus akademisi di Undiksha Singaraja ini mengatakan maraknya kasus bunuh diri yang terjadi dapat disebabkan oleh bullying. Intimidasi terhadap seseorang akan memberi korelasi yang besar terhadap psikis orang tersebut. Tekanan dari berbagai hal juga dapat memicu keinginan untuk bunuh diri seperti keluarga, pekerjaan maupun lingkungan sosial. Selain itu, rasa percaya diri juga memiliki pengaruh terhadap keinginan tersebut. “Setiap orang memiliki rasa percaya diri yang berbeda, kepercayaan diri yang rendah  akan semakin besar terkena dampak dari tekanan-tekanan di masyarakat,” paparnya.

Dosen di Prodi Pendidikan Guru PAUD Undiksha ini mengatakan usia remaja adalah usia yang paling rentan mengalami kasus-kasus bunuh diri. Di masa remaja identik dengan masa storm and stress sehingga remaja mulai mengalami konflik dengan mulai berani mengambil risiko atas perbuatannya. “Mood swing atau perubahan mood yang cepat membuat remaja ini dengan mudah terpengaruh dengan lingkungannya,” tambahnya.

Dari kasus-kasus yang pernah terjadi, Puteri menambahkan bahwa tidak ada pengaruh tingkat pendidikan maupun ekonomi terhadap keinginan untuk melakukan bunuh diri. “Belum tentu orang yang tidak punya uang akan bunuh diri, ini sangat subjektif sekali, kalau pun ada beberapa kasus bunuh diri yang disebabkan oleh ekonomi tetapi kita tidak bisa menyimpulkan bahwa kedua hal itu bisa menjadi faktor penyebab bunuh diri,” tandasnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan untuk menekan angka bunuh diri dengan melakukan kontrol pemberitaan kasus-kasus bunuh diri di media massa. Sebaiknya identitas korban diinisialkan dan tidak disebutkan secara gamblang. Bahkan pihaknya berharap media di Indonesia dapat mencontoh media-media asing untuk tidak mengekspos berita-berita negatif. “Sebaiknya kasus-kasus negatif tidak dipublikasikan karena akan membuat masyarakat pesimis dengan negaranya, hal ini akan membuat masyarakat tidak memiliki optimisme dan tidak akan mencoba berubah ke arah yang lebih baik,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

 

To Top